Desainer Yani Halim mengangkat sarung sebagai busana modern yang fleksibel dan relevan untuk berbagai kalangan. Berangkat dari nilai budaya yang melekat kuat, Yani berupaya mengubah persepsi masyarakat terhadap sarung agar tidak lagi identik dengan aktivitas tradisional semata.

“Sarung itu adalah budaya atau peninggalan dari zaman dulu. Saya ingin membuat sarung lilit yang bisa dipakai oleh remaja, orang tua, hingga anak-anak, tidak hanya untuk sholat atau kegiatan tertentu saja,” ujar Yani. Ia menegaskan bahwa sarung memiliki potensi besar untuk sejajar dengan rok atau celana sebagai busana harian.

Dalam pengembangannya, Yani menciptakan beragam koleksi berbahan dasar sarung yang dipadukan dengan material modern. “Koleksi yang saya buat terdiri dari bahan batik, katun, hingga denim. Saya kombinasikan menjadi atasan seperti kemeja maupun bawahan seperti celana agar lebih nyaman digunakan,” jelasnya. Inovasi ini dilakukan untuk menjangkau selera generasi muda tanpa meninggalkan nilai tradisional.

Lebih dari sekadar desain, Yani ingin menyampaikan pesan kuat melalui setiap koleksinya. “Untuk sarung batik, saya ingin generasi muda lebih menghargai wastra hasil karya anak bangsa, terutama dari para pengrajin di pelosok. Sementara bahan denim saya pilih karena dekat dengan anak muda, agar mereka lebih tertarik memakai sarung,” katanya.

Koleksi yang dirancangnya pun diarahkan menjadi ready to wear, sehingga dapat digunakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. “Sarung ini fleksibel, bisa dipakai ke kantor, bermain, atau sekadar berkumpul. Bentuknya bisa disesuaikan sehingga nyaman digunakan,” tambahnya.

Momentum Hari Sarung Nasional juga menjadi pengingat penting bagi Yani akan nilai historis sarung. “Sarung sangat penting karena dulu menjadi pakaian utama masyarakat Indonesia, bahkan sejak masa penjajahan Hindia Belanda,” ungkapnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini