Keprihatinan terhadap minimnya jumlah atlet senam artistik, khususnya di DKI Jakarta, menjadi titik awal langkah besar Eva Novalina Butarbutar, Founder Gavrila Gymnastics Club sekaligus Pelatih Tim Nasional.
Dari kegelisahan itu, lahirlah sebuah klub yang kini menjadi salah satu wadah menciptakan prestasi senam Indonesia di level internasional.
“Pada saat itu atlet senam artistik di DKI sangat minim, mungkin hanya tiga orang. Tidak mungkin kita bicara prestasi kalau atletnya hanya segitu,” ujar Eva mengenang awal mula berdirinya Gavrila Gymnastics Club.
Ia melihat penurunan prestasi senam Indonesia dibanding era 1980–1990-an, terutama pada nomor senam artistik putri. Dari situlah tekadnya muncul untuk membina atlet sejak usia dini dengan teknik yang tepat dan berkelanjutan.

Kini, Gavrila Gymnastics Club telah berkembang pesat. Eva menyebut, jumlah murid yang aktif berlatih mencapai sekitar 1.200 hingga 1.300 atlet yang tersebar di empat cabang, yakni dua di Jakarta, satu di Tangerang, dan satu di Makassar.
“Tujuan kami bukan sekadar membuka klub, tapi memperbanyak basis atlet agar regenerasi senam Indonesia berjalan sehat,” jelasnya.
Kontribusi Gavrila terhadap prestasi nasional pun tak bisa dipandang sebelah mata. Klub ini tercatat sebagai salah satu penyumbang atlet terbanyak untuk Tim Nasional.
“Atlet-atlet kami bukan hanya juara di Popnas atau PON, tapi juga meraih medali emas di SEA Games, tampil di Asian Games, bahkan menorehkan sejarah di Olimpiade,” kata Eva.
Sejarah itu tercipta saat Rifda Irfanaluthfi menjadi atlet senam pertama Indonesia yang tampil di Olimpiade Paris 2024.
Menurut Eva, kunci utama membentuk atlet senam bukan hanya bakat, melainkan komitmen dan kerja keras. Ia menekankan konsep tiga pilar dalam pembinaan senam: atlet, pelatih, dan orang tua.
“Senam itu long journey. Anak-anak mulai dari usia 5–6 tahun, latihannya bisa 9 jam hingga 30 jam per minggu. Tanpa dukungan orang tua, itu tidak mungkin berjalan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan di cabang senam, golden age atlet justru berada di usia 15–19 tahun, jauh lebih muda dibanding cabang olahraga lain.
Soal keseimbangan fisik dan mental, Eva menilai keduanya berjalan beriringan.

“Kalau fisik dan tekniknya siap, mental akan terbentuk. Tugas kami adalah menjaga agar anak-anak tidak burnout dan tetap mencintai senam,” ujarnya.
Masa pubertas menjadi fase krusial yang harus dilewati dengan pendampingan dan support system yang kuat agar atlet tetap berada di jalur mimpinya.
Dalam metode latihan, Gavrila menanamkan motto Respect, Excellence, and Friendship. Eva menekankan pentingnya pelatih yang beretika, berpassion, dan mampu bekerja dalam tim.
“Anak-anak ini bukan milik satu pelatih, tapi milik Gavrila. Teamwork adalah kunci agar potensi terbaik mereka bisa keluar,” katanya.
Motivasi atlet juga dibangun melalui kompetisi yang terukur. Bagi Eva, pertandingan bukan sekadar soal menang.

“Kompetisi adalah sarana melatih mental tanding. Kami pilihkan kompetisi sesuai kebutuhan—ada yang sekadar uji coba gerakan, ada yang menuju event besar seperti SEA Games atau Asian Games. Hasil akan mengikuti proses,” jelasnya.
Mengenang perjalanan menuju Olimpiade Paris 2024, Eva menyebutnya sebagai proses panjang penuh keyakinan. Sejak 2014, ia sudah melihat potensi Rifda dan mulai membawa sang atlet ke berbagai kejuaraan dunia.
“Saya sempat dianggap gila karena bicara Olimpiade saat SEA Games saja masih sulit. Tapi saya yakin Indonesia bisa,” ungkapnya. Setelah melewati cedera, pandemi, dan evaluasi panjang, keyakinan itu akhirnya terwujud.
Ke depan, Eva menegaskan mimpi Olimpiade belum berhenti. “Program menuju Olimpiade 2028 dan 2032 sudah kami siapkan. Dengan atau tanpa dukungan, program ini akan terus berjalan, karena kalau targetnya Olimpiade, level di bawahnya pasti bisa kita lalui,” pungkasnya.
Simak liputan Kabari dibawah ini

