Rosiana Alim pernah mengalami suatu masa dimana dirinya merasa marah, putus asa dan segala macam perasaan lainnya. Sepuluh tahun berjuang. Tentu bukanlah waktu yang singkat untuk dilalui. Berbagai cara telah dilakulan untuk mendapatkan keturunan, buah hati yang dinanti.

Dalam masa penantiannya, Mizz Rosie, sapaan akrab Rosiana Alim, sering merasa tidak ada wadah bagi pejuang dua garis seperti dirinya untuk bertatap muka, berkomunikasi, memberi support, dan berbagi cerita bersama teman-teman yang senasib sepenanggungan.

Sejalan dengan itu, kemudian dia berinisiatif membuat komunitas untuk mengayomi wanita-wanita yang mengalami hal terkait fertilitas.

“Komunitas menuju dua garis dibuat sebagai wadah mereka yang ingin menuju dua garis. Dua garis yang berarti positif yang ada di test pack. Latar belakang komunitas ini berdiri karena kisah kita yang berjuang untuk mendapatkan buah hati,” kata Mizz Rosie kepada KABARI.

Dibentuk tahun lalu tepatnya April 2021, tak butuh waktu lama komunitas ini langsung menjaring banyak anggota. Walaupun komunitas terbentuk di Surabaya, namun banyak anggota berasal dari luar kota pahlawan seperti dari Jakarta. “Jadi sewaktu membentuk komunitas itu pas saya melakukan program bayi tabung di Jakarta,”tuturnya.

Sejauh ini dalam grup telegram, anggota komunitas telah mencapai ribuan orang yang mengalami hal terkait fertilitas. Rosie juga merambah website, YouTube, dan mengaktifkan semua jenis platform medsos agar komunitas itu mudah ditemukan.

Dalam komunitas, sharing informasi perihal fertilitas dan tips-tips dari sudut pandang medis sering dilakukan. “Jika ada pertanyaan kita akan berikan dokter untuk memberikan penjelasan kemudian kita share ke anggota-anggota komunitas dan social media,” imbuh Mizz Rosie.

Edukasi fertilitas perlu sering diberikan. Tujuan edukasi adalah menyalurkan informasi yang kebenarannya dapat dipercaya dan kredibel. Dirinya ingin para anggota ataupun yang bukan anggota mendapatkan informasi yang benar dan solusi yang tepat.

“Yang takut bertanya dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa, karena kalau bertanya ke orang yang pernah mengalami tentu akan berbeda dengan mereka yang pernah alami.”

Dalam komunitas, dukungan / support secara mental juga tak kalah pentingnya, baik itu mentalitas ketika gagal dan kedua mentalitas ketika berhasil.

“Banyak yang merasa gagal dan menjadi aib, ketika belum punya anak. mereka dalam tekanan dan merasa tidak terbebas dari perasaan-perasaan seperti rasa iri, bersalah dan lainnya. saya ingin mereka punya rasa kebahagian selama masa menunggu untuk punya anak.”

Rosie bercerita banyak anggota dengan kasus uniknya masing-masing. Ada yang sampai 10-15 tahun menunggu ingin punya anak. Bahkan ada anggota wanita yang lahir tanpa rahim, sehingga tidak bisa melahirkan normal tetapi punya indung telur dan hanya bisa hamil dengan ibu pengganti.  

Selain itu ada yang wanita usianya masih muda tetapi cadangan indung telurnya sudah habis jadi monopuse dini dan banyak kasus unik lainnya.

Ya! Komunitas ini saling menguatkan para anggotanya dan memberikan solusinya, berbagi informasi yang bermanfaat dan berguna bagi para anggotanya.

Rosie berharap pejuang dua garis lebih membuka mata untuk cari lebih tahu mengenai fertilitas yang berdasarkan atas fakta jangan hanya mendengar kata orang lain saja.

Setelah up grade diri, pejuang dua garis agar tetap bahagia dalam masa menunggu punya anak.

“Bahagia adalah sebuah keputusan apapun keadaan. jika merasa sendiri bergabunglah dengan komunitas agar tidak sendiri, bisa saling sharing dan mendukung satu sama lainnya. IG @menujuduagaris.id
dan www.menujuduagaris.id.” pungkasnya.