Sosok Suci Ramliah, yang dikenalย  sebagai Fairlyn, bukan sekadar model atau desainer. Ia adalah seorang visual storyteller yang menjadikan fashion sebagai medium untuk membangun dunia penuh emosi, karakter, dan fantasi.

Perjalanan kariernya tidak dimulai dari catwalk atau kamera, melainkan dari kecintaannya terhadap seni bercerita melalui pakaian. Dalam wawancara ini, Fairlyn mengungkap bagaimana ia membangun jembatan antara dunia nyata dan dunia fantasi lewat modeling, desain, dan konten visual yang khas.

Bisa diceritakan bagaimana awal mula terjun ke dunia modeling dan fashion?

Awal mula saya terjun ke dunia fashion dan modeling sebenarnya berangkat dari ketertarikan yang sudah lama saya miliki terhadap fashion. Saya punya latar belakang pendidikan di bidang fashion design, dan dari situ saya mulai mengembangkan sensitivitas terhadap warna, tekstur, dan cara bercerita melalui pakaian.

Saat saya datang ke Korea, saya jadi lebih aktif mengekspresikan diri lewat gaya berpakaian pribadi dan membagikannya dalam bentuk konten visual. Ternyata, banyak orang mulai memperhatikan gaya saya dan mengenali karakter saya lewat media sosial. Dari situ, beberapa teman menyarankan untuk mencoba modeling karena mereka melihat saya punya visual sense yang kuat dan pembawaan yang khas di depan kamera.

Pengalaman di dunia fashion design dan proses membangun identitas visual saya sendiri benar-benar membentuk gaya saya sebagai model. Sampai sekarang pun, saya masih membawa cara pandang itu ke setiap pemotretan dan project visual. Baik dalam pemilihan outfit, konsep, maupun storytelling

Apa yang memotivasi Anda untuk menjadi seorang fashion desainer, selain sebagai model dan influencer?

Fashion bagi saya bukan sekadar soal pakaian, tapi cara untuk menyampaikan cerita dan membangun karakter. Sejak awal saya belajar fashion design, saya sudah terbiasa melihat pakaian sebagai media ekspresi visual, sama seperti seni.

Motivasi terbesar jadi fashion desainer adalah keinginan untuk menciptakan sesuatu yang punya makna dan identitas. Saya suka menggabungkan unsur fantasi, detail yang puitis, dan siluet yang menggambarkan sisi mimpi atau dunia dongeng. Meskipun sekarang lebih fokus ke dunia modeling dan konten visual, dorongan untuk merancang itu tetap ada dan justru saya bisa menuangkannya lewat konsep outfit dan moodboard yang saya bawa ke tiap pemotretan.

Jadi, buat saya fashion design itu bukan profesi yang terpisah dari modeling atau visual, tapi bagian dari satu bahasa artistik yang sama. Semuanya saling menyatu dan memperkuat satu sama lain.

Apakah ada sosok yang menginspirasi perjalanan karier Anda di dunia fashion?

Ada beberapa sosok yang menginspirasi saya, tapi bukan hanya dari dunia fashion saja. Saya terinspirasi oleh seniman, fotografer, hingga karakter-karakter fiksi yang punya keunikan visual dan narasi kuat. Saya suka ketika seseorang atau suatu karya mampu membangun dunia mereka sendiri, seolah-olah mereka punya universe tersendiri yang konsisten, kuat, dan berkarakter.

Dalam fashion, saya banyak belajar dari desainer yang menggabungkan storytelling dan imajinasi dalam karyanya. Bukan hanya tentang siluet atau teknik, tapi bagaimana mereka menciptakan suasana dan membawa emosi ke dalam busana. Itu hal yang selalu saya kagumi dan coba wujudkan juga di karya visual saya.

Selain itu, saya juga banyak terinspirasi dari pengalaman pribadi dan orang-orang di sekeliling saya, terutama mereka yang percaya pada potensi saya sejak awal. Dukungan kecil seperti itu justru yang paling mendorong saya untuk terus berproses dan berkembang.

Apa filosofi di balik nama “Fairy Tale Boutique”?

Nama Fairy Tale Boutique lahir dari keinginan untuk menciptakan dunia fashion yang terasa seperti dongeng, bukan hanya indah secara visual, tapi juga membawa rasa, suasana, dan cerita. Sejak awal, saya ingin setiap desain dan visual yang saya buat punya sentuhan fantasi, sesuatu yang membawa orang keluar dari realita sesaat dan masuk ke dalam dunia yang lebih dreamy dan magis.

Buat saya, fashion itu bukan cuma soal fungsi, tapi juga pengalaman emosional. Saya ingin orang yang memakai atau melihat karya saya merasa seperti sedang menjadi bagian dari cerita mereka sendiri, entah itu sebagai karakter utama dalam dongeng, atau seseorang yang sedang menjalani momen spesial dalam hidup mereka. Jadi, nama itu bukan sekadar label, tapi gambaran dari visi kreatif saya: membawa imajinasi ke dunia nyata lewat fashion dan visual

Seperti apa konsep dan gaya fashion yang diusung oleh Fairy Tale Boutique?

Konsep utama dari Fairy Tale Boutique adalah menghadirkan nuansa fantasi yang lembut, dreamy, dan punya sentuhan elegan. Saya banyak terinspirasi dari elemen dongeng, cerita klasik, dan dunia imajinatif yang bisa membangkitkan perasaan nostalgia, harapan, atau sisi personal seseorang. Tapi, saya juga ingin semua itu terasa modern dan tetap wearable untuk momen spesial.

Dari segi gaya, saya suka menonjolkan siluet feminin yang ringan dan detail yang romantis seperti lace, ruffle, sheer fabric, atau aksen mutiara. Tapi bukan hanya soal โ€œcantikโ€ secara tampilan, saya juga memperhatikan storytelling dari setiap look yang saya buat. Jadi ketika orang melihat atau mengenakan koleksinya, mereka bisa merasa seperti sedang menjalani cerita mereka sendiri.

Konsep ini juga tercermin di foto-foto saya, baik saat campaign maupun editorial. Setiap styling yang saya buat itu punya karakter dan narasi visual tersendiri, nggak cuma sekadar outfit.

Apa yang membedakan Fairy Tale Boutique dari brand fashion lainnya di pasaran?

Yang membedakan Fairy Tale Boutique adalah pendekatannya yang sangat personal dan berbasis pada storytelling visual. Setiap desain atau styling yang saya buat tidak cuma mengikuti tren, tapi fokus pada menciptakan suasana, nuansa yang membawa orang ke dunia fantasi mereka sendiri.

Buat saya, fashion itu lebih dari sekadar baju. Dia bisa jadi sarana untuk menyampaikan emosi, imajinasi, bahkan mimpi seseorang. Makanya, saya banyak bermain dengan detail seperti siluet lembut, tekstur romantis, dan pilihan elemen yang punya daya imajinatif.

Karena saya juga cukup terlibat dalam proses kreatif konten visualnya, termasuk styling dan mood yang ingin dibangun, hasil akhirnya jadi punya karakter khas yang kuat. Orang bisa mengenali sentuhan โ€œFairlynโ€ bahkan dari cara saya memadukan elemen-elemen sederhana menjadi sesuatu yang terasa lebih magis

Bagaimana Anda memadukan unsurย  fantasi dalam desain fashion?

Unsur fantasi dalam gaya saya muncul lewat detail yang penuh karakter. Seperti pemilihan bahan transparan, tekstur ringan, aksen lembut, dan permainan siluet yang unik. Saya suka membangun nuansa dreamy yang tidak berlebihan, tapi tetap punya kesan manis dan personal. Inspirasi saya banyak datang dari cerita-cerita fiksi, ilustrasi vintage, dan dunia visual yang punya sentuhan nostalgia. Saya juga sering membayangkan tokoh-tokoh fiktif saat membangun sebuah look, seolah mereka hidup dalam cerita tertentu dan saya hanya menerjemahkannya lewat outfit.

Sentuhan fantasi ini terus saya bawa dalam konsep pemotretan dan styling saya sekarang. Buat saya, fashion bukan cuma soal pakaian, tapi juga soal suasana dan rasa yang bisa ditangkap dari sebuah visual.

Siapa target utama dari koleksi Fairy Tale Boutique?

Target utama dari koleksi Fairy Tale Boutique adalah individu yang menyukai fashion sebagai bentuk ekspresi diri, khususnya mereka yang tertarik dengan nuansa dreamy, romantis, dan penuh imajinasi. Saya membayangkan mereka sebagai orang-orang yang tidak tsayat tampil beda, yang senang menjadikan pakaian sebagai media untuk bercerita atau membangun suasana.

Gaya Fairy Tale Boutique memang lebih banyak menyentuh sisi personal dan artistik, jadi banyak juga yang menggunakannya untuk editorial photoshoot, event spesial, atau sekadar ingin tampil dengan sentuhan fantasi dalam keseharian mereka.

Karakter mereka tidak harus feminin, tapi lebih ke arah individualistik, mereka yang percaya bahwa berpakaian bisa menjadi pengalaman visual dan emosional.

Apa proses kreatif yang Anda jalani saat menciptakan sebuah desain?

Proses kreatif saya selalu dimulai dari membangun suasana, saya membayangkan emosi atau dunia seperti apa yang ingin saya hadirkan lewat desain itu. Kadang saya mulai dengan menciptakan cerita fiktif dalam kepala, lalu membayangkan seperti apa karakter di cerita itu akan berpakaian. Dari situ, saya mulai mengumpulkan referensi visual, mulai dari potongan siluet, tekstur kain, tone warna, sampai detail kecil seperti aksesoris atau riasan.

Setelah itu, saya biasanya membuat moodboard kecil entah dalam bentuk digital atau sekadar kolase manual di sketchbook. Saya akan bereksperimen dengan layering, bahan, atau bahkan elemen visual yang tidak biasa, untuk melihat bagaimana semuanya bisa โ€œberbicaraโ€ satu sama lain secara visual.

Buat saya, desain yang bagus bukan hanya tentang bentuk atau fungsi, tapi tentang bagaimana dia menyampaikan rasa dan cerita tertentu. Saya selalu mencoba untuk menjaga agar setiap karya punya pesan emosional, walaupun tidak disampaikan secara eksplisit.

Bagaimana Anda menyesuaikan desain agar tetap relevan dengan tren mode saat ini tanpa kehilangan ciri khas?

Buat saya, tren adalah referensi, bukan aturan. Jadi waktu menciptakan desain atau konsep visual, saya tetap mengikuti perkembangan tren sebagai bagian dari riset, tapi saya tidak menjadikan tren sebagai satu-satunya acuan. Yang paling penting adalah mempertahankan identitas visual saya sendiri nuansa dreamy, sentuhan nostalgia, dan storytelling yang khas

Kadang saya mengambil elemen dari tren tertentu, misalnya warna yang sedang populer atau siluet yang sedang banyak digunakan, lalu saya olah dengan pendekatan yang lebih personal. Jadi meskipun hasilnya mungkin tidak sepenuhnya โ€œon trendโ€, tetap ada jembatan yang menghubungkan karya saya dengan apa yang sedang terjadi di dunia mode sekarang.

Saya percaya bahwa yang membuat sebuah karya bertahan bukan karena ia mengikuti tren, tapi karena ia punya rasa. Dan rasa itu datang dari kejujuran visual dan konsistensi dalam cara bercerita.

Apa harapan atau rencana Anda ke depannya dalam dunia fashion dan modeling?

Harapan saya ke depannya adalah terus menjadikan dunia fashion dan modeling sebagai ruang ekspresi yang menyatu. Buatku, modeling dan fashion design bukan dua hal yang terpisah, keduanya justru saling melengkapi dan membentuk identitasku sebagai visual storyteller.

Meskipun saya tidak lagi aktif merancang koleksi baru untuk saat ini, latar belakangku sebagai fashion designer tetap hidup dalam setiap proses kreatif yang saya jalani di dunia modeling. Mulai dari pemilihan outfit, warna, konsep pemotretan, sampai nuansa cerita yang ingin dibangun, semuanya tetap berasal dari cara pandang seorang desainer.

Saya ingin terus mengembangkan ruang ini ruang di mana fashion bukan sekadar tren, tapi sarana untuk menyampaikan karakter, emosi, dan cerita. Baik lewat modeling, kolaborasi visual, maupun creative direction, saya ingin terus menghadirkan karya yang punya identitas kuat dan terasa personal.

Buat saya, menjadi model bukan cuma soal berdiri di depan kamera tapi tentang bagaimana menyampaikan rasa dan cerita lewat setiap elemen visual. Dan di situlah fashion, desain, dan modeling menyatu menjadi satu bahasa yang saya pakai untuk bercerita.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: