Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Direktorat Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi Penjamah Makanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak di 34 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Kegiatan ini melibatkan sekitar 30.000 penjamah pangan sebagai bagian dari upaya nasional meningkatkan kapasitas dan profesionalitas tenaga penjamah pangan dalam mendukung penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN, Dr. Nurjaeni, Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari Rencana Kerja BGN Tahun 2025 serta menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan gizi nasional melalui peningkatan mutu pelayanan SPPG.

“Melalui bimtek ini, kami ingin memastikan bahwa setiap penjamah makanan memiliki kompetensi dan keterampilan yang memadai dalam seluruh tahapan penyediaan makanan bergizi — mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga distribusi kepada penerima manfaat,” ujar Dr. Nurjaeni.

Kegiatan ini juga diharapkan menjadi sarana penting dalam membangun kesadaran akan pentingnya higienitas, keamanan, dan keberlanjutan pangan. BGN menargetkan seluruh layanan SPPG bebas dari kasus kontaminasi atau kerusakan pangan dengan prinsip zero case terhadap insiden pangan basi maupun berisiko kesehatan.

Dalam arahannya, Dr. Nurjaeni menegaskan sepuluh langkah strategis peningkatan layanan MBG yang mencakup aspek teknis, manajerial, dan kualitas pelayanan:

  • Penempatan 5.000 Chef profesional dari Indonesian Chef Association (ICA) di SPPG baru untuk transfer pengetahuan dalam pengolahan makanan bergizi dan aman.
  • Pelaksanaan rapid test food berkala oleh Balai POM guna menjamin keamanan pangan.
  • Penerapan wajib Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap SPPG.
  • Pemanfaatan platform LMS Plataran Sehat Kementerian Kesehatan untuk pembelajaran

daring bagi tenaga pelaksana.

  • Penggunaan air bersih berstandar kesehatan serta sterilisasi alat makan dengan air panas 80°C.
  • Penambahan tenaga ahli gizi agar pendampingan gizi lebih optimal.
  • Penerapan sertifikasi halal untuk memastikan kepatuhan nilai keagamaan.
  • Pemasangan CCTV di dapur SPPG untuk menjamin transparansi dan pengawasan proses produksi.
  • Kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) sebagai dasar tata kelola layanan yang profesional dan akuntabel.
  • Penguatan edukasi dan monitoring berkelanjutan untuk menjaga mutu pelayanan MBG.

Dr. Nurjaeni  menambahkan bahwa menjadi penjamah makanan bukan hanya tugas teknis, tetapi juga tugas sosial dan ibadah dalam menyediakan asupan bergizi bagi anak-anak Indonesia menuju Generasi Emas 2045. “Dari dapur SPPG inilah kita menyiapkan generasi cerdas, sehat, dan berdaya saing,” ujarnya.

Melalui pelaksanaan bimtek serentak ini, BGN berharap terbentuk jaringan penjamah pangan yang kompeten, beretika, dan berdedikasi, serta menjadi garda terdepan dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh makanan yang layak, sehat, dan bergizi seimbang.

Sumber Foto: istimewa

Baca Juga: