Dari Ingin Kurus, Audrey Menemukan Keseimbangan Lewat Ashtanga
“Awalnya saya tertarik yoga karena alasan yang sederhana—ingin lebih bugar dan kurus,” ujar Audrey Aristanty mengenang awal perjalanannya.
Namun, seiring waktu, praktik tersebut justru membawanya pada pemahaman yang lebih dalam tentang tubuh dan dirinya sendiri.
Audrey, yang kini dikenal sebagai praktisi Ashtanga Yoga, mulai menekuni yoga secara lebih serius ketika merasakan berbagai keluhan fisik. “Seiring bertambahnya usia, mulai terasa tidak nyaman di tubuh, seperti sakit pinggang. Dari situ saya mulai mencari cara untuk merawat diri,” tuturnya. Ia pun mencoba berbagai kelas yoga, meski pada awalnya masih cenderung memilih gerakan yang terasa nyaman.
Namun, dari situlah ia menyadari sesuatu. “Sering kali justru bagian yang kita hindari adalah bagian yang perlu kita perhatikan—tentu dengan cara yang bertahap dan bijak,” ujarnya.
Titik baliknya terjadi saat ia mengenal berbagai aliran yoga, mulai dari Hatha hingga Vinyasa, sebelum akhirnya menemukan kecocokan dengan Ashtanga. “Ashtanga punya sekuen yang terstruktur dan berulang. Tapi bukan hanya soal urutan gerakan—di dalamnya ada latihan napas, fokus, dan kedisiplinan,” jelas Audrey.
Dalam praktik Ashtanga Yoga, setiap gerakan terhubung dengan napas, sehingga latihan terasa seperti meditasi yang mengalir. “Lewat repetisi itu, saya justru belajar untuk lebih hadir, mengenali pola pikiran, dan lebih peka terhadap tubuh sendiri,” tambahnya.
Bagi Audrey, manfaat yoga tidak berhenti pada aspek fisik. “Kalau dilakukan dengan konsisten, dampaknya terasa ke mental dan emosi. Kita jadi lebih aware, lebih tenang dalam merespons,” ungkapnya. Ia pun menegaskan bahwa perubahan fisik hanyalah efek samping. “Kurus itu bonus, bukan tujuan utama.”
Audrey, yang kini dikenal sebagai praktisi Ashtanga,menekankan pentingnya konsistensi dan hubungan personal dengan latihan. Ia menjelaskan bahwa seiring waktu, praktik Ashtanga justru mendorong seseorang untuk mandiri. “Latihan bisa dilakukan di rumah. Kelas membantu kita belajar dan memahami sekuen, tapi pada akhirnya ini jadi perjalanan personal—bagaimana kita hadir untuk diri sendiri di atas matras,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya mendengarkan tubuh. “Saat tubuh terasa tegang atau tidak nyaman, latihan yang sesuai bisa membantu mengembalikan keseimbangan. Tapi tetap perlu dilakukan dengan kesadaran, bukan dipaksakan,” tambahnya.
Melihat perkembangan yoga saat ini, Audrey mengaku cukup prihatin. Ia menilai minat terhadap yoga di kota besar seperti Jakarta cenderung fluktuatif, seiring munculnya tren olahraga baru. “Mungkin masih banyak yang melihat yoga sebagai tren, bukan sebagai kebutuhan,” ujarnya.
Meski demikian, ia tetap optimistis. Menurutnya, yoga akan selalu menemukan tempatnya ketika orang mulai kembali mendengarkan tubuhnya.
“Yoga membantu kita kembali terhubung dengan diri sendiri—sesuatu yang sering kita abaikan di tengah kesibukan,” tutup Audrey.
Ia pun mengajak siapa saja untuk mulai dari hal sederhana. “Tidak perlu lama, 10–15 menit pun cukup. Yang penting konsisten. Karena ini bukan soal tren, tapi tentang bagaimana kita menjaga keseimbangan hidup.”
Simak liputan Kabari dibawah ini

