Salma Dian Priharjati atau yang akrab disapa Dian Kenanga dikenal sebagai pendiri Dian Kenanga Totok Aura (DKTA), Dian Kenanga memiliki pandangan tersendiri dalam memaknai sosok Raden Ajeng Kartini dan relevansinya di era modern. Bagi Dian, peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi diri bagi perempuan untuk terus berkembang tanpa kehilangan jati diri.
“Saya pribadi memaknainya sebagai sebuah pengingat saja, bahwa saya harus tetap berjuang dalam mengaktualisasikan diri pada ranah yang menjadi keahlian saya untuk kebermanfaatan banyak orang, baik secara finansial maupun sosial, tanpa harus menanggalkan kewajiban serta marwah alami saya sebagai seorang istri dan ibu,” ujarnya.

Ia menekankan perjuangan perempuan seharusnya berjalan beriringan dengan peran alami yang dimiliki.
Menurutnya, jika hal tersebut diabaikan, maka esensi emansipasi justru bisa kehilangan arah. “Jika kehilangan hal tersebut, tujuan emansipasi yang diusung dalam setiap peringatan Hari Kartini akan kehilangan makna, bahkan bisa menyesatkan wanita itu sendiri dalam menata kehidupan,” tambahnya.
Dalam pandangannya, nilai utama yang diwariskan Kartini adalah tentang emansipasi. Namun, Dian melihat konsep tersebut seringkali dipahami secara keliru di masa kini.
“Emansipasi sering didefinisikan sebagai kesetaraan hak dan kewajiban antara pria dan wanita di segala aspek. Bagi saya, hal itu mustahil sepenuhnya, karena pria dan wanita memiliki peran spesifik yang memang harus saling melengkapi,” jelasnya.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa emansipasi tetap penting, terutama bagi perempuan muda Indonesia.
Namun, ia memberi catatan tegas agar konsep tersebut tidak melampaui batas. “Dalam batas tertentu emansipasi memang penting, sejauh tidak melampaui kodrat kita sebagai wanita. Jika kesetaraan dimaknai tanpa batas, justru bisa merusak tatanan nilai,” ungkap Dian.
Ia juga memberikan ilustrasi mengenai dampak kemandirian yang dinilai berlebihan. Menurutnya, ketika perempuan memandang pernikahan dan berketurunan sebagai beban, maka hal itu dapat berdampak pada keberlanjutan generasi. Bahkan dalam konteks rumah tangga, kondisi tersebut berpotensi memicu konflik hingga perceraian.
Di tengah derasnya arus informasi di era digital, Dian berpesan agar perempuan muda tetap berpegang pada identitas dan nilai diri. “Tetaplah pertahankan jati diri dan marwah sebagai wanita dalam beremansipasi, meski arus informasi begitu deras melalui media sosial,” pesannya.

Ia juga mencontohkan sosok perempuan ideal yang menurutnya mencerminkan emansipasi sejati, yakni Siti Khadijah, istri Rasulullah SAW. “Beliau adalah pengusaha sukses, namun tetap berkhidmat kepada suaminya. Itulah contoh emansipasi terbaik,” tuturnya.
Di akhir, Dian menegaskan bahwa emansipasi sejati bukanlah sekadar tuntutan atau jargon. “Selama wanita masih terus menuntut emansipasi, maka selama itu pula emansipasi tidak akan pernah hadir. Emansipasi adalah situasi kemandirian wanita yang tetap dalam jati diri dan marwahnya,” pungkasnya.
Simak liputan Kabari dibawah ini

