Kuliner khas Manado dikenal memiliki cita rasa kaya rempah dan menggugah selera. Namun, tidak sedikit masyarakat yang menganggap makanan khas Sulawesi Utara tersebut identik dengan harga mahal dan pilihan menu yang terbatas untuk konsumen muslim.

Berangkat dari hal itu, Alia Jessica selaku owner Dapur Mama Lina menghadirkan konsep restoran Manado halal yang nyaman, lezat, dan tetap terjangkau bagi semua kalangan.

Alia menjelaskan Dapur Mama Lina tidak hanya menyediakan makanan khas Manado, tetapi juga aneka minuman dan kue dengan konsep yang lebih “Affordable” bagi pelanggan. Menurutnya, restoran ini ingin membuktikan bahwa masakan Manado bisa dinikmati siapa saja tanpa harus menguras kantong.

“Biasanya makanan Manado itu identik mahal, tapi di sini kami ingin menyediakan masakan Manado yang halal dan ramah di kantong agar semua orang bisa menikmatinya,” ujar Alia.

Dapur Mama Lina kini telah memiliki dua cabang, yakni di Ciputat, Tangerang Selatan dan Bangka, Jakarta Selatan. Cabang di Ciputat telah berdiri hampir lima tahun, sementara cabang di Bangka telah berjalan sekitar tiga tahun.

Salah satu menu andalan yang menjadi ciri khas restoran ini adalah Rahang Tuna. Menu tersebut dinilai cukup unik karena tidak banyak ditemukan di restoran Manado lainnya. Untuk menjangkau lebih banyak pelanggan, Dapur Mama Lina menyediakan Rahang Tuna dalam dua ukuran dengan harga mulai dari Rp80 ribu hingga Rp105 ribu di luar pajak.

“Rahang Tuna ini makanan khas Manado yang cukup jarang ditemukan. Kami membuat dua ukuran supaya lebih fleksibel dan nyaman di kantong pelanggan,” jelasnya.

Di tengah persaingan bisnis kuliner Manado halal yang semakin berkembang di Jakarta, Alia mengaku fokus utama usahanya adalah menjaga kualitas bahan dan kesegaran makanan. 

Menurut Alia, strategi pemasaran yang diterapkan juga lebih mengandalkan kualitas dan kepuasan pelanggan dibanding promosi besar-besaran di media digital. Ia percaya promosi dari mulut ke mulut atau word of mouth masih menjadi cara paling efektif untuk membangun kepercayaan pelanggan.

“Kami percaya kalau pelanggan puas, mereka dengan sukarela akan merekomendasikan ke teman dan keluarga mereka. Itu yang membuat restoran kami berkembang sampai sekarang,” katanya.

Meski demikian, Alia mengakui tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis kuliner adalah terus berinovasi dan mendengarkan kebutuhan pelanggan. Salah satu contohnya adalah menghadirkan variasi ukuran Rahang Tuna setelah menerima masukan dari konsumen yang menginginkan harga lebih fleksibel.

Untuk saat ini, Dapur Mama Lina masih fokus mengembangkan dua cabang yang telah ada. Namun ke depannya, mereka berencana lebih aktif mengikuti berbagai event kuliner di sejumlah daerah seperti Bogor dan Bekasi sebagai langkah memperluas pasar sebelum membuka cabang baru.

Tak hanya berorientasi pada bisnis, Alia juga memiliki misi sosial melalui usaha kulinernya. Sebagian keuntungan Dapur Mama Lina disalurkan ke Yayasan Ibnu Sina Peduli atau Hands For Help yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan.

“Harapannya, semakin berkembang restoran ini maka semakin banyak juga orang yang bisa kami bantu melalui dana CSR dari restoran ini,” tutup Alia

Sumber Foto: Istimewa

Simak liputan Kabari dibawah ini: