Dari sebuah mimpi untuk melestarikan batik dan wastra Indonesia, lahirlah Rryni House pada Agustus 2007 di bawah tangan kreatif Nining Arry, Founder sekaligus Creative Director.
Berbasis di Granada Square, BSD Tangerang Selatan, Rryni House hadir bukan sekadar sebagai label busana, tetapi sebagai gerakan kecil untuk menghidupkan kembali semangat budaya lewat gaya modern yang dinamis.
Terinspirasi dari akar budaya Jawa Tengah, khususnya Pemalang dan Pekalongan daerah yang dikenal sebagai rumah besar batik Nining bertekad membawa batik lebih dekat ke kehidupan sehari-hari. “Saya ingin batik tidak hanya untuk acara resmi, tapi juga bisa dipakai siapa saja, kapan saja,” ungkapnya.

Selama hampir dua dekade berkarya, desain khas yang asimetris, stylish, dan modern, produk-produk seperti blus, dress, outer, dan kebaya klasik tetap menjadi primadona bagi pelanggan setia Rryni House.
Nining menegaskan nilai utama dari setiap produk Rryni House bukan hanya kualitas bahan, tetapi juga pelayanan. “Produk bagus itu wajib, tapi excellent service adalah nomor satu,” katanya.
Setiap koleksi Rryni House mengandung sentuhan handmade—mulai dari proses bordir, sulam, hingga detail payet yang halus. Tak hanya mempercantik tampilan, setiap jahitan dan sentuhan tangan para pengrajin merupakan bentuk penghargaan terhadap karya anak bangsa.
“Kami tidak pernah meninggalkan buatan tangan dari saudara-saudara kita sendiri,” tutur Nining. Dari batik cap hingga tenun eksklusif, setiap material dirancang terbatas agar tetap bernilai dan berkarakter unik.

Dalam hal pemasaran, Rryni House telah bertransformasi dari sistem konvensional ke strategi hybrid. Awalnya aktif di pameran dan bazar sejak 2007, kini mereka hadir pula di berbagai platform digital seperti Shopee, Tokopedia, serta media sosial Instagram, TikTok, dan Facebook.
“Kami ingin pelanggan bisa menjangkau kami dengan mudah, baik secara online maupun offline. Karena Rryni House bukan hanya butik, tapi rumah bagi para wanita yang ingin tampil berkelas dengan sentuhan lokal,” ujar Nining.
Bagi Nining, melestarikan budaya tidak harus dengan cara yang kaku. Ia menyesuaikan desain klasik agar tetap relevan dengan selera generasi muda.
“Desain Korea yang oversized bisa banget dikombinasikan dengan batik atau tenun lokal. Dengan begitu, anak muda tetap bisa bergaya modern tapi tidak kehilangan identitas budaya,” jelasnya.

Meski sukses, perjalanan Rryni House tidak lepas dari tantangan, terutama dalam menjaga kualitas sumber daya manusia dan orisinalitas produk.
“SDM adalah tantangan utama. Membuat produk handmade butuh kesabaran dan ketelitian,” kata Nining. Selain itu, persaingan di industri fashion juga semakin ketat. Namun, ia punya strategi khas: eksklusivitas. Setiap desain hanya diproduksi dalam jumlah terbatas, sekitar 30 potong saja. “Siapa yang cepat, dia yang dapat. Kami ingin pelanggan merasakan bahwa mereka memiliki sesuatu yang istimewa,” tambahnya.
Lewat visi dan semangatnya, Nining Arry menjadikan Rryni House lebih dari sekadar brand fashion. Ia menjadikannya simbol cinta terhadap budaya dan bukti bahwa warisan Nusantara bisa tetap hidup di tengah dunia modern.
“Kami ingin terus menebarkan kebanggaan lewat karya, agar batik dan wastra tetap menjadi bagian dari gaya hidup wanita Indonesia masa kini,” tutupnya.
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 219
Simak liputan Kabari dibawah ini

