Di balik suara lembut singing bowl dan sesi hipnoterapi yang tenang, Yeno Danita percaya bahwa proses penyembuhan tidak pernah benar-benar datang dari luar. Ia selalu dimulai dari dalam—dari kesediaan seseorang untuk melihat dan memahami dirinya sendiri.

Sebagai hipnoterapis sekaligus praktisi terapi singing bowl, Yeno menekuni pendekatan yang menggabungkan kerja pikiran dan vibrasi suara. Perjalanannya tidak berangkat dari teori semata, tetapi dari keinginan sederhana: membantu orang lain menemukan rasa tenang di tengah hidup yang semakin penuh tekanan.

Ia kemudian memperdalam keilmuan tersebut secara serius. Hipnoterapi ia pelajari di Akademi Hipnoterapi Indonesia sejak 2017, sementara singing bowl ia dalami lebih intens dalam dua tahun terakhir melalui Singing Bowl Indonesia.

Dalam praktiknya, Yeno melihat keduanya sebagai dua jalur dengan pintu masuk yang berbeda.

“Hipnoterapi lebih berfokus membantu klien memahami dan mengelola pola pikir, emosi, serta respons bawah sadar—terutama yang berkaitan dengan trauma, fobia, atau tantangan emosional tertentu,” jelasnya.

Sementara itu, terapi singing bowl bekerja melalui pendekatan yang lebih sensoris. Suara dan getarannya membantu tubuh masuk ke kondisi relaksasi yang lebih dalam.

“Lewat vibrasinya, tubuh bisa lebih rileks, stres berkurang, dan kita jadi lebih mudah menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri,” tambahnya.

Meski menggunakan pendekatan yang berbeda, keduanya saling melengkapi—satu bekerja melalui pikiran, yang lain melalui tubuh.

Namun, Yeno menegaskan bahwa proses penyembuhan tidak bisa disamaratakan.

“Setiap orang punya proses dan waktunya sendiri. Terapis membantu mengarahkan, tapi keterlibatan aktif dari klien tetap menjadi bagian penting,” tuturnya.

Menurutnya, tidak ada pendekatan instan dalam proses ini. Yang ada adalah ruang untuk perlahan memahami, memproses, dan pada waktunya, melepaskan.

Dalam praktik sehari-hari, Yeno lebih banyak melakukan sesi secara langsung. Hal ini memungkinkannya untuk melihat respons klien secara lebih utuh. Untuk sesi online, biasanya dilakukan secara situasional, menyesuaikan kebutuhan dan kondisi klien.

Sementara itu, terapi singing bowl umumnya dilakukan secara tatap muka, agar vibrasi suara dapat diterima tubuh secara lebih optimal.

Di luar ruang terapi, Yeno juga aktif berbagi melalui media sosial. Melalui Instagram, Facebook, dan TikTok dengan nama @yenodanita, ia membagikan refleksi dan praktik sederhana yang membantu orang lebih terhubung dengan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, bagi Yeno, terapi bukan tentang “memperbaiki” seseorang.

“Lebih ke membantu orang kembali mengenali dirinya sendiri—dan dari situ, perubahan bisa mulai terjadi,” pungkasnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini