Vicky Dwi Cahyanti, Owner dari Alexa Sofa Home Interior & Repair Service, merasakan benar pandemi corona atau Covid-19 memberikan dampak pada bisnisnya.
 
Bagaimana tidak? Setelah pengumuman resmi pemerintah ada yang positif Virus Corona di Jakarta tahun lalu, banyak pelanggan yang ingin cepat kelar pesanan sofanya.
 
“Iya berdampak, banyak klien pelanggan kita ini yang ingin buru-buru kelar sebelum Jakarta lockdown. Ada juga yang sudah kelar tetapi kita tidak bisa antar mereka keluar Jakarta,” tutur Vicky. “Kita juga ada proyek juga ditunda dulu pengiriman. Soalnya restorannya sudah mulai tutup. Mau nagih ke klien juga gimana, kasian.”
 
Tapi Vicky berujar sampai saat ini orderan untuk sofanya masih tetap jalan.”Kalau kerjaan sih Alhamdullilah. Cuma banyak yang ingin buru-buru selesai kelar ‍sampai-sampai tukang saya lembur,” tuturnya. Vicky berharap  pandemi cepat selesai dan perekonomian Indonesia kembali pulih.
 
Alexa Sofa, kata Vicky, bisa dibilang usaha keluarga. Berawal dari kakaknya yang memulai bisnis ini duluan.  Kakaknya kebetulan mengerti seluk beluk bisnis sofa dan furniture karena pernah bekerja di perusahaan furniture. Lantas berkeinginan ingin buka sendiri bisnis sofa.
Saat itu di tahun  2014-2015, keinginannya terwujud dan bisnis sofanya mulai berjalan.  Selang beberapa tahun, Vicky masuk mengembangkan bisnis sofanya.
 
“Awalnya itu buka usaha di Cibubur, namun karena tempatnya sempit lalu pindah ke tempat yang lebih besar lagi disini. Alexa Sofa ini memperbaiki segala jenis sofa dan juga memproduksi segala macam sofa,” kata Vicky.

Untuk produksi, Alexa Sofa yang beralamat di Jl. Raya Leuwinanggung, Leuwinanggung, Kec. Tapos, Kota Depok, ini menggunakan kayu meranti untuk sofa. Kualitas kayu meranti berbeda dengan kayu pres. Pasalnya, kayu meranti cenderung kuat dan tahan lama. Dan mendapatkan bahan kayu Meranti tidak jauh dari lokasinya di Leuwinanggung. “Oh iya kami juga menggunakan kayu jati tapi bukan untuk rangka sofa,” imbuhnya.

Segmen pasar yang disasar Alexa Sofa pun untuk semua kalangan. Vicky bercerita, banyak orang bilang Alexa Sofa kemahalan. Tapi mahalnya harga tentu sejurus degan kualitas yang diberikan.  

“Kalau yang di pasar busanya sedikit dan bawahnya banyak limbahnya. Beda dengan sofa yang kita produksi, full busa dan tidak ada limbah dalam sofa,” tuturnya yang menambahkan Alexa Sofa memberikan garansi lima tahun untuk busanya.

Alexa Sofa pun selalu mencoba memanjakan konsumennya. Caranya, dengan membuat sofa berdasarkan dengan keinginan konsumen atau costum.

“Kami juga menjual dengan memberikan contoh terlebih dahulu, kemudian mengukur terlebih dahulu ukuran dari rumah konsumen terutama pintu, takutnya sofanya nanti tidak masuk kalau tidak diukur terlebih dahulu.”

Akan halnya soal harga, Vicky berujar harga sofa yang dijualnya itu bervariasi, tergantung dengan kompleksitas sofa yang dibuat.  Dengan dibantu sembilan pekerja, dalam sebulan Alexa Sofa dapat memproduksi 10 set sofa, sementara untuk repainting dan reparasi bisa mencapai 30 set sofa.

Sekarang ini, Alexa Sofa sementara masih menyasar pasar di Jabodetabek. Walaupun daerah lain semisal Kalimantan dan luar negeri pernah dirambahnya. “Pernah juga Alexa Sofa mengirimkan 6 set kesana karena ada temen yang order ke kita,” kata Vicky.

Untuk pemasarannya, Alexa sofa banyak mengandalkan jalur online dan offline, atau mulut ke mulut. “Bisa dibilang perpaduan semuanya kita gunakan,” tambahnya. Terkadang pula dari promosi mulut ke mulut, Vicky berhasil deal yang untungnya terbilang banyak.

Namun tentu menjalankan suatu bisnis pasti ada kendala yang dihadapi. Vicky sedikit bercerita kendala utama yang dihadapinya, yaitu soal waktu. Ya, deadline! kadang dirinya suka bilang terlebih dahulu ke konsumen, buru-buru atau tidak sofa yang dipesannya ingin dibuat. Pasalnya, Vicky selalu menjunjung tinggi kualitas untuk menghindari komplen dan cacat produksi.

“Hal ini yang saya coba hindari, komplen, karena Alexa Sofa selalu mementingkan kualitas” tuturnya yang punya harapan ingin buka cabang Alexa Sofa di tempat lain.