Diceritakan Abi, sejak masih duduk di bangku sekolah, sudah menekuni dunia tari. “Sejak SMK saya menari kemudian saya lanjut di Universitas Negeri Jakarta, jurusan Pendidikan Tari,” jelasnya.

Sejak tahun 2021, Abi bergabung sebagai pelatih tari di Sanggar Gantari Gita Khatulistiwa. Abi mengajarkan beragam tarian, mulai dari tari Banyumasan, tari Sunda, ada tari Jawa Timuran, tari Papua hingga tari Kalimantan.

Dalam mengajarkan aneka tarian kepada anak-anak, biasanya Abi menstimulus agar anak-anak bergerak sesuai ritme. “Karena pada dasarnya, tari adalah gerakan yang indah,” ucapnya.

Abi pun selalu memotivasi anak-anak didiknya, untuk mencintai tarian nusantara yang merupakan kekayaan bangsa Indonesia. “Saya selalu bilang ke anak-anak, kalau bukan kita yang melestasikan tarian kita, siapa lagi yang bisa melakukannya,” tukasnya.

Menurut Abi, seorang anak bisa menguasai suatu tarian membutuhkan waktu hingga 6 bulan.  Namun, di 3 bulan awal, akan diberikan materi tentang tarian tersebut. Selanjutnya tiga bulan kemudian,

belajar mengatur rasa, pola lantai, hingga kemasan pertunjukan, seperti apa yang akan kita sampaikan kepada penonton nantinya,” jelasnya.

Bagi Abi, menari memiliki banyak manfaat. Karena menari maka badan bergerak. “Jadi kita melatih kekuatan otot, kekuatan jari-jari tangan, kaki, keseimbangan kanna kiri. Jadi bukan hanya digerak tetapi kita juga belajar melatih masa memori/ingatan,” tuturnya.

Para penari di Sanggar Gantari Gita Khatulistiwa telah meraih banyak prestasi diberbagi negara. Sebut Praha, Republik Ceko; Polandia; Brunei Darussalam; Malaysia; dan  Korea Selatan.  “Saat mentas, biasanya kita membawakan i tarian Papua, Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Bali,” katanya.

Abi pun berharap agar ke depannya, seni tari semakin maju, dan semakin semangat untuk melestarikan budaya Indonesia ke generasi penerus.

Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 219

Simak liputan Kabari dibawah ini