Bagi Juliana atau yang akrab disapa Juju, musik bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa universal yang mampu menyampaikan rasa dan pesan

Aktif sebagai pianis, pemain Chinese Harp atau Guzheng, sekaligus entertainer, Juju telah mendedikasikan dirinya untuk mengajar dan memperkenalkan keindahan alat musik tradisional Tiongkok itu kepada berbagai kalangan.

Perjalanan Juju bersama Guzheng dimulai sejak tahun 2003 saat ia belajar kepada gurunya, Eni Agustien. Ketertarikannya pada alat musik ini berawal dari rasa penasaran dan keinginan untuk mengeksplorasi dunia musik lebih luas sebagai seorang pianis.

“Awalnya saya ingin terlihat keren karena saya juga seorang pianis. Saya senang sekali dengan berbagai macam alat musik, selain itu bunyi kecapi atau Guzheng juga indah sekali,” ujar Juliana.

Kecintaan itu tumbuh menjadi panggilan hidup. Hanya dua tahun setelah mulai belajar, Juju sudah mulai mengajar Guzheng dan kecapi sejak 2005. Baginya, proses belajar musik harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan agar murid tidak merasa terbebani.

Dalam mengajar, Juju mengutamakan metode mendengar terlebih dahulu. Ia biasanya memberi contoh permainan kepada siswa, kemudian mengajak mereka mengikuti nada melalui nyanyian sebelum mempraktikkannya secara langsung, yang dipadukan dengan pemahaman teori musik.

“Kadang saya memberi contoh dulu, setelah mereka terbiasa mendengar, mereka ikut mendendangkan nada itu. Kalau sudah mengenal lagunya, biasanya lebih mudah dipraktikkan,” jelasnya.

Namun perjalanan mengajar tentu tidak selalu mudah. Menurut Juju, tantangan terbesar saat melatih pemula adalah rasa takut dan kurang percaya diri yang sering muncul bahkan sebelum mencoba.

“Terkadang murid merasa susah dan belum apa-apa sudah bilang tidak bisa. Karena itu saya berusaha mencari kesenangan mereka lewat lagu-lagu yang disukai atau dengan musik yang enak dan gerakan yang indah,” katanya.

Selain faktor mental, keterbatasan waktu latihan juga menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, Juju selalu menanamkan keyakinan bahwa kemampuan bermusik bisa berkembang selama ada kemauan dan ketekunan.

Lebih dari sekadar teknik bermain, Juju juga menanamkan filosofi mendalam tentang makna musik kepada para muridnya.

“Musik adalah bahasa yang universal dan dapat mewakili perasaan kita. Lagu sedih bisa terasa indah, lagu semangat memberi energi, bahkan musik juga bisa membawa pesan kita dalam berdoa,” ungkapnya.

Pengalamannya membimbing murid dalam kompetisi musik, baik di dalam negeri maupun internasional seperti di Singapore dan Hong Kong, semakin menguatkan keyakinannya bahwa Guzheng memiliki ruang luas untuk berkembang dan diapresiasi lintas budaya.

Bagi Juju, memainkan Guzheng bukan berarti membatasi diri pada satu budaya saja. Sebaliknya, alat musik ini justru menjadi jembatan yang menyatukan keberagaman.

“Saya ingin melestarikan budaya dan menyatukan budaya Indonesia yang sangat beragam dan indah. Walaupun ini musik kecapi China, Guzheng bisa memainkan semua jenis lagu dari berbagai negara,” tuturnya.

Di akhir perbincangan, Juju menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna bagi siapa pun yang ingin belajar Guzheng dari nol.

“Jangan patah semangat, dicoba dulu. Semua pasti bisa jika kita punya kemauan dan banyak berlatih,” pungkasnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini: