Dosen Universitas California Berkeley, Amerika Serikat, sekaligus pencinta budaya Sunda Margot Rose Lederer mengatakan, seni Sunda tidak pernah padam untuk terus berkiprah di di AS.

Hal tersebut disampaikan Margot saat menjadi mengisi kuliah umum bertajuk “Dual Perspectives: Fifty Years of Sunda-California Cultural Exchange” yang digelar Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang FIB Unpad, Jatinangor, Kamis, bebera.pa waktu lalu.

  Margot mengatakan, kesenian Sunda yang mencakup musik, drama, atau teater berkembang di California. Di Negeri Paman Sam sendiri, kesenian Sunda berupa musik gamelan termasuk jenis kesenian Nusantara yang telah dipertontonkan sejak 1933, yaitu pada World’s Columbian Exposition di Chicago.

Hingga saat ini alat musik tersebut masih tersimpan dengan di Field Museum Chicago. Tidak berhenti begitu saja, kesenian Sunda terus berkiprah dalam banyak perhelatan global yang diadakan di Amerika, Asia, Afrika, maupun Eropa.

“Pada praktiknya, banyak pula seniman hebat Indonesia khususnya Sunda yang terlibat seperti Enoch Atmadibrata, Irawati Durban Ardjo, Nugraha Sudiredja, Nining Sekarningsih, Rucita, Undang Sumarna dan Endo Suanda,” papar Margot.

Di California sendiri, seni Sunda telah berkembang sejak 1974 dan masih dijaga dengan baik sampai saat ini. Seperangkat alat musik gamelan dapat ditemui di beberapa lembaga pendidikan di California, seperti di University of California Santa Cruz dan University of California UC Davis.

“Begitu pula dengan kesenian lain, seperti wayang golek, teater atau drama, juga tari rampak yang kerap dimainkan dan diperkenalkan,” tuturnya.

Margot juga berkisah mengenai kecintaannya terhadap budaya Sunda. Selain faktor keluarga yang membangun kecintaanya akan budaya, ia juga memiliki pemikiran bahwa seni dan budaya merupakan salah satu cara mengekspresikan kepeduliannya pada sosial, alam, dan ekonomi. Kelembutan dan emosi yang terasa dalam seni musik Sunda, di antaranya dari alunan suling, gesekan rebab, dan tabuhan kendang yang menggebu makin menumbuhkan kecintaan Margot pada seni Sunda.

Hal ini yang menjadi alasan bagi Margot untuk terus mengenal dan serius menekuni seni Sunda. Margot pun kini pandai membawakan tari Kupu-kupu dan tari Sulintang. Kepandaiannya menari didasarkan karena faktor bahwa ketika menari, seorang perempuan tidak dibatasi gender yang dilekatkan pada dirinya.

“Saat menari seorang perempuan berhak untuk menjadi apapun dan membawakan peran apapun sesuai dengan apa yang ingin disampaikannya. Melalui tarian seorang perempuan diberi kebebasan untuk berekspresi,” ujar Margot.

Tidak hanya mendalami di California, Margot juga mendatangi Indonesia demi mempelajari berbagai tarian Sunda. Salah satu wilayah yang didatanginya ialah salah satu desa di Cirebon. Karena ketertarikannya inilah Margot menjalin relasi dan silaturahmi dengan berbagai lembaga guna mempertahankan, mengenalkan, dan mengembangkan budaya Sunda di kancah internasional.

Hubungan pertukaran budaya Sunda dengan California diharapkan menjadi suatu hal positif yang akan memiliki hubungan timbal balik yang berdampak baik bagi keberlangsungan budaya Sunda. Kerja sama internasional yang dibangun diharapkan bisa semakin menguatkan eksistensi budaya Sunda dalam skala global. Kecintaannya pada kesenian Sunda sangat berpengaruh pada kepakarannya di bidang perencanaan kota.

 Margot memaparkan, kebudayaan sangat berperan dalam proses perencanaan kota.

“Untuk menciptakan ruang publik dan membuka pikiran yang kreatif, sudah seharusnya unsur budaya dipertimbangkan lebih dalam guna menghargai sejarah dan perjuangan orang-orang hebat dibalik terciptanya seni dan budaya tersebut,” tuturnya.