Tumpukan limbah rumah tangga yang kerap dianggap tidak berguna ternyata menyimpan potensi ekonomi yang besar. Berangkat dari kepedulian terhadap permasalahan tersebut, mahasiswa Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR dari konsentrasi Public Relations & Digital Communication kelas PRDC27-ISP menghadirkan program Community Development bertajuk “Pesanggrahan Berpijar” di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak pembuangan minyak jelantah secara sembarangan sekaligus mengenalkan berbagai cara pengolahannya menjadi produk bernilai jual.
Kegiatan yang berlangsung di RPTA Nusantara Ulujami ini menghadirkan konferensi pers, workshop pembuatan lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah, serta pameran edukatif yang menampilkan berbagai hasil olahan limbah tersebut.
Wakil Ketua Pelaksana, Muhamad Reza Firdaus, menjelaskan masyarakat perlu mengetahui bahwa minyak jelantah tidak harus berakhir di saluran air atau tempat sampah. “Tujuan kami adalah memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa limbah minyak jelantah yang selama ini mungkin hanya dibuang ke selokan ternyata bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi seperti lilin aromaterapi, biodiesel, maupun sabun,” ujarnya.

Menurut Ketua Pelaksana, Chrisyella Cysile Tanada, program ini lahir dari proses riset yang dilakukan mahasiswa terhadap berbagai persoalan lingkungan di Jakarta. Dari hasil penelitian tersebut, limbah rumah tangga berupa minyak jelantah menjadi salah satu isu yang dinilai paling mendesak untuk ditangani.
“Kami memulai dengan melakukan riset primer dan sekunder untuk mencari isu yang paling urgent. Setelah menemukan bahwa limbah minyak jelantah menjadi salah satu masalah utama, kami menyusun proposal dan merancang solusi yang dapat diterapkan langsung kepada masyarakat,” jelasnya.
Upaya edukasi tidak hanya dilakukan saat acara utama berlangsung. Sebelumnya, tim Pesanggrahan Berpijar juga mengadakan sosialisasi di SMA Perwira Jakarta untuk memperkenalkan potensi pengolahan minyak jelantah kepada kalangan pelajar. Reza mengatakan bahwa pendekatan tersebut dilakukan agar pesan yang dibawa program ini dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
“Kami mengenalkan pengelolaan minyak jelantah sejak pre-event melalui sosialisasi di sekolah. Hari ini para siswa juga hadir untuk ikut praktik membuat produk dari minyak jelantah sehingga mereka bisa merasakan langsung manfaatnya,” katanya.

Selain melibatkan pelajar, kegiatan ini juga mengundang ibu-ibu PKK Kelurahan Ulujami dan anggota Karang Taruna. Melalui workshop interaktif, peserta diajak mempraktikkan secara langsung proses pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Chrisyella berharap pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran sekaligus keterampilan baru yang bermanfaat bagi masyarakat. “Harapannya masyarakat bisa lebih dekat dengan isu lingkungan dan mendapatkan pengalaman langsung bagaimana minyak jelantah dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat,” tuturnya.
Respon masyarakat terhadap program ini pun terbilang positif. Reza mengungkapkan bahwa dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah, dosen, hingga peserta yang menjadi target audiensi program.
“Yang terpenting bagi kami adalah pesan ini bisa menyebar dari mulut ke mulut. Alhamdulillah, feedback yang kami terima sangat positif karena masyarakat mulai memahami bahwa minyak jelantah memiliki nilai dan bisa dikelola dengan baik,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, Pesanggrahan Berpijar juga membawa pesan bagi generasi muda untuk berani terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan sosial dan lingkungan. Chrisyella mengajak anak muda untuk tidak ragu belajar dari masyarakat dan berkontribusi melalui langkah-langkah sederhana.

“Impact yang baik tidak harus dimulai dari hal besar. Hal kecil yang dilakukan secara konsisten dan dengan hati yang tulus juga dapat memberikan perubahan yang berarti,” katanya.
Senada dengan itu, Reza menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan. “Jangan terlalu tinggi gengsinya. Kita adalah generasi yang seharusnya bisa memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat. Saatnya melakukan apa yang memang perlu dilakukan untuk lingkungan dan sesama,” ujarnya.
Ke depan, tim Pesanggrahan Berpijar berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Mereka ingin ilmu yang telah dibagikan dapat terus diterapkan oleh masyarakat dan menjangkau khalayak yang lebih luas melalui publikasi media serta kampanye digital.
Sebagai penutup rangkaian program, tim akan menghadirkan booklet edukasi praktis pembuatan lilin aromaterapi dalam versi cetak dan digital, serta kampanye berkelanjutan melalui User Generated Content (UGC) dan video rekap di Instagram. Langkah ini diharapkan dapat menjaga semangat masyarakat untuk terus mengelola limbah rumah tangga secara bijak demi mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Simak liputan Kabari di bawah ini

