Susilawati, pemilik Susi Songket Jambi, membuktikan keterbatasan bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjuangan. Usaha yang ia rintis berangkat dari kondisi keluarga yang serba sederhana.
Tinggal di bedeng kontrakan kecil yang bergabung dengan bengkel las milik sang suami, Susilawati bertekad mencari peluang tambahan agar dapat hidup lebih baik dan terpisah dari risiko bengkel.
“Dulu kami tinggal di bedeng kontrakan kecil yang tergabung dengan usaha suami yaitu bengkel las, karena sering kali terjadi insiden kecelakaan yang menimpa anak anak, makanya saya mencoba cari peluang tambahan agar bisa mengontrak tempat baru, jadi tinggal terpisah dari bengkel las suami,” tuturnya kepada KABARI.

Berbekal kemampuan menenun yang dimilikinya, Susilawati melihat peluang besar pada songket Jambi yang saat itu belum banyak digarap. Dengan harapan membantu perekonomian keluarga sekaligus memberdayakan ibu rumah tangga, ia pun mendirikan Susi Songket.
Produk yang ditawarkan bukan hanya kain tenun dengan motif khas, tetapi juga beragam kolaborasi bersama UKM lain, seperti tas songket, busana, home dekor, hingga aksesori lacak.
Susi Songket juga memberi perhatian pada kualitas produk, mulai dari penggunaan bahan baku benang katun, sutra, hingga metalik dan rayon yang nyaman dipakai, serta kemasan hard box elegan yang dilengkapi paperbag. Proses produksinya pun melalui tahapan seleksi warna, bahan, serta uji coba motif sebelum benar-benar dipasarkan.
Dalam hal desain, Susi Songket menghadirkan inovasi yang menggabungkan motif tradisional dengan inspirasi flora, fauna, sejarah batik Jambi, hingga mereplikasi songket kuno koleksi museum provinsi dengan tingkat akurasi tinggi.
Salah satunya adalah motif Seluang Mudik dari Kabupaten Sarolangun, yang sarat filosofi tentang pentingnya pulang ke asal, gotong royong, serta kelincahan dalam hidup. Kini, lebih dari 20 motif Susi Songket telah resmi memiliki hak cipta.
Sempat Terpuruk
Perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Susilawati sempat menghadapi keterpurukan besar saat pandemi, hingga terlilit utang Rp2 miliar dan terpaksa menjual seluruh aset untuk membayar bank.
“Saat merintis usaha saya adalah ibu rumah tangga biasa yang mempunyai 6 orang anak yang jarak lahir mereka dekat, dengan modal terbatas, saya berjuang mengurus anak serta merintis usaha, tentunya banyak drama yang dihadapi seiring waktu. usaha suami dan usaha saya terus berkembang, kami sudah memulai memakai perbankan untuk modal usaha. Hingga sampai usaha kami tak terkendali, puncaknya masa pandemi kami yang sudah terlilit hutang sampai 2M. usaha saya dan suami anjlok. kami memutuskan menjual semua aset untuk menyelesaikan hutang bank,” kata Susi.

Tahun 2021 menjadi titik nol, ketika ia bahkan tak sanggup membayar upah penenun. Namun, semangat para penenun yang tetap bekerja meski belum dibayar, serta dukungan keluarga, membuatnya bangkit kembali.
Bangkit Lagi
Kebangkitan Susi Songket ditandai dengan prestasi di ajang Pekan Kebudayaan Nasional 2021, di mana karyanya meraih penghargaan Best Creation dengan desain motif “Kenyok Dewek” yang sudah terdaftar hak cipta.
Sejak saat itu, Susi Songket semakin percaya diri menatap peluang pasar ekspor, terutama ke negara rumpun Melayu seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura.

Kini, Susi Songket terus berupaya mempertahankan kualitas dengan dukungan penenun berpengalaman hingga 35 tahun. Perbaikan alat tenun, modifikasi teknik, serta inovasi motif dilakukan secara rutin untuk menjaga mutu. Strategi pemasaran pun diperluas dengan mengikuti kompetisi, pameran, dan promosi digital melalui media sosial.
Bagi Susilawati, Susi Songket bukan hanya tentang bisnis, tetapi juga misi untuk menjaga warisan budaya leluhur. Dari keterbatasan, ia melangkah menuju keberdayaan, menjadikan songket Jambi sebagai kebanggaan daerah yang berpotensi mendunia.
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 217

