Nama Fransiscus Eko dikenal sebagai sosok multitalenta di dunia musik Indonesia. Berpengalaman sebagai produser, manajemen artis, jurnalis, sekaligus promotor, Eko mengelola Cadaazz Pustaka Musik, sebuah platform yang berangkat dari niat sederhana namun berkembang menjadi label independen dan manajemen artis.

Eko mengungkapkan, awal mula Cadaazz Pustaka Musik sebenarnya tidak dirancang sebagai label atau manajemen artis. “Awalnya saya kerja di promosi dari beberapa label, tugasnya mempromosikan produk musik seperti band dan solois,” ujarnya. Setelah aktivitas tersebut berkurang, Eko kemudian terjun ke dunia jurnalistik sebagai wartawan.

Namun, profesi jurnalis justru membuka pintu lain. Banyak rekan musisi yang masih sering meminta bantuannya untuk promosi. “Teman-teman masih sering nanya, bisa bantu promosi radio, promosi acara TV, GIGS, atau event nggak?” kata Eko. Dari situ, ia mulai membantu semampunya, baik untuk band baru, solois pendatang baru, maupun musisi lama yang sudah ia kenal.

Seiring waktu, kebutuhan akan identitas pun muncul. “Waktu bantu promo ke radio atau EO, mereka sering nanya, ini produknya dari mana? Karena itu saya kepikiran harus punya ‘bendera’,” jelasnya. Dari kebutuhan sederhana itulah lahir nama Cadaazz Pustaka Musik, yang awalnya hanya sebagai payung promosi, namun kemudian berkembang fungsinya layaknya label dan manajemen artis.

Berbicara soal perkembangan musik Indonesia, Eko menilai tantangan musisi baru sejak dulu hingga sekarang pada dasarnya sama. “Ngurusin talent baru dari dulu memang susah, karena belum ada yang kenal, jadi harus effort banget untuk promosi lagu dan sosoknya,” ungkapnya. Perbedaannya, menurut Eko, kini ada banyak fasilitas berkat kemajuan teknologi. Media sosial, YouTube, dan internet membuka banyak jalur promosi yang dulu tidak tersedia.

“Sekarang enaknya fasilitas sudah maju, tapi saingannya juga makin banyak. Semua orang bisa rilis lagu sendiri tanpa label, bisa indie,” katanya. Jika dulu pilihan media sangat terbatas, kini justru tantangannya adalah menonjol di tengah banjir karya.

Dalam industri musik lokal, Cadaazz Pustaka Musik memposisikan diri secara fleksibel. Eko menjelaskan bahwa ada dua fokus utama di Cadaazz, yakni sebagai label dan manajemen artis. “Kalau dibilang perannya, sebenarnya sama saja dengan label indie lain. Kita ingin ikut bikin industri musik Indonesia jadi seru dan lebih maju,” ujarnya.

Sebagai label, Cadaazz berperan memproduksi karya musisi yang dinilai potensial. “Kalau kita nemu talent yang menurut kita bagus dan worth it, ya kita produksi, kita bikin produknya lalu kita promosikan,” kata Eko. Sementara dari sisi manajemen artis, Cadaazz tidak membatasi kerja sama hanya pada label internal. “Talent yang kita manajemen tidak harus selalu diproduksi oleh label Cadaazz, bisa juga kerja sama dengan label lain,” jelasnya.

Ia mencontohkan beberapa nama seperti Rocker Kasarunk dan Sigit Wardana, yang berada di bawah manajemen Cadaazz namun bekerja sama dengan label rekanan. Model kerja ini, menurut Eko, membuat Cadaazz lebih luwes dan adaptif dengan kebutuhan artis.

Ke depan, Eko berharap industri musik Indonesia bisa terus berkembang secara kreatif dan lebih harmonis. “Harapannya, musik Indonesia bisa lebih maju, lebih kreatif, dan perbedaan pendapat soal royalti atau performing rights bisa duduk satu meja untuk kemajuan bersama,” ujarnya. Ia juga menilai Indonesia sebagai salah satu kekuatan musik di Asia yang patut terus diperhitungkan.

Sementara untuk Cadaazz Pustaka Musik, Eko menegaskan komitmennya untuk terus berkarya. “Yang penting jangan sampai berhenti produksi. Terus cari talent yang kreatif dan bagus untuk diajak kerja sama,” katanya. Ia mengaku paling bahagia melihat artis yang dikelolanya berkembang. Selain produksi musik, Cadaazz juga berencana mengembangkan lini promotor dengan menggelar GIGS dan event besar. “Ada beberapa GIGS dan event yang rencananya mau kita bikin di pertengahan 2026. Mudah-mudahan bisa tercapai,” tutupnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga