Sejak tahun 2015, Sylvia Wiharjanti telah merintis usaha kuliner, karena hobinya adalah memasak. Semuanya bermula, dari sering mengunggah foto makanan yang dibuatnya ke Facebook. Ternyata mendapat komentar positif dan banyak yang beri usul agar menjual makanan tersebut. Akhirnya, Sylvia pun memulai dengan berjualan teri medan cabe ijo dan teri jengkol balado. “Alhamdulillah mereka pada suka, akhirnya saya menambah menu lainnya,” ungkap Sylvia kepada Kabari.

Tak hanya dua menu di atas, menu lain yang tersedia Dapur Empie, yakni tongkol suwir, cumi asin tumis cabe hijau, daging rendang, tongkol rica, kikil cabe hijau, dan masih banyak menu lagi.  Selain makanan, tersedia juga berbagai varian roti dan bolu.

Dari berbagai menu di atas, khusus untuk makanan, yang paling banyak pesanan adalah tongkol suwir. “Karena tongkol suwir ini bisa dinikmatin sama anak – anak dan orang dewasa,” tukas Sylvia.

Untuk semua makanan ini, menggunakan system pre-order dulu. “Saat ini lagi kami pikirkan ekspansi usaha dengan sistem ready stock. Kalua pun ready stock biasanya yang makanan beku,” tukas Sylvia. 

Dijelaskan Sylvia, yang menjadi keunggulan Dapur Empie adalah menggunakan bahan premium, higienis, dan tanpa bahan pengawet. “Untuk bolu saja kita tidak pakai pengembang, dan tidak pakai pelembut, jadi alami saja. Alhamdulillah dengan pengolahan yang baik dan higienis, makanan atau pun kue itu bisa awet,” terang Sylvia.

Sylvia mengaku, untuk usaha terutama dalam membuat roti, Sylvia masih terus belajar. “Alhamdulillah sudah bisa dinikmati semuanya, tapi tetap harus belajar dan belajar terus untuk memuaskan customer,” katanya. 

Untuk mengembangkan usaha, Sylvia juga tergabung dalam Jakarta Entrepreneur. Karena melalui Jakarta Entrepreneur, memberikan kesempatan bagi Sylvia untuk mengikuti pelatihan sekaligus bertemu komunitas pelaku usaha sehingga menjadi sarana bertukar pengalaman dan promosi. 

“Jadi kalau kita masak dengan hati dan rasanya yang enak, tanpa kita minta pun untuk promosi, mereka akan promosi sendirinya. Alhamdulillah jadi marketingnya melalui mulut ke mulut. Dan teman – teman yang sudah merasakan menu di Dapur Empie akan mempromosikan ke teman-teman yang lain,” kata Sylvia. 

Sylvia mengaku dalam membangun usaha tidak selamanya berjalan mulus. Ada saja kendala yang dialami. “Kendala terbesar adalah saya masih manual, artinya masih kerjakan sendiri. Jadi dengan bertambahnya usia, kadang lelahnya minta ampun. Karena itu, saya harus belajar dengan melatih  seseorang untuk membantu saya. Saya masih mencari orang yang tepat untuk membantu,” katanya.

Lalu apa tips sukses? Konsisten. “Alm. Bapak selalu bilang, kamu kalau pengin sukses itu harus tekun, jangan pernah menyerah dan kalau gagal coba lagi. Alhamdulillah, saya selalu menyemangati diri saya bahwa pasti bisa melakukannya,” pungkasnya.

Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 216

Simak wawancara Kabari bersama Sylvia Wiharjanti dibawah ini