Perjalanan Nani Oktaviani di industri fashion bermula dari desain busana muslimah. Namun, seiring waktu, entrepreneur yang kini dikenal sebagai desainer seragam hotel ini menemukan jalannya di ranah korporasi dan perhotelan. Langkah besar itu dimulai pada 2010, ketika ia dipercaya menangani pembuatan seragam khusus untuk Hotel Le Meridien Jakarta.
“Awalnya saya memang mendesain baju-baju muslimah, tapi dengan berjalannya waktu akhirnya saya terjun juga ke corporate dan hotel. Tahun 2010 saya mulai membuat seragam untuk Le Meridien Jakarta, meskipun saat itu hanya khusus baju safe saja,” ungkap Nani.
Kepercayaan demi kepercayaan pun mengalir. Masih di tahun yang sama, Nani mendapat kesempatan besar untuk menangani Hotel Four Seasons Jakarta. Dari sanalah kiprahnya di dunia perhotelan kian menguat.
“Setelah itu saya dipanggil ke Four Seasons Jakarta dan kurang lebih lima tahun saya menangani hotel tersebut. Dari referensi Four Seasons, akhirnya berlanjut ke hotel-hotel lain, sampai sekarang sudah lebih dari 10 hotel bintang lima di Jakarta yang saya tangani,” jelasnya.
Memasuki 2015, jangkauan karyanya semakin luas. Hingga kini, Nani masih aktif menangani berbagai hotel, termasuk hotel-hotel baru yang melakukan grand opening. Sepanjang 2025 saja, ia tercatat menggarap seragam untuk tiga hotel baru.
Tak hanya dikenal karena kualitas seragamnya, Nani juga memiliki ciri khas kuat melalui penggunaan bordir dan kain wastra, khususnya Batik Tasikmalaya. Baginya, seragam hotel bukan sekadar busana kerja, melainkan medium untuk memperkenalkan kearifan lokal.
“Saya aplikasikan batik melalui bordir. Ada kombinasi bordir dan batik, dan batiknya saya ambil dari Tasikmalaya juga. Saya ingin mengangkat kearifan lokal Tasikmalaya itu sendiri,” tuturnya.
Menurut Nani, batik memberi nilai tambah bagi industri perhotelan, terutama dalam membangun citra dan identitas. Tidak hanya pada seragam, nuansa batik juga kerap diaplikasikan dalam dekorasi interior hotel.
“Hotel-hotel juga punya spesifikasi tersendiri. Ada yang tidak hanya di seragam, tapi juga di dekorasi koridor atau interiornya ada nuansa batik. Tamu-tamu dari luar negeri sangat mengapresiasi batik itu sendiri,” katanya.
Dalam menentukan motif dan warna, Nani selalu menyesuaikan dengan karakter hotel. Ia menawarkan beragam alternatif batik khas Tasikmalaya, seperti Sapu Jagad hingga Batik Parahyangan Timur.
“Batik Parahyangan Timur ini punya ciri khas Tasikmalaya. Bahkan ada yang mengira batik ini seperti Garutan, padahal yang dikenal dari industri batik justru batik asli Tasikmalaya,” ujarnya.
Bagi Nani, penggunaan batik pada seragam hotel juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Indonesia. Ia ingin batik semakin dikenal, terutama di kancah internasional.
“Batik itu ciri khas Nusantara. Saya berupaya memperkenalkan ke khalayak, apalagi ke level internasional, bahwa batik adalah salah satu identitas bangsa Indonesia,” tegasnya.
Menariknya, strategi pemasaran usaha seragam yang dijalankan Nani lebih mengandalkan kekuatan relasi dan kepuasan klien. Ia mengaku tidak aktif menawarkan portofolio secara langsung.
“Yang lebih efektif itu service. Asal jangan mengecewakan klien, itu akan jadi referensi. Promosi dari mulut ke mulut, dari business to business, jauh lebih efektif,” jelasnya.
Dalam beberapa proyek hotel baru, Nani juga mengemas batik dengan filosofi yang disesuaikan dengan konsep hotel. Salah satunya saat menangani hotel milik korporasi asal China yang ingin tetap mengusung kearifan lokal Indonesia.
“Saya pakai batik Parang, lalu warnanya disesuaikan dengan konsep hotel yang bernuansa biru dan beach. Ada juga yang menggunakan logo hotel, lalu saya olah menjadi motif batik,” katanya.
Setelah belasan tahun berkecimpung di bisnis ini, Nani mengakui kendala tetap ada, terutama soal warna dan ukuran seragam. Namun, semua itu ia jadikan bagian dari komitmen pelayanan.
“Kendala biasanya soal warna atau ukuran yang kurang pas. Tapi tetap kami perbaiki dan sesuaikan dengan keinginan klien. Sejauh ini tidak ada kendala yang sampai parah,” ujarnya.
Ke depan, Nani berharap dapat terus memperluas jejaring dan menambah klien, sembari tetap menjaga kualitas dan layanan yang menjadi kekuatan utamanya.
“Saya yakin dengan marketing yang apa adanya dan service yang kami jaga, Insya Allah ke depannya akan terus mendapatkan klien-klien baru,” pungkasnya.
Simak liputan Kabari dibawah ini

