Aroma rempah yang khas langsung menyambut setiap pengunjung Nasi Uduk Betawi Anggrek di kawasan Grand City Depok. Di balik racikan nasi uduk yang kaya rasa itu, ada sosok Belly Novanda, owner yang merintis usaha kuliner ini berangkat dari dapur keluarga dan kecintaan pada masakan tradisional Betawi.

“Nama saya Belly Novanda, saya adalah owner dari Nasi Uduk Betawi Anggrek. Di sini kami menyediakan menu Indonesian food dengan menu utama masakan Betawi seperti Nasi Uduk, Nasi Ulam, dan Lontong Sayur,” ujar Belly.

Keputusan membuka usaha ini berawal dari pengalaman sederhana yang kemudian berkembang menjadi peluang bisnis. Belly mengungkapkan, inspirasi datang dari masakan sang ibu mertua yang memiliki darah Betawi.

 “Awalnya saya mencoba masakan ibu mertua. Waktu datang ke rumah beliau, masak masakan Betawi, lalu saya minta istri saya untuk mencoba masak nasi uduk. Ternyata enak dan bisa dimasak sendiri. Dari situ muncul obrolan, mau enggak kita buka rumah makan Betawi?” kenangnya.

Dari nasi uduk, usaha ini perlahan berkembang. Menu bertambah, mulai dari Lontong Sayur Betawi hingga Nasi Ulam yang juga mendapat respons positif. “Alhamdulillah laku, lalu kita tambah menu lainnya termasuk lauk seperti olahan jengkol, telur, dan ayam,” kata Belly.

Soal dapur, resep menjadi kekuatan utama. Tidak ada kursus khusus, semua lahir dari pengalaman dan kecintaan memasak.

“Resep itu dari istri semua. Istri belajar dari ibu mertua saya, selain itu istri juga hobi masak dan saya kebetulan juga suka masak. Akhirnya kita berani membuka usaha dengan meracik sesuai lidah pasar di daerah sini,” jelasnya.

Meski mengusung identitas Betawi, Nasi Uduk Betawi Anggrek juga menyajikan menu Nusantara. Selain Nasi Uduk, Nasi Ulam, dan Lontong Sayur Betawi, tersedia pula Lontong Kari Medan, Lontong Opor, hingga menu baru Ayam Woku khas Manado. Untuk minuman, teh rosela dan wedang uwuh dari Yogyakarta menjadi pelengkap yang unik. “Sebetulnya ini menu Nusantara, tapi yang utamanya memang masakan khas Betawi,” tuturnya.

Keunggulan utama terletak pada racikan nasi uduknya. “Nasi Uduk Betawi itu lebih berempah. Jadi nasinya tidak putih atau pulen seperti daerah lain, warnanya agak kecoklatan karena rempah-rempahnya lebih banyak,” ungkap Belly.

Dari sisi pemasaran, perjalanan usaha ini juga beradaptasi dengan zaman. Awalnya, penjualan hanya mengandalkan cara offline. Namun pandemi mengubah strategi. “Waktu covid mau tidak mau kita pakai online. Sekarang sekitar 70 persen penjualan dari online karena bisa menjangkau lebih jauh,” katanya.

Meski baru tiga minggu melakukan grand opening di lokasi baru, Belly mengaku tidak menemui kendala berarti. Tantangan justru ada pada menjaga kualitas seiring bertambahnya menu. “Kami masih berkonsentrasi agar kualitas tetap terjaga dengan banyaknya menu yang ada,” ujarnya.

Untuk rencana ke depan, Belly memilih fokus memperkuat usaha yang ada ketimbang membuka cabang. “Saya lebih suka membesarkan yang ada dulu. Menambah cabang itu kendalanya jarak dan kontrol. Jadi saya memilih mengembangkan dengan menambah menu, pelayanan, dan fasilitas,” pungkasnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini.