Fashion designer Migi Rihasalay belum lama ini merilis koleksi terbarunya bertema “Blood”yang ditampilkan dalam ajang Surabaya Fashion Parade.
Koleksi ini bukan sekadar permainan warna dan tekstur, melainkan sebuah narasi mendalam tentang kehidupan, perjuangan, pengorbanan, hingga kematian yang diramu dalam estetika gradasi khas sang desainer.
Menurut Migi, tema “Blood” membawa makna filosofis yang lahir dari perjalanan hidup manusia.
“Kita lahir dengan darah yang mengalir di tubuh. Dalam hidup, ada perjuangan, ada pertumpahan darah dari para pahlawan, ada kehilangan, dan ada kematian. Semua itu saya rangkum dalam koleksi ini,” ungkapnya.

Ia menegaskan warna merah pada Sang Saka Merah Putih menjadi inspirasi kuat, mencerminkan darah dan pengorbanan para pahlawan bangsa.
Ide besar di balik tema “Blood” muncul dari berbagai peristiwa global dan pengalaman personal yang membekas.
Migi menyebut bahwa konflik dunia, termasuk perang yang terjadi sejak 2021, menjadi pemicu refleksi tentang betapa banyak darah yang tertumpah. Selain itu, pengalaman pribadinya saat melahirkan anak juga memberikan perspektif emosional tentang perjuangan dan rasa sakit.
“Melahirkan itu perjuangan sampai titik darah terakhir. Dari situ saya sadar bahwa darah adalah simbol kehidupan sekaligus kehilangan. Begitu banyak pejuang, ibu, hingga korban bencana di dunia ini yang kehidupannya bersinggungan dengan darah,” jelasnya.

Ciri Khas Koleksi: Gradasi Merah hingga Hitam dan Ornamen Berlapis
Koleksi “Blood” hadir dengan ciri utama gradasi warna—identitas visual yang selalu menjadi kekuatan desain Migi Rihasalay. Dalam koleksi ini, ia menggunakan gradasi tiga tingkat warna: merah muda, merah terang, hingga merah tua yang mengarah ke hitam, melambangkan darah yang mengering.
Teknik pewarnaan yang digunakan pun rumit. “Kami memakai tiga cat berbeda untuk menghasilkan gradasi yang halus. Jika hanya satu warna disemprotkan, itu hanya menjadi bercak. Tapi tiga warna ini kami susun sehingga menciptakan layer yang hidup,” ujarnya.
Selain itu, ornamen payet dengan tiga warna senada menjadi detail yang mempertegas dinamika visual koleksi tersebut.
Melihat ke belakang, perjalanan kreatif Migi selalu dekat dengan tema alam dan kehidupan.
Dalam koleksi Oasis, ia menggambarkan harapan di tengah gurun tandus, sebuah metafora tentang titik terang dalam perjalanan hidup. Koleksi Daun mengangkat simbol dasar dari kehidupan, mengingatkan bahwa manusia selalu bergantung pada alam untuk makan, berobat, dan bertahan hidup.

Koleksi Mawar Hitam membawa narasi tentang keindahan di tengah kegelapan. Mawar yang biasanya identik dengan cinta dan keindahan, diubah menjadi simbol ketegaran seseorang menghadapi hidup dalam kegelapan, terinspirasi dari kisah sahabat-sahabatnya.
Di ajang Jember Fashion Carnival (JFC) 2024 bertema Algoritma, Migi menghadirkan koleksi yang memanfaatkan limbah plastik dan kain perca sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Ia bekerja sama dengan para perempuan UMKM untuk mengolah limbah menjadi elemen fashion bernilai seni tinggi.
Harapan Migi untuk Dunia Fashion
Migi Rihasalay berharap setiap koleksi yang ia hadirkan tak hanya memicu kekaguman visual, tetapi juga menyampaikan pesan emosional yang kuat kepada publik. “Alam, geografi, biologi semuanya saling terhubung. Saya ingin pesan-pesan dari karya saya tersampaikan pada dunia. Bahwa seni adalah medium untuk menyuarakan kehidupan,” pungkasnya.
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 220
Simak liputan Kabari dibawah ini

