Kamila Batavia, penyanyi dan penulis lagu asal Jakarta yang menetap di Hamburg, baru saja menuntaskan tur internasional untuk mempromosikan debut EP The Scent of Camellias.  Membawa persona “The Princess of Batavia”, ia tampil di Hamburg, Jakarta, Tangerang, hingga Cologne dengan sajian musik baroque-pop ethereal berpadu puisi puitis.

Tur ini bukan sekadar rangkaian konser, tetapi juga perjalanan batin yang ia sebut sebagai jembatan antara dua benua. Independensi Kamila dalam menggelar tur tanpa dukungan label menjadi bukti dedikasi dan kemandirian tangguh dalam membangun karir musiknya. Bersama Kabari, Kamila akan bincang panjang lebar mengenai tur internasional yang pertama kali dilakukannya ini.

Apa motivasi utama dalam menyelenggarakan tur internasional kali ini?

Motivasi utama saya sederhana yaitu membawa cerita dan lantunan dari Sang Putri Batavia ke panggung-panggung di dua benua yang saya sebut rumah, Indonesia dan Jerman. Saya ingin menunjukkan bagaimana akar budaya saya di Indonesia dan pengalaman hidup saya di Jerman berpadu dalam musik. Tur ini jadi cara saya berbagi perjalanan pribadi dengan penikmat musik yang menghargai kedalaman puitis.

Tur ini dimana saja? Kapan waktu turnya? Adakah tagline dari turnya ini?

Turnya berlangsung dari Mei sampai Agustus 2025 di Hamburg, Jakarta, Tangerang, dan Cologne. Tagline-nya: “Where poetry walks in armor and melody holds the sword.” Itu gambaran bagaimana musik saya berbalut nuansa kerajaan. Puisi dan melodi yang berjalan bersama seperti seorang ksatria yang setia pada kerajaannya.

Bagaimana proses persiapan tur ini, mulai dari pemilihan negara hingga konsep pertunjukan?

Saya bekerja sama dengan PPI Hamburg, media partner di Indonesia, dan pemilik kafe di Cologne. Karena tur ini independen tanpa label, saya harus memegang banyak peran sendiri, dari leader sampai PR manager. Konsep panggung saya ambil dari persona musik saya: ada yang berbentuk storytelling dongeng, ada yang dengan minus one, ada juga stripped-down dengan piano dan kolaborasi dengan violinist dan guitarist. Jadi setiap panggung punya warna sendiri.

Apakah tur internasional ini kali perdananya dilakukan? Diantara kota yang didatangi manakah yang paling berkesan? Kenapa berkesan?

Ya, ini tur internasional pertama saya, dan yang paling berkesan adalah Cologne. Kotanya sendiri punya aura megah dengan katedralnya yang jadi UNESCO heritage. Di Meramanis Coffee, saya merasa benar-benar diterima. Setelah tampil, lagu-lagu saya terus diputar di kafe dan poster tur saya dipajang di sana. Itu momen yang sederhana tapi sangat manis, dan bikin saya merasa dihargai apa adanya.

Dalam turnya apakah lagu-lagunya sama di setiap konsernya? Tur pasti lelah, bagaimana cara menjaga stamina agar tetap prima dalam konser?

Setiap konser saya pasti bawakan lagu-lagu dari EP The Scent of Camellias. Tapi supaya lebih hidup, saya selipkan cover yang mencerminkan persona saya, seperti “Moon River” (Henry Mancini) atau “The Chain” (Fleetwood Mac). Di Cologne, saya juga perdana bawakan lagu unreleased, “Tayomi”.

Soal stamina, memang capek, tapi selalu terbayar dengan energi dari audiens. Cara saya jaga badan: tidur cukup, jalan di taman, nulis jurnal, dan tentu saja teh hangat favorit saya.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi dalam mempersiapkan tur internasional ini?

Tantangan terbesarnya adalah mengerjakan semuanya sendiri: dari mengatur jadwal, mengurus finansial, sampai promosi. Kadang memang terasa berat, tapi justru di situ saya belajar konsistensi dan ketangguhan. Sisi baiknya, saya punya kebebasan penuh untuk menunjukkan identitas saya sebagai The Princess of Batavia tanpa kompromi.

Adakah pengalaman menarik atau berkesan selama tur yang bisa di-sharing?

Yang paling berkesan adalah perasaan semakin jauh saya melangkah, semakin dekat saya dengan diri sendiri. Saya belajar menghargai perjalanan ini dengan lebih lembut. Selain itu, support dari sesama musisi indie benar-benar bikin terharu. Salah satu teman musisi, Hapsara, bahkan rela meminjamkan keyboard-nya untuk saya selama di Indonesia. Itu hal kecil tapi berarti sekali, dan bikin saya merasa nggak sendirian.

Rencana ingin melakukan tur dunia lainnya di masa depan?

Pasti ada. Saya ingin terus membawa karya saya ke lebih banyak panggung, baik di Eropa maupun Indonesia. Salah satu impian saya adalah bisa masuk line-up festival besar, entah itu Primavera Sound, Roskilde, atau LaLaLaFest. Jadi semoga langkah ini jadi awal menuju sana.

Sumber Foto: istimewa

Baca Juga: