28 Desember 2025 berlokasi di Taman Makam Mohammad Hatta diluncurkan Cakra 28 Nusantara. Cakra 28 Nusantara secara resmi dideklarasikan sebagai gerakan sipil damai, non-kekerasan, non-agresif, terbuka, dan tidak berafiliasi dengan politik praktis, serta setia kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.

Gerakan ini merupakan jaringan gotong royong rakyat yang meyakini dan menghormati Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto Djojohadikusumo sebagai pemimpin sah negara, serta bertekad membangun jaringan informasi semesta untuk menghalau disinformasi, adu domba, manipulasi opini, dan praktik money politics yang merusak etika demokrasi dan persatuan nasional.

Cakra 28 Nusantara adalah gerakan sipil bermoral yang bertujuan memperkuat etika publik, menjaga stabilitas sosial secara beradab, serta mendorong produktivitas rakyat melalui gotong royong, pendidikan kebangsaan, dan partisipasi warga yang bertanggung jawab.

Gerakan ini menolak dengan tegas, yakni korupsi dan politik uang; kekerasan, intimidasi, dan provokasi sosial; disinformasi dan manipulasi politik, perampasan hak-hak dasar warga negara; serta kekuasaan tanpa etika dan akuntabilitas.

Cakra 28 Nusantara berkomitmen untuk menghormati pemerintahan yang terbentuk secara konstitusional, menjaga stabilitas sosial dan persatuan nasional, serta mendorong kepemimpinan publik yang etis, transparan, dan berpihak pada rakyat.

Gerakan ini tidak melakukan transaksi politik, tidak membangun kultus individu, tidak terlibat dalam kontestasi kekuasaan, dan tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun.

Sebagai jaringan informasi rakyat, Cakra 28 Nusantara membangun sistem literasi publik, klarifikasi informasi, kanal komunikasi etis, dan jejaring edukasi kebangsaan agar disinformasi, adu domba, dan permainan money politics tidak merusak keutuhan bangsa.

Dalam deklarasi ini, Cakra 28 Nusantara mengumumkan struktur nasional. Ketua Umum adalah Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto, MT; Wakil Ketua Umum: Riggi Pakualam Wisnuwardhana; dan Sekretaris Jenderal: Leonardo A. Putong serta Bendahara Umum: Burhanuddin.

Trisula Cakra 28 Nusantara yakni menolak politik biaya tinggi dan politik transaksional; menghidupkan gotong royong rakyat dan ekonomi produktif berbasis koperasi; membangun jaringan informasi semesta untuk menangkal disinformasi, adu domba, dan praktik politik curang

Pemilihan Lokasi deklarasi di Taman Makam Mohammad Hatta adalah penghormatan pada nilai kejujuran, kesederhanaan, demokrasi bermoral, dan keberanian melawan korupsi. Bahwa politik adalah pengabdian mulia, bukan perebutan kekuasaan.

Dalam deklarasi ini, Ketua Umum Cakra 28 Nusantara, Dr. Ir. Kun Wardana Abyoto, MT, mengatakan melalui Cakra 28 Nusantara, untuk menyalakan kembali api kebangkitan budi. “Karena 28 bukan sekadar angka. 28 adalah angka kebangkitan akal budi bangsa. Seperti Boedi Utomo yang dulu menyalakan kesadaran nasional. Bukan “Bathil Utomo”, bukan kebathilan yang disolek menjadi kebenaran. Tetapi budi yang jernih, luhur, dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Dari peristirahatan para pendahulu bangsa, seakan kita mendengar pesan mereka. Yakni bangkitkan kembali kebijaksanaan. Jaga etika. Luruskan akal sehat. Jangan biarkan republik ini diperjualbelikan oleh politik uang, tipu daya, dan transaksi kekuasaan.

“Maka Cakra 28 Nusantara berdiri sebagai jaringan rakyat pelindung etika publik dan informasi kebangsaan; sebagai Wangsa Garuda Putih, yang memilih jalan nurani, jalan terang, dan jalan beradab,” ungkap Kun Wardana.

Melalui para tokoh bangsa dan pahlawan, kita belajar tentang nilai-nilai yang mereka anut. Sebut saja, Mohammad Hatta menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh dipisahkan dari kejujuran. Haji Agus Salim menunjukkan kecerdasan yang selalu tunduk pada akhlak. Buya Hamka mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa iman akan membawa kehancuran. Presiden Soekarno menyalakan api kepercayaan diri nasional. Sumitro Djojohadikusumo menjaga agar ekonomi tetap berdiri di atas nalar, etika, dan keberpihakan pada rakyat,

“Maka ruh perjuangan merekalah yang hari ini kita rawat kembali,” tegas mantan calon Wakil Gubernur DKI Jakarta 2024 inu.

Kun Wardana mengatakan bahwa dengan gotong royong, kita bangun kembali fondasi kebangsaan yang dalam dan kokoh, seperti batu besar yang tertanam jauh di bawah tanah menopang rumah besar bernama Indonesia, untuk mencegah lahirnya “armada bayangan” politik uang dan praktik transaksional yang hendak memperdaya bangsa.

Dalam deklarasi ini, Kun Wardana menyatakan Cakra 28 Nusantara juga membentuk Mandala Cakra Nusantara di 34 Provinsi Republik Indonesia. Jaringan ini berkembang melalui jaringan senyap rakyat di seluruh Indonesia, dengan dukungan sekitar 5 juta relawan dan simpatisan yang tersebar di berbagai provinsi.

“Pada hari ini, dengan penuh khidmat saya menyatakan bahwa saya meresmikan 34 Mandala Cakra Nusantara di 34 Provinsi Republik Indonesia, yang akan ikut menentukan jalan sejarah bangsa Indonesia ke depan. Melalui Mandala-Mandala ini, kita menancapkan semangat baru

untuk mengusung Indonesia Raya bukan hanya untuk satu generasi, tetapi untuk ratusan tahun ke depan. Kita ingin melahirkan generasi mulia, bukan generasi pengecut yang bathil. Dan kita yakin, Tuhan bersama perjuangan yang lurus,” ungkapnya.

Sementara itu, Leonardo A. Putong, Sekretaris Jenderal Cakra 28 Nusantara mengatakan bahwa

biaya politik tinggi dan transaksional oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan rakus akan kekuasaan telah menyakiti rakyat. “Yang benar-benar produktif justru tersisih dan tidak mendapatkan apa-apa, sementara yang bathil dapat meraup triliunan rupiah. Kalau keadaan ini terus dibiarkan, lama-kelamaan seluruh tatanan kebangsaan akan rusak dan kepercayaan rakyat terhadap negara serta pemerintahan akan runtuh,” katanya.

Riggi Pakualam Wisnuwardhana, Wakil Ketua Umum Cakra 28 Nusantara mengatakan dana gotong royong rakyat yang jumlahnya puluhan juta rupiah, bila dikelola dengan efisien, jauh lebih bermanfaat dibanding uang triliunan yang tersangkut dalam birokrasi yang lamban dan cenderung koruptif. Dari rakyatlah lahir kekuatan moral bangsa ini.

Nehemia Lawalata, Ketua Dewan Penasehat Nasional Cakra 28 Nusantara mengatakan setia pada amanat Margono Djojohadikusumo dan Prof. DR. Soemitro Djojohadikusumo yakni pertahankan kehormatan bangsa sampai akhir masa. “Jalan itu ditempuh melalui gotong royong yang berkeadilan, berkoperasi secara sehat, menyekolahkan talenta-talenta terbaik bangsa, dan mendidik generasi penerus dengan keteladanan para pendiri bangsa,” ucapnya.

Burhanuddin, Bendahara Umum sekaligus Pimpinan Mandala Cakra 28 Nusantara dari Provinsi Nusa Tenggara Barat menjelaskan bahwa pimpinan Mandala di setiap daerah lebih mengutamakan kehormatan daripada sekadar kekayaan materi. “Ini bukan sekadar jaringan sosial. Ini adalah jaringan iman, jaringan doa, dan jaringan hati nurani. Kami percaya bahwa mata uang iman, ketulusan, dan kejujuran jauh lebih berharga dibanding uang dan kuasa yang diperoleh secara tidak bermartabat,” tegasnya.

Setelah peresmian 34 Mandala Cakra 28 Nusantara, Dr Kun Wardana berziarah ke tempat peristirahatan terakhir Ibunda Presiden Prabowo Subianto Djojohadikusumo, yakni Dora Marie Sigar. Dengan tekad tidak akan menodai perjuangan keluarga besar Djojohadikusumo serta mendukung kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Cakra 28 Nusantara adalah penjaga etika, pencerah akal budi, dan pelita kebangsaan.

Sumber Foto: Istimewa

Baca Juga: