Bagi Isabella Dolly, yoga bukan sesuatu yang direncanakan sejak awal. Semua bermula dari satu keputusan sederhana, mencoba kelas yoga setelah melahirkan anak pertamanya.

Saat itu, ia merasakan tubuhnya kaku dan mudah lelah. “Awalnya hanya iseng ikut yoga, tapi setelah satu sesi saya mulai merasakan tubuh lebih rileks,” kenangnya.

Dari pengalaman sederhana itu, ketertarikannya perlahan tumbuh. Bukan hanya karena perubahan fisik, tapi juga karena sesuatu yang ia rasakan lebih dalam. “Yoga bukan cuma soal gerakan. Ada proses mengenal tubuh, belajar pelan, dan akhirnya lebih peka sama diri sendiri,” ujarnya.

Isabella, yang kini dikenal sebagai praktisi sekaligus pengajar yoga dan pendiri Blossom Studio, melihat yoga sebagai praktik yang terus berkembang bersama diri seseorang. Menurutnya, tidak ada satu pendekatan yang benar untuk semua orang.

“Yoga itu adaptif. Bisa disesuaikan dengan usia, kondisi tubuh, dan kebutuhan masing-masing. Yang penting bukan seberapa sering atau seberapa sulit latihannya, tapi bagaimana kita benar-benar hadir saat melakukannya,” jelasnya.

Di tengah ritme hidup kota besar yang serba cepat, ia melihat yoga sebagai ruang untuk kembali berhenti sejenak. “Kadang kita terlalu sibuk sampai lupa mendengarkan tubuh sendiri. Lewat yoga, kita diajak kembali ke napas, ke tubuh, ke diri kita,” katanya.

Baginya, manfaat yoga tidak selalu datang dalam bentuk yang terlihat. Perubahan kecil seperti tubuh yang terasa lebih ringan, napas yang lebih tenang, atau cara merespons yang lebih sadar, justru menjadi hal yang paling terasa dalam jangka panjang.

Melihat perkembangan yoga saat ini, Isabella menilai semakin banyak orang mulai melirik yoga sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih seimbang. Namun, ia juga berharap praktik ini tidak hanya dilihat sebagai tren sesaat.

“Pada akhirnya, yoga itu tentang hubungan kita dengan diri sendiri. Dan itu sesuatu yang selalu relevan, kapan pun,” ujarnya.

Melalui studio yang ia dirikan, Isabella ingin menghadirkan ruang yang aman bagi siapa saja untuk mulai. Tanpa tekanan, tanpa harus ‘bisa’ terlebih dahulu.

“Tidak perlu lama, tidak perlu sempurna. Mulai saja dulu, dari yang sederhana,” tutupnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini