Pegiat tenun asal Tidore, Maluku Utara, Anita Gathmir Kaicil, terus membawa budaya lokal ke panggung internasional.

Melalui tenun Tidore, Anita tidak hanya mengenalkan karya tradisional daerahnya ke berbagai negara, tetapi juga mengajarkan nilai sejarah dan identitas budaya kepada masyarakat dunia. Momentum Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei menjadi refleksi penting baginya untuk menyoroti peran pendidikan dalam menjaga warisan budaya Indonesia.

Pada 6 Mei 2026 lalu, Anita mendapat kehormatan menjadi narasumber di Universitas Humboldt Berlin, Jerman, kampus bersejarah yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap kajian sejarah dan budaya dunia. Dalam kesempatan tersebut, Anita berbicara mengenai keterkaitan tenun Tidore dengan sejarah besar Kesultanan Tidore dan Ternate di Maluku Utara.

“Di sana saya melihat Tidore, Ternate, Maluku Utara itu punya magnet yang sangat kuat sekali di masa lalu. Orang-orang di luar sana mengenal dan menghargai sejarah itu, tetapi justru kita sendiri di Indonesia, terutama di Tidore dan Ternate, banyak yang belum menyadarinya,” ujar Anita.

Menurutnya, pendidikan memiliki peran penting untuk menghidupkan kembali kesadaran generasi muda terhadap sejarah budaya daerahnya. Ia menilai materi tentang sejarah budaya lokal mulai tergerus dari sistem pembelajaran sekolah, padahal warisan tersebut merupakan aset besar bangsa yang dihargai dunia internasional.

“Saya berharap pemerintah lebih coneern lagi mengangkat sejarah budaya kita yang sekarang mulai terkikis. Perjalanan sejarah dan budaya ini harus dipaketkan dalam pendidikan dan pelajaran di sekolah supaya anak-anak muda tahu bahwa kita punya sejarah besar yang dihargai dunia,” katanya.

Bagi Anita, Hari Pendidikan Nasional penting diperingati karena menjadi pengingat bahwa pengetahuan dan rasa cinta terhadap budaya harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan identitas bangsa.

“Kita generasi yang sudah lebih dulu harus menyerahkan estafet pengetahuan dan rasa cinta kepada anak cucu. Caranya lewat pendidikan. Sekolah punya peran sangat penting untuk membentuk generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga mengenal aset dan sejarahnya sendiri,” ungkapnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini: