Amanda Christabelle Liman, penyandang autisme berusia 26 tahun, tumbuh sebagai sosok muda yang mengekspresikan dirinya melalui seni.
Didampingi sang ibu, Ria Hardi, Amanda menemukan ruang untuk berkembang melalui musik dan seni lukis. Kemampuannya bermain piano, keyboard, mulai belajar kecapi, hingga ketertarikannya melukis, menjadi bukti setiap anak dengan kebutuhan khusus memiliki potensi besar yang bisa digali.
Awal Ketertarikan pada Dunia Seni Lukis
Menurut Ibu Ria, kecintaan Amanda terhadap seni sebenarnya dimulai dari musik. Namun, pada usia sekitar 16 tahun, ia mulai diperkenalkan pada dunia lukis melalui les yang diikutinya. “Awalnya Amanda saya leskan melukis, untuk melihat apakah ada ketertarikan di sana,” ujar sang ibu.
Perkenalan Amanda pada dunia lukis semakin dalam ketika salah satu orang tua murid mempertemukan Ibu Ria dengan pelukis Andre Wijaya.

Di bawah bimbingannya, Amanda belajar dasar-dasar seni, meski tidak berlangsung lama karena sang guru harus pindah ke Jogja. Setelah itu, Amanda juga sempat belajar dengan guru lukis Effendi.
Pelajaran pertama Amanda adalah mewarnai dengan rapi dan tidak keluar garis—sebuah latihan penting bagi anak berkebutuhan khusus. Dari latihan sederhana, Amanda mulai menunjukkan respon positif. Ia mulai belajar menggunakan kanvas dan bermain warna.
Tema yang ia pilih banyak berkaitan dengan alam: bunga, pohon, pemandangan, dan terkadang abstrak. “Arah lukisannya lebih ke natural, dan dia sangat suka bermain warna,” jelas Ibu Ria.
Salah satu karya Amanda bahkan sudah diaplikasikan menjadi sarung bantal sofa, karya indah yang lahir dari proses panjang dan penuh ketekunan.
Aktif Mengikuti Pameran Seni
Hingga kini, Amanda telah mengikuti 13 pameran seni, mulai dari Museum Seni Rupa dan Keramik Kota Tua, Bentara Budaya Art Gallery, Tompi Gallery, Gereja Katedral, Hotel Sahid Jaya, Gedung Perpustakaan Nasional, hingga Hadiprana Gallery Kemang. Bahkan, saat pandemi, ia tetap berkarya dan mengikuti pameran secara virtual di Bandung dan Jogja.

Salah satu pengalaman berkesan bagi Ibu Ria adalah ketika lukisan Amanda bertema bunga Tulip diminati oleh beberapa pengunjung yang ingin membeli. “Tapi karena lukisannya belum banyak, kami simpan dulu. Rasanya senang sekali melihat ada yang menghargai karyanya,” kenangnya.
Mengikutsertakan Amanda dalam pameran menjadi momen yang membanggakan bagi Ibu Ria. “Senang, bangga, terharu. Selain musik, ternyata Amanda bisa bersinar juga di bidang seni lainnya,” ujarnya.
Dari seluruh karyanya, lukisan bunga Tulip menjadi yang paling istimewa di mata Ibu Ria. Selain prosesnya yang panjang, karya itu juga menjadi tonggak awal Amanda melukis di atas kanvas.
Pendampingan dari Guru dan Terapis
Lisna Marpaug, guru sekaligus terapis seni Amanda, turut membagikan pandangannya tentang muridnya tersebut. Menurutnya, Amanda memiliki perkembangan yang sangat baik. “Amanda itu suka banget dengan seni, baik musik maupun lukis. Progresnya bagus,” kata Lisna.

Meski kadang mudah terdistraksi, Amanda cenderung kooperatif dan cepat menerima pelajaran. Ia telah belajar berbagai alat musik seperti Piano, Biola, Gitar, dan Kecapi.
Lisna berharap Amanda dapat terus berkembang tanpa tekanan. “Yang penting Amanda fun, menikmati apa yang dia kerjakan, dan bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak special lainnya,” ungkapnya.
Sebagai orang tua, Ibu Ria berharap Amanda dapat terus mengikuti pameran dan memperluas tema-tema lukisannya. Sementara dari sisi musik, sang guru berharap Amanda dapat menikmati proses belajar dan menjadikan seni sebagai ruang untuk tumbuh dan memberi inspirasi.
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 220
Simak liputan Kabari dibawah ini.

