Pengusaha, desainer, sekaligus pegiat budaya asal Tidore, Maluku Utara, Anita Gathmir kembali membawa nama Indonesia Timur ke panggung internasional. Pada 6 Mei 2026, Anita mendapat kehormatan diundang ke Universitas Humboldt Berlin, Jerman, atas dedikasinya dalam pelestarian budaya, lingkungan, serta pemberdayaan perempuan melalui tenun tradisional Tidore.

Undangan tersebut datang dari Esie Hanstein, Lektor Bahasa Indonesia di Institut Studi Asia dan Afrika (IAAW) Universitas Humboldt Berlin. Kehadiran Anita juga mendapat dukungan dari KJRI Hamburg dan KBRI Berlin serta dihadiri oleh perwakilan KBRI Berlin, Ronius Marjunus selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin.

Bagi Anita, perjalanan ke Jerman bukan sekadar membawa kain tenun, tetapi juga membawa identitas, sejarah, dan semangat masyarakat Tidore kepada dunia internasional. Ia mengatakan bahwa kunjungan tersebut berawal dari undangan kegiatan budaya tahunan yang diinisiasi oleh KJRI.

“Kita ke Jerman awalnya diundang sama KJRI karena mereka ada acara yang biasanya setiap tahun dilakukan dan temanya memang Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara. Jadi kita pergi untuk mengenalkan Maluku Utara secara utuh,” ujar Anita.

Sebagai pendiri “Puta Dino Kayangan”, Anita memang dikenal konsisten menghidupkan kembali Tenun Tidore yang sempat hilang selama lebih dari satu abad. Sejak 2018, ia mulai serius mengangkat kembali warisan budaya tersebut agar dikenal generasi muda dan tidak kembali punah.

Dalam kegiatan di Jerman, Anita tidak hanya membawa hasil tenun, tetapi juga menghadirkan proses lengkap pembuatan kain tradisional Tidore. Ia membawa alat tenun ATBM untuk membuat selendang serta memperkenalkan alat tenun sumpit, inovasi sederhana yang ia ciptakan sendiri agar masyarakat lebih mudah belajar menenun.

“Alat tenun sumpit ini sebenarnya alat sederhana dari alat tenun besar yang saya ciptakan karena saya ingin orang tahu bahwa menenun itu tidak sesulit yang dibayangkan. Banyak orang berpikir tenun itu susah dan alatnya mahal, padahal sebenarnya bisa dibuat sederhana dan murah,” jelasnya.

Menurut Anita, salah satu penyebab hilangnya Tenun Tidore di masa lalu adalah anggapan bahwa menenun merupakan pekerjaan rumit dan membutuhkan biaya besar. Karena itulah ia mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih sederhana agar anak-anak muda kembali tertrik mempelajari tenun tradisional.

“Kita sempat kehilangan Tenun Tidore selama hampir 100 tahun. Salah satu penyebabnya karena orang merasa menenun itu sulit. Jadi saya ingin membuat orang, terutama anak-anak muda, merasa bahwa menenun itu asik, menyenangkan, dan bisa dilakukan siapa saja,” katanya.

Kegiatan yang berlangsung di KJRI Hamburg pada 30 Mei 2026 itu dibuat secara interaktif. Para pengunjung tidak hanya melihat kain hasil jadi, tetapi diajak ikut merasakan langsung proses menenun dari awal hingga akhir.

“Kegiatan ini unik karena bukan sekadar pameran. Peserta ikut merasakan prosesnya, mulai dari melihat kapas, benang putih, pewarna alam, sampai mencoba menenun sendiri,” ungkap Anita.

Ia membawa dua penenun yaitu Mei dan Risna, lalu membawa berbagai pewarna alami khas Maluku Utara seperti pala, cengkeh, daun mangga, hingga kunyit untuk memperlihatkan bagaimana kain tenun dibuat secara tradisional dan ramah lingkungan. Pengunjung pun tampak antusias mengikuti setiap proses dan mencoba alat tenun yang disediakan.

Selain tenun, Anita juga memperkenalkan berbagai produk khas Maluku Utara yang berasal dari rempah-rempah endemik seperti pala dan cengkeh. Produk UMKM, makanan khas seperti papeda, hingga informasi pariwisata Maluku Utara turut diperkenalkan kepada masyarakat Eropa.

“Saya benar-benar bangga karena waktu kita di Eropa ternyata banyak yang mengenal Tidore dan Ternate sebagai spice island. Sejarah rempah-rempah kita ternyata masih sangat dikenal dan dihargai di sana,” tuturnya.

Kebanggaan tersebut menjadi motivasi besar bagi Anita untuk terus memperkenalkan budaya Indonesia Timur ke dunia internasional. Ia menilai selama ini daerah-daerah di Indonesia Timur masih sangat minim mendapatkan kesempatan tampil di panggung global dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

“Selama ini kebanyakan yang pergi ke luar negeri itu dari Jawa, Sumatera, atau Bali. Dari Indonesia Timur masih sangat jarang. Jadi ketika kami hadir di sana, mereka merasa ada atmosfer yang berbeda dan itu sangat penting untuk kemajuan Indonesia Timur,” ujarnya.

Bagi Anita, perjalanan budaya ke luar negeri bukan hanya tentang promosi produk, tetapi juga tentang membangun rasa percaya diri para perajin dan penenun lokal agar menyadari bahwa karya mereka memiliki nilai tinggi.

Ia berharap suatu hari para penenun Tidore juga bisa merasakan pengalaman tampil di luar negeri dan melihat secara langsung bagaimana karya mereka dihargai oleh masyarakat internasional.

“Saya berharap penenun-penenun Tidore juga bisa pergi ke luar negeri. Bukan hanya untuk menjual produk, tetapi supaya mereka belajar dan paham bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah prestasi besar yang sangat dihargai,” katanya.

Menurut Anita, selama ini banyak penenun hanya menganggap aktivitas mereka sebagai pekerjaan biasa tanpa menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang menjaga identitas budaya bangsa.

“Mereka harus bangga karena mereka bagian dari orang-orang yang melakukan pelestarian budaya. Apa yang mereka buat itu sangat berharga dan dihargai sekali oleh banyak orang,” tutup Anita.

Simak video liputan Kabari dibawah ini: