Di usia yang masih sangat muda, Zara Maharani Khalisha Ariana telah memperoleh berbagai prestasi nasional maupun internasional, khususnya di bidang akademik, literasi, sains, hingga public speaking.
Namun di balik deretan medali dan penghargaan yang diraihnya, terdapat perjalanan panjang yang dibangun dari disiplin, kasih sayang keluarga, dan keinginan tulus untuk menghadirkan perubahan bagi dunia.
Bagi Zara, prestasi bukan sekadar tentang menjadi yang terbaik di atas podium. Ia memandang pencapaian sebagai cara untuk menggunakan potensi yang dimilikinya demi memberikan dampak positif bagi orang lain. Motivasi itu tumbuh sejak kecil, ketika kedua orang tuanya membiasakan dirinya untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
“Pada intinya, saya termotivasi oleh kesadaran bahwa dunia ini masih jauh dari bagaimana seharusnya. Saya melihat masih banyak kemiskinan, penderitaan, perselisihan, dan kemarahan di sekitar kita. Dari situlah muncul dorongan dalam diri saya untuk memanfaatkan potensi yang saya miliki agar bisa membantu membuat dunia menjadi lebih baik,” ungkap Zara.
Nilai-nilai empati sudah diperkenalkan sejak usia dini. Sejak berusia dua tahun, Zara rutin diajak kedua orang tuanya mengunjungi panti asuhan untuk berbagi dengan anak-anak yatim. Pengalaman tersebut membentuk rasa syukur sekaligus kepedulian sosial yang kuat dalam dirinya.
“Sejak kecil, Mami dan Ayah selalu mengajak saya ke panti asuhan. Dari situ saya belajar bersyukur atas apa yang saya miliki, sekaligus belajar berempati dan berusaha menjadi manfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Perjalanan akademik Zara mulai terlihat ketika dirinya menjalani tes psikologi pada usia empat tahun. Hasil tes menunjukkan IQ Zara berada dalam kategori superior. Mengetahui hal itu, sang ibu kemudian aktif mendampingi perkembangan kemampuan Zara, terutama melalui dunia literasi dan buku-buku berbahasa Inggris.
“Saya sudah membaca aktif dalam bahasa Inggris sejak usia tiga tahun, dan sampai sekarang saya sudah menyelesaikan hampir 150 buku berbahasa Inggris. Membaca adalah passion utama saya. Dari membaca, saya mulai ingin menulis, lalu belajar menyampaikan pikiran dan pandangan saya,” jelasnya.
Kecintaan terhadap membaca kemudian membuka jalan bagi Zara untuk berkembang dalam berbagai bidang. Ia tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif dalam kompetisi internasional. Salah satu pencapaian yang paling berkesan baginya adalah ketika berhasil memperoleh Honourable Mention dalam Hemlock Journal Fiction Writing Contest 2026.
Selain itu, Zara juga meraih berbagai penghargaan internasional bergengsi lainnya, seperti medali emas dalam ESOLIO 2025 untuk kategori Best Writer, Best Speaker, dan peringkat pertama proyek tim “Helping Hannah”. Ia juga berhasil meraih Diamond Medal dan One-Star Legend pada kompetisi JISMO (Japanese International Science and Math Olympiad), serta Gold Medal dalam INYSIA 2025 (Indonesia Young Scientists and Inventors Award).
Tak hanya di bidang akademik dan literasi, Zara juga aktif dalam dunia olahraga gimnastik dan berhasil meraih beberapa medali emas bersama Rockstar Academy. Bahkan saat masih berusia sembilan tahun, Zara pernah tampil dalam acara internasional CNN Freedom Day pada tahun 2021, pengalaman yang menjadi salah satu momen paling membanggakan dalam hidupnya.
Meski terlihat gemilang, perjalanan Zara tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara persiapan kompetisi, tuntutan sekolah, dan kesehatan mental.
“Tantangan terbesar adalah mengelola waktu belajar dan persiapan yang sangat intens sambil tetap menjaga disiplin untuk memenuhi tuntutan sekolah dan menjaga kondisi mental. Saya selalu ingin memberikan hasil terbaik, jadi saya harus belajar mengatur semuanya dengan baik,” katanya.
Zara juga menyadari kompetisi bukan hanya soal menang dan kalah. Menurutnya, proses jauh lebih penting daripada sekadar hasil akhir.
“Saya selalu berpegang pada prinsip bahwa apa pun hasilnya, saya akan tetap tenang karena saya sudah berusaha sekuat tenaga. Setiap hasil adalah kesempatan untuk memperbaiki diri,” ujarnya.
Dalam menjaga konsistensi belajar, Zara memiliki metode sederhana namun efektif: disiplin dan manajemen diri. Ia terbiasa menyusun prioritas antara tugas yang mendesak dan yang bisa dikerjakan bertahap.
“Saya percaya kunci keberhasilan adalah disiplin dan konsistensi dari kebiasaan baik. Saya membagi tugas menjadi ‘big rocks’ dan ‘little rocks’, lalu menyusunnya dalam jadwal yang saya jaga dengan tekun,” jelasnya.
Baginya, rasa bosan bukan sesuatu yang sulit diatasi karena ia selalu memandang setiap tantangan sebagai peluang untuk tumbuh.
“Saya tidak pernah bosan dengan apa yang saya lakukan, karena rasa ingin tahu saya sangat besar. Saya percaya setiap tantangan adalah kesempatan untuk berkembang lebih jauh,” tambah Zara.
Di balik semua pencapaiannya, Zara menegaskan keluarga, terutama sang ibu, memegang peranan paling penting dalam hidup dan perjalanan prestasinya. Ia menggambarkan ibunya sebagai sosok pendukung terbesar sekaligus inspirasi utama dalam hidupnya.
“Mami saya adalah pendukung terkuat, penasihat, dan teman sejati saya. Beliau selalu ada mendampingi saya, bahkan rela mengambil cuti untuk menemani saya belajar dan menjaga kondisi kesehatan saya selama kompetisi,” ungkap Zara penuh haru.
Menurutnya, sang ibu adalah gambaran nyata tentang ketangguhan, kedisiplinan, dan ketulusan hati.
“Saya melihat Mami sebagai personifikasi kemenangan sejati. Beliau mengajarkan saya bagaimana mengelola waktu, menghadapi tantangan, dan tetap tenang dalam tekanan. Dalam diri beliau, saya melihat bukti bahwa kehebatan lahir dari ketangguhan dan ketulusan hati,” katanya.
Ke depan, Zara memiliki mimpi besar untuk terus berkembang di bidang akademik maupun literasi. Ia bercita-cita melanjutkan studi di bidang Biologi Integratif di universitas ternama dan terus menulis karya-karya yang dapat menginspirasi banyak orang.
“Impian saya sejak kecil adalah melihat nama saya terpampang di rak buku orang-orang di seluruh dunia dan menjadi sumber inspirasi yang tulus,” ujarnya.
Tak hanya itu, Zara juga ingin terus mengembangkan proyek sosial “Count on Me” yang mendukung anak-anak yatim piatu melalui literasi, pengembangan diri, dan pendidikan.
Di akhir wawancara, Zara menyampaikan pesan mendalam bagi anak-anak dan remaja Indonesia agar tidak takut bermimpi besar.
“Tidak ada orang atau hal apa pun yang berhak menentukan ukuran mimpimu. Itu sepenuhnya tergantung pada dirimu sendiri dan apakah kamu memilih untuk memulainya atau tidak,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan tetap melangkah meski rasa takut itu ada.
“Perkembangan tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari tindakan-tindakan sederhana yang kamu pilih setiap hari: belajar meski sulit, berlatih meski lelah, dan bangkit kembali meski jatuh,” ujar Zara.
Menutup pesannya, Zara memberikan kalimat penuh makna yang menjadi refleksi perjalanan hidupnya selama ini.
“Kamu adalah kreasi terbesar yang diciptakan oleh Allah. Banggalah dengan dirimu sendiri, tetapi teruslah bekerja lebih giat karena usaha maksimal adalah salah satu bentuk syukur kepada Sang Pencipta.”
Sumber Foto: Istimewa
Baca Juga:
- Grab Luncurkan Corporate Dine Out, Urusan Jamuan Makan Kantor Kini Bebas Reimburse!
- 17 Tahun Kemudian, Slank Kembali Mengoyang Panggung Java Jazz
- BCA Syariah Bedah Makna “Sahabat” Bersama Ivan Gunawan, Fico Loygara, dan Ustaz Halim Ambiya
- Bawa Summer Horns, Dave Koz Kembali ke Panggung Java Jazz
- “Tribute to Erros Djarot” – Musisi Lintas Generasi Rayakan Karya-Karya Sang Maestro di Java Jazz Festival 2026

