Di usianya yang baru menginjak 10 tahun, Teresa Sylviliana Chianiago sudah mengukir banyak cerita yang jarang dimiliki anak seusianya. Lahir di Jakarta pada 17 November 2014, Teresa tumbuh sebagai anak penuh energi yang menyalurkan bakatnya dalam dua dunia berbeda: kolam renang dan musik.
Renang, Rumah Kedua di Dalam Air
Kecintaan Teresa pada air sudah muncul sejak usia 3 tahun. Awalnya hanya sekadar bermain cipratan air, tetapi kegembiraan itu membuat orangtuanya mendaftarkannya ke les renang saat masih TK. Bakatnya semakin terlihat ketika ia bergabung dengan klub renang di kelas 3 SD.
“Air itu rumah keduaku,” kata Teresa. Baginya, air bukan hanya tempat berolahraga, tetapi juga ruang meditasi, tempat ia merasa rileks dan bisa berdialog dengan dirinya sendiri.
Dari renang biasa, ia merambah cabang olahraga akuatik lain: renang indah dan loncat indah. Tak heran jika jadwalnya begitu padat setiap minggu. Mulai dari bangun pagi jam 5, berdoa, sekolah, hingga latihan renang, ice skating, badminton, silat, bahkan paduan suara. “Prinsipku, kalau bisa membuat hidup lebih bermakna, kenapa harus malas-malasan,” ujarnya.

Kerja keras itu berbuah prestasi. Usia 7 tahun, ia sudah mengikuti lomba Oceanman di Bali, berenang sejauh 1.000 meter di laut lepas dan meraih medali perak serta masuk 15 besar kids Asia Pasifik.
Usia 8 tahun, ia menyabet juara 3 gaya punggung di kejuaraan antar pelajar DKI Jakarta. Setahun kemudian, ia menjadi juara 1 gaya bebas dan kupu di lomba renang Hicoah. Puncaknya, di usia 10 tahun, Teresa berhasil menjadi juara 1 Piala Kemenpora untuk gaya bebas dan kupu, serta juara 3 di ajang internasional loncat indah.
Bagi Teresa, para pelatihnya yang berkelas dunia adalah inspirasi besar. “Coach Albert dan Felix Sutanto, Coach Michael Klim, dan Coach Patricia Yosita, mereka semua membuatku ingin terus berjuang,” ujarnya.
Musik, Suara dari Hati
Selain berprestasi di kolam renang, Teresa juga menemukan panggilan lain: bernyanyi. Sejak bayi, ia sudah tak bisa diam setiap kali mendengar musik. Dari sekadar penyanyi kamar mandi, bakatnya semakin terasah setelah ibunya mendaftarkannya ke les vokal.
Pandemi justru menjadi titik balik. Waktu di rumah ia isi dengan bernyanyi setiap hari, mengeksplor lagu anak-anak hingga lagu-lagu lawas favorit ibunya. Dari sana lahirlah keinginan untuk menciptakan lagu sendiri.
Single pertamanya, “Indonesiaku Tercinta”, lahir spontan ketika ia diminta tampil di sebuah acara 17 Agustus di mall. Dengan bekal puisi yang ia buat, Teresa menciptakan melodi sendiri dan langsung membawakannya di atas panggung. Usianya saat itu baru 8 tahun.
Tak berhenti di sana, single kedua “Ayah Bundaku Tercinta” justru lahir saat ia sakit demam tinggi hingga harus dirawat. Dengan sisa tenaga, ia menulis lirik di atas kertas, dan setelah sembuh, lagu itu direkam di studio.
Lagu berikutnya, “Tuhanku Tercinta”, lahir dari momen spiritual ketika Paus Fransiskus memberi pesan agar dunia medsos dipenuhi kebaikan. Lagu ini semakin bermakna ketika Paus meninggal dan digantikan Paus Leo. Tepat saat asap putih mengepul di Vatikan, lagu Teresa berkumandang di platform musik digital.
Inspirasi bagi Teresa datang dari kesehariannya, perasaan yang ia alami, bahkan momen-momen kecil bersama keluarga. “Kalau aku tak bisa mengungkapkan lewat kata-kata, aku nyanyikan lewat lagu,” ungkapnya.

Dukungan dan Harapan
Keluarga dan teman-temannya selalu menjadi penyemangat terbesar. Di sekolah, Teresa kerap diminta menyanyikan lagu-lagunya dalam berbagai acara. Ia juga memiliki idola besar seperti Whitney Houston, Mariah Carey, dan Celine Dion penyanyi dengan vokal bernada tinggi yang menantang baginya.
Ketika ditanya mana yang lebih sulit, renang atau rekaman lagu, Teresa menjawab polos, “Renang lebih sulit, karena seluruh badan harus gerak. Kalau rekaman, badan diem, cuma mulut aja yang kerja.”
Semangatnya pun seolah tak pernah padam. “Sejak bayi, dokter menyebutku happy baby. Mau sakit apapun aku tetap bisa tersenyum,” katanya. Baginya, setiap piala, medali, dan lagu adalah persembahan untuk Tuhan dan hadiah kecil bagi kedua orangtuanya.
Menjelang ulang tahunnya yang ke-11, Teresa sudah menyiapkan beberapa lagu baru, seperti “Guruku Tercinta” dan “Bestieku Tercinta”. Ia berharap segera merilis album berisi delapan single yang ia ciptakan sendiri.
“Bernyanyi itu sudah ada di darahku. Aku tidak bisa hidup tanpa itu,” ucapnya
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 217

