Dalam dunia mode yang terus berkembang, busana tak lagi sekadar pelindung tubuh ia menjadi medium untuk menyampaikan pesan, nilai, dan identitas.

Di balik label Jan Ayu, ada semangat untuk merawat warisan budaya dan menyelamatkan para perajin dari ancaman punahnya warisan kain tapis. Kabari berbincang panjang lebar dengan pendirinya, Linda Soedibyo, tentang filosofi, perjuangan, dan harapannya terhadap wastra Lampung ini.

Apa yang melatarbelakangi berdirinya Jan Ayu?

Keyakinan membangun Jan Ayu tumbuh diawali dari perbincangan dengan seorang sahabat yang menceritakan kebanggaaannya atas koleksi tapis di keluarganya yang berusia lebih dari 40 tahun. Kepemilikannya bisa turun temurun, yang biasanya digunakan untuk pelaksanaan upacara-upacara adat.

Dari perbincangan tersebut secara cepat saya terpikir, jika dalam 1 keluarga memiliki 2-4 tapis tapi dimiliki oleh sebuah keluarga hingga turun temurun dan hanya digunakan untuk upacara adat itu berarti permintaan akan kain tapis sangatlah terbatas.  Jika hal itu terjadi (permintaan terbatas), muncul pertanyaan: bagaimana perajin tapis bisa bertahan hidup?

Dari sini muncullah pertanyaan lanjutan: Bagaimana membuat permintaan tapis meningkat agar perajin bisa bertahan (hidup)? jawaban cepat yang muncul adalah perlu membuat tapis menjadi kebutuhan sehari-hari. Pilihannya adalah mengaplikasikan tapis pada kebutuan sehari-hari, seperti fashion, aksesoris atau home dekor. Dan Jan Ayu saat ini memilih untuk mengaplikasikan tapis sebagai busana ready to wear dengan harapan permintaan akan tapis meningkat- dan lebih jauh dapat meningkatan pendapatan para perajin tapis karena miningkatnya permintaan Tapis. 

Apa filosofi dibalik nama Jan Ayu ?

Nama Jan Ayu  berasal dari Bahasa Jawa. Kata Jan berarti tangga sementara Ayu berarti cantik. Jan Ayu  berarti tangga menuju cantik.  Nama adalah doa. Kami berharap Busana Jan Ayu akan semakin menegaskan kecantikan yang dimiliki para sahabat Jan Ayu (customer), dan bisa menambah kepercayaan diri.

Apa visi misi utama Jan Ayu dalam mengenalkan kain Tapis Lampung?

Memiliki visi yang tertuang dalam tag line: “Merawat tradisi Menjaga Bumi”. Dalam melaksanakan  kerja-kerjanya Jan Ayu memegang 3 prinsip utama (kata kunci): 1) Tradisi- Wastra adalah cara bertutur perempuan untuk menyampaikan nilai nilai kebaikan/kearifan lokal kepada generasi mendatang sehingga harus dilestarikan. Oleh sebab itu rancang busana Jan Ayu sejauh mungkin ditujukan sebagai upaya melestarikan tradisi baik yang telah ada turun temurun.

2) Inovasi. Tradisi akan Lestari hanya jika ia relevan dengan perkembangan zaman. Oleh sebab itu membuat inovasi adalah kunci bagaimana sebuah tradisi (dalam hal ini wastra) yang identik dengan kuno bisa dirancang sedemikian rupa menjadi busana yang kekinian.

 3) Kolaborasi. Mimpi belumlah besar jika semua masih bisa dilakukan sendiri. Jan Ayu tidak hanya sekedar menjual baju, tapi sebuah misi untuk terus merawat-menggaungkan nilai-nilai tradisi (melalui wastra). Sebuah misi yang tidak membutuhkan waktu sebentar. Dan dalam hal ini Jan Ayu juga meyakini jika berjalan sendiri mungkin kita akan lebih cepat melangkah, tapi dengan berjalan bersama kita akan bisa bertahan lebih lama.

Mengapa Jan Ayu  memilih untuk fokus pada kain Tapis Lampung dibanding jenis kain tradisional lain?

Jan Ayu lahir di Lampung sudah selayaknya turut menjaga wastra Lampung. Selain itu, tapis adalah salah satu wastra yang memiliki keunikan tersendiri. Jika kain songket maupun tenun dibuat dalam satu tahap proses penenunan, Tapis setidaknya dilakukan melalui dua tahapan; menenun dan menyulam.

Jika Batik berasal dari seluruh daratan pulau Jawa-Madura, songket menjadi tradisi wastra seluruh Masyarakat melayu di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, tenun di Jawa, Bali  dan Nusa Tenggara  maka Kain Tapis hanya ada di Provinsi Lampung. Oleh sebab itu menjadi penting untuk turut menjaga dan melestarikan tradisi wastra berupa kain tapis.

Bagaimana cara Jan Ayu menjaga keaslian motif dan teknik pembuatan Tapis lampung?

Sejauh ini Jan Ayu masih konsisten menerapkan teknis tapis sebagaimana aslinya, yaitu di sulam secara manual menggunakan tangan (Hand made- bukan bordir) sementara untuk menjaga kelestarian motif asli, selain menggunakan motif-motif yang masih umum digunakan, Jan Ayu juga melakukan penelusuran, mencari sumber-sumber yang dapat menyajikan informasi motif kuno/lama seperti malalui literatur maupun yang ada di museum-museum( termasuk di luar negeri).

Apa tantangan terbesar dalam melestarikan dan memodernisasi kain Tapis?

Melestarikan sekaligus memodernisasi tentu dibutuhkan inovasi-inovasi, tantangan terbesarnya adalah bagaimana mempertemukan ide-ide terbarukan dari tapis agar bisa diterima oleh publik sebagai busana yang keren-modern, namun tetap menjaga nilai-nilai, karakter dan kekhas-an wastra tapis

Apakah Jan Ayu bekerjasama langsung dengan perajin lokal Lampung?

Iya. Sejauh ini Jan Ayu  memiliki mitra perajin tapis yang ada di seputar kota metro, Lampung. Selain pekerjaan mereka saat tidak tanam padi adalah menapis, para mitra saat ini sudah bisa mudah menterjemahkan motif dan aksen tapis yang didesain/diinginkan oleh Jan Ayu .

Seperti apa proses produksi kain Tapis hingga menjadi produk jadi di bawah label Jan Ayu?

Ada dua pendekatan yang dilakukan Jan Ayu dalam produksi busana menggunakan tapis. 1) membuat desain baju, menjahitnya baru kemudian tapis sebagai akses busana di sulam diatas busana yang sudah jadi.  2) Membuat tapis terlebih dahulu dalam lembaran-lembaran kain tenun, baruu kemudian di pola dan dijadikan busana.

Apa saja jenis produk ysang dikembangkan Jan Ayu dari kain Tapis (busana, aksesoris, home décor)?

Sejauh ini Jan Ayu  lebih banyak mengembangkan produksi busana ready to wear dan beberepa pelengkap/aksesoris berupa tas, obi, spatsus.

Seberapa besar perhatian Jan Ayu  terhadap aspek keberlanjutan (sustainability) dalam proses produksi?

Berbicara tentang sustainability dalam hal ini sustainable fashion tidak terlepas dari adanya tiga pilar: people, planet, profit. Selain tujuan profit agar Jan Ayu  bisa tetap hidup, ada beberapa hal yang menjadi perhatian Jan Ayu:

Kesadaran tentang sustainable fashion diawali dari pengetahuan bahwa fast fashion adalah salah satu penyumbang limbah terbesar. Sehingga Jan Ayu  memilih untuk memproduksi dan mengkampanyekan slow fashion sebagai alternatif. Produksi hand made yang membutuhkan proses yang lebih lama, kualitas yang lebih baik dan desain-desain busana yang long lasting diharapkan akan berkontribusi mengurangi kecepatan sebuah busana berakhir di TPA (Tempat pembuangan akhir).

Pemanfaatan perca sebagai aksen busana- juga merupakan salah satu wujud komitmen Jan Ayu  dalam upaya mengurangi limbah fashion.

Bersama komunitas fashion kota Metro menggelar kampanye slow fashion melalui gelaran fashion show bertajuk SAY WAWAY (SAY no WAste is our WAY) yang dilakukan setiap tahun sekali dimana desainer partisipan selain didorong untuk mencipta karya fashion menggunakan wastra, memanfaatkan perca, mendesaian busana yang minim cutting dan atau menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan.

Terakhir tentu saja, dalam kaitannya dengan pilar (people) – keadilan sosial. Jan Ayu  sejauh mungkin melibatkan mitra perempuan dalam menjalankan kerja-kerjanya. Diharapkan perempuan-perempuan mitra mendapatkan penghasilan tambahan yang selain dapat membantu ekonomi keluarga juga bisa menjadi tempat bagi perempuan untuk mewujudkan ‘karsa’-nya.

Apa respon pasar terhadap produk Jan Ayu  sejauh ini?

Butuh waktu bagi Jan Ayu  untuk dapat diterima pasar. Beberapa kali uji pasar untuk melihat niece /ceruk mana yang tepat dan Alhamdulillah saat ini Jan Ayu  telah menemukan segmennya.

Inovasi Jan Tapis (Tapis menggunakan benang bukan emas) awalnya kurang diterima di pasar Lampung, tapi justru bisa lebih cocok dan diterima oleh konsumen di luar lampung. Namun saat ini pasar di Lampung sudah mulai menerima Jan Ayu .

Apa harapan Jan Ayu  terhadap masa depan kain tapis dan industri wastra Indonesia secara keseluruhan?

Tentu saja harapannya kain Tapis dan busana menggunakan Tapis bisa semakin diterima oleh masyarakat di luar Lampung (termasuk manca negara)  sehingga permintaan semakin besar dan bisa memberi manfaat bagi banyak perajin yang mayoritas adalah perempuan. Sehingga lebih jauh istilah perempuan berdaya bisa mewujud hingga pelosok desa.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: