Desain gedung 19 lantai yang dirancang 11 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) masuk 10 besar dan raih best poster pada ajang EERI Seismic Design Competition yang diselenggarakan di Salt Lake City, Utah, USA.

Diberi nama Gatot Tower terinspirasi dari Gatot kaca merupakan salah satu tokoh pewayangan yang paling dikenal masyarakat Indonesia dan dijuluki otot kawat tulang besi.

 “Tantangan dalam kompetisi ini adalah merancang bangungan tinggi yang mampu bertahan dari gempa. Selain memperkuat konsep struktur desain Gatot Tower, tim kami juga memasukkan unsur kearifan lokal Indonesia dan Salt Lake City pada arsitektur bangunan. Kami mengambil inspirasi dari desain rumah panggung Indonesia dan karakteristik bangunan cliff dwelling Salt Lake City dalam perancangan Gatot Tower,” ujar ketua tim FTUI, James Andrean Noel.

Bersama dengan James, Tim FTUI lainnya terdiri atas mahasiswa Departemen Teknik Sipil dan Departemen Arsitektur FTUI angkatan 2019, yaitu Fahmi Katab, Naufal Budi, Ferdinand Trestanto, Michael Loreantz, Kanaya Diva, Eric Renaldy, Gagas Wicaksana, Juan Fidel, Adinda Khairunnisa, dan James Paul Arthur. Dalam perancangan Gatot Tower, tim FTUI dibimbing oleh dosen dan guru besar FTUI, Dr. -Ing. Josia Irwan Rastandi, S.T., M.T. dan Prof. Ir. Widjojo A. Prakoso, M.Sc., PhD., G. Eng.

“Struktur bangunan Gatot Tower juga dirancang dengan area inverted yang menjadi keunikan desain tersendiri. Dari segi ekonomi, bangunan ini memiliki efisiensi antara revenue dan performa seismic yang sangat tinggi. Dibandingkan pada rata rata bangunan di USA yang hanya 80% efisiensi revenue-nya, Gatot Tower terbukti memiliki efisiensi revenue lebih dari 95%,” kata Naufal.

Dari segi kekuatan struktural, bangunan Gatot Tower menggunakan material balsa, teknologi shear wall serta dinding geser untuk meningkatkan kemampuan performa seismik. Bangunan Gatot Tower mampu menahan gempa berdasarkan data ground motion yang dihasilkan saat dilakukan pengujian menggunakan meja getar di hadapan dewan juri di Salt Lake City. Gedung rancangan tim FTUI ini mampu bertahan menghadapi gempa hingga 5.5 SR.

Dekan FTUI, Prof. Dr. Heri Hermansyah, ST., M.Eng., IPU menyampaikan apresiasinya atas prestasi yang telah diraih tim mahasiswa FTUI pada kompetisi yang berlangsung pada 1-3 Juli 2022.

 “Terbukti bahwa kolaborasi dan teamwork yang unggul antara teknik sipil dan arsitektur dapat menghasilkan inovasi rancang gedung yang baik. Saya berharap inovasi ini dapat diimplementasikan pada daerah-daerah rawan gempa di Indonesia. Inovasi pemecahan masalah karya anak bangsa perlu mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari semua pihak untuk dapat terus dikembangkan agar berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.