Abdul Aziz menceritakan awal mula bergabung dengan Sanggar Gantari Gita Khatulistiwa pada tahun 2013. “Saat itu saya bergabung, belum ada kelas musik,jadi saya hanya fokus megiringi tarian. Namun, berjalannya waktu minat musik tradisional mulai ada. Sekarang bahkan ada 4 kelas musik tradisional,” kisahnya.

Di Sanggar Gantari Gita Khatulistiwa mengajarkan semua alat musik Nusantara. “Yang paling dominan kita pelajari itu, perkusi melodis,” katanya.

Dikatakan Abdul, dalam mengajarkan alat musik, tentu berbeda-beda tiap orang. Karena itu, biasanya ia mengajarkan hal-hal dasar.

“Jadi saya mengajarkannya dari yang paling sederhana, ketika basic-nya mereka sudah kuasai, baru nanti saya mulai spesifik ke karakter ke instrumen. Misalnya gendang itu permainannya lebih variatif dibandingkan instrumen yang lainnya seperti bedug. Dalam pengajaran, biasanya pakai sol mi sa si seperti do re mi fa sol, itu saya terapkan supaya anak-anak mudah mengingat nadanya,” terangnya.

Sebelum mengajarkan cara memainkan alat musik, biasanya Abdul menjelaskan tentang asal muasal dan sejarah alat musik tersebut. “Jadi anak-anak selain belajar dan bermain alat musik, mereka juga dibekali dengan pemahaman dan pengetahuan tentang alat musik tradisional itu sendiri,” ucapnya.

Menurut Abdul, tidak mudah membangkitkan minat anak-anak untuk belajar musik tradisional. Karena itu, harus berkreasi pada materinya. Misalnya mengelaborasi antara musik tradisional dan musik modern. “Saya juga tanamkan ke anak-anak bahwa penting untuk melestarikan musik tradisional,” katanya. kalau bukan kita siapa lagi yang melestarikannya.

Lalu apa mimpi yang ingin diwujudkan? “Saya ingin membawa nama Indonesia di kancah internasional, tentunya dengan mengenalkan musik tradisional yang sangat banyak dan beragam sehingga musik tradisional Indonesia bisa diakui di mancanegara,” pungkasnya.

Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 219

Simak liputan Kabari dibawah ini