Gantari Gita Khatulistiwa berdiri pada 1 Juni 2013. Di sanggar Gantari Gita Khatulistiwa mengajarkan berbagai tarian nusantara, dari Sabang sampai Merauke. Ada tarian dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua.

Di antara berbagai tarian yang diajarkan, dikatakan Cheelvy, semua tarian mereka sukai. Tidak ada yang spesifik. “Karena tiap daerah punya keunikan tarian, yang pasti anak – anak suka dengan musik yang dinamis,” jelasnya.

Menurut Cheelvy, umumnya setiap anak membutuhkan waktu enam bulan hingga menguasai satu tarian.

Tak hanya tarian, di Gantari Gita Khatulistiwa juga diajarkan music tradisi. Sebut saja, Kromong, Saron, Angklung, Rebana, Gendang, juga alat musik petik, dan alat musik gesek seperti Rebab, dan Tehyan.

Di tengah arus globalisasi, Cheelvy bersyukur, masih banyak generasi muda Indonesia yang mau belajar tari tradisional dan musik tradisi.

“Alhamdulillah, di era sekarang ternyata banyak Gen Z yang menyukai musik tradisional. Jadi  pengajaran kami di sini, seperti musik tradisional dengan nada dasar seperti nada dasar piano, jadi melafalkannya tidak susah,” jelasnya

Apa harapan ke depan? “Harapan ke depannya semoga generasi muda tetap terus menjaga budaya Indonesia tetap terus mengembangkan dan melestarikannya,” pastinya.

Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 219

Simak liputan Kabari dibawah ini