“Buku ini adalah sebuah pengenalan ulang terhadap memoar sejarah budaya Perang Dunia II yang ditulis oleh Nenek saya, Martha Walandouw Lohn,” demikian catatan Brian Kimmel kepada para pembaca Blue Skies, Troubled Waters.
“Kalau beliau bertemu dengan Anda, beliau pasti akan berkata, ‘Panggil saya Nenek juga.’ Itulah Martha Walandouw Lohn, Nenek untuk semua orang.”
Blue Skies, Troubled Waters adalah edisi ketiga dari memoar Martha Walandouw Lohn, seorang perempuan Indonesia-Amerika yang selamat dari masa pendudukan dan perang. Kimmel adalah cucunya.
Walandouw Lohn menulis versi pertama dengan tangan, lalu dengan bantuan sponsor dan sahabat keluarga, menerbitkannya pada tahun 1966. Bertahun-tahun kemudian, ia menyingkat dan menulis ulang versi kedua sendiri. Namun, edisi ketiga ini benar-benar kejutan, hadiah yang disiapkan selama dua tahun oleh Kimmel, yang kemudian memberikannya kepada Walandouw Lohn yang berusia 91 tahun, tepat di hari ulang tahunnya saat Natal 2024.
Pendahuluan buku ini dibuka dengan kisah agen Immigration and Naturalization Services (INS) yang mengetuk pintu rumah keluarga Walandouw Lohn pada dini hari, berniat mendeportasi seluruh keluarga hanya karena ayahnya tidak memiliki dokumen resmi padahal ibunya adalah warga negara AS yang dinaturalisasi, dan Martha serta saudara kembarnya lahir di New Jersey.
Peristiwa itu terjadi pada 1940, 16 tahun setelah Kongres mengesahkan Immigration Act of 1924 yang mencakup Asian Exclusion Act dan National Origins Act. Kedua undang-undang ini sangat membatasi imigrasi dan sepenuhnya melarang imigran Asia menjadi warga negara AS.
Namun, melihat kondisi politik saat ini dan keputusan pemerintah federal yang kembali menargetkan imigran banyak di antaranya orang Asia, termasuk pemegang green card adegan tahun 1940 yang digambarkan Walandouw Lohn terasa seolah bisa saja terjadi pada 2025. Ia pun menambahkan bahwa semua peristiwa itu membuatnya selalu “berdoa kepada Tuhan” agar hal serupa tak pernah terjadi di Amerika Serikat.
Berikut wawancara bersama Martha Walandouw Lohn dan Brian Kimmel seperti disarikan dari Northwest Asian Weekly.
Buku ini ditulis lintas generasi oleh Anda berdua. Bagaimana rasanya menulis bersama? Apakah hal itu membuat hubungan kalian lebih dekat, atau justru ada hal-hal baru yang kalian pelajari satu sama lain?
Martha Walandouw Lohn: Saya menulis versi sebelumnya, lalu Brian memberi kejutan dengan menuliskannya ulang. Saya benar-benar kaget, tapi senang sekali. Ia menuliskannya lebih baik daripada saya, karena ia bisa menjelaskan hal-hal dengan lebih jelas.
Kalimat-kalimatnya lebih bagus. Bahkan di bagian akhir, ia menjelaskan istilah-istilah Indonesia yang saya sisipkan tapi tidak saya terjemahkan seperti kata kampung.
Ini edisi ketiga memoar Anda. Bagaimana versi pertama?
Martha: Itu sudah sangat lama. Judulnya Where Now Is My Garden. Sponsor saya yang membantu sangat religius, sehingga isi bukunya banyak sekali nuansa agama. Saya sendiri dibesarkan dalam keluarga Salvation Army, jadi memang beriman, tapi saya tahu pembaca tidak selalu menyukai bacaan yang terlalu sarat agama. Saya tidak berani berkata apa-apa karena tidak ingin menyinggung perasaan beliau.
Saya sendiri mencintai semua agama. Kalau saya mendengar ada orang bernyanyi di gereja, saya akan ikut masuk. Bagi saya hanya ada satu Tuhan, jadi agama tidak membuat perbedaan. Imanlah yang membuat kami bertahan di masa perang.
Bagaimana dengan versi kedua?
Martha: Hampir sama, hanya saja lebih singkat. Judul Blue Skies, Troubled Waters berasal dari tradisi di kampung saya, dekat Danau Tondano. Saat tahun baru, orang melihat langit biru dan permukaan danau. Kalau airnya bergelombang, artinya tahun itu akan buruk. Benar saja, saat itu Jepang datang mendarat.
Saya waktu itu baru sembilan tahun, tapi saya masih ingat semua detailnya. Anak-anak tidak akan pernah melupakan hal seperti itu.
Apakah Anda pernah kembali ke desa asal?
Martha: Tidak. Saudara kembar saya pulang setiap dua tahun, tapi saya tidak sanggup. Terlalu banyak kenangan pahit. Saya bekerja di kamp Jepang sebagai anak kecil, melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat anak-anak. Sampai sekarang saya masih sesekali mimpi buruk. Dengan Brian, saya bisa bicara. Ia mendengar dengan baik, dan itu membantu saya.
Anda menemukan ketenangan dalam berkebun?
Martha: Ya. Dulu saya punya kebun indah. Tapi ketika saya pulang, kebun itu sudah ditebang habis oleh Jepang. Mereka menebang semua bunga dan tanaman saya untuk menutupi meriam. Saya histeris berteriak, “Di mana kebun saya?”
Sejak itu, di mana pun saya tinggal, saya selalu membuat kebun baru. Bunga itu sangat berharga bagi saya. Favorit saya gardenia. Saat perang, ada pesawat kecil yang sering melintas rendah. Saya selalu melemparkan bunga gardenia ke arahnya, sambil berkata dalam hati, “Ini untukmu. Pergilah sebelum tertembak.” Itulah sebabnya gardenia begitu istimewa bagi saya.
Brian, mengapa Anda membuat versi baru dengan format modern berbahasa Inggris?
Brian Kimmel: Karena ada standar format internasional untuk buku, apalagi e-book. Supaya mudah diakses pembaca global, saya gunakan format itu. Bahkan di Indonesia pun kini sudah banyak yang memakai format gaya Inggris untuk buku modern.
Bagaimana rasanya memberi kejutan pada nenek dengan buku ini?
Brian: Itu bertepatan dengan ulang tahunnya ke-91, menjelang Natal. Kami melakukan riset ke perpustakaan, mengumpulkan foto, dan dokumen untuk mendukung cerita dan semuanya sesuai dengan apa yang nenek ceritakan. Rasanya itu hadiah paling berharga.
Apa yang Anda pelajari dari kisah nenek?
Brian: Banyak sekali. Bukan hanya kisah bertahan hidupnya, tapi juga budaya Minahasa dan Manado. Saya menuliskan puisi sebagai respons untuk tiap bab, lalu melakukan perjalanan ke Indonesia, bahkan ke rumah masa kecil nenek. Itu pengalaman yang sangat emosional, penuh tangis, tapi juga penyembuhan.
Mengapa buku ini penting untuk dibaca sekarang?
Brian: Karena kisah ini relevan. Isu imigrasi, deportasi, diskriminasi semuanya masih nyata hingga kini. Sejarah bisa berulang jika tidak diingat. Buku ini jadi pengingat kolektif agar kesalahan tidak terulang.
Martha: Bagi saya, doa saya hanyalah agar apa yang dialami keluarga saya tak pernah terjadi di Amerika. Bagian terberat perang adalah ketika orang tua saya diambil paksa. Saya baru berusia 10 tahun. Tapi momen terbahagia saya adalah ketika akhirnya bisa membawa Mama dan Papa kembali ke Amerika pada tahun 1967. Itu hari paling bahagia sepanjang hidup saya.
Sumber Foto: Istimewa
Baca Juga:
- “Tribute to Erros Djarot” – Musisi Lintas Generasi Rayakan Karya-Karya Sang Maestro di Java Jazz Festival 2026
- 25 Tahun Janji Suci Yovie & Nuno
- Jon Batiste Tampil Berkilau di Java Jazz Festival 2026
- Mahasiswi UIC College Rilis Lima Lagu dan Garap Soundtrack Film di Tengah Kesibukan Kuliah
- DWP2026 Kembali ke Tempatnya Semula

