Bagi Deiby Shinta Anggia S.Sos, seni komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara di depan umum, melainkan keterampilan hidup yang harus dirawat seumur hidup.

Praktisi komunikasi yang kini menaungi aktivitas profesionalnya di bawah bendera Desta Semesta Anugerah ini dikenal aktif mengajarkan public speaking, service excellent, serta komunikasi efektif kepada berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga profesional korporasi.

“Saya Deiby Shinta Anggia, saat ini saya fokus sebagai public speaking trainer, service excellent, dan komunikasi efektif yang bernaung di company saya sendiri, Desta Semesta Anugerah,” ujarnya membuka cerita tentang perjalanan profesinya.

Dalam setiap sesi pelatihan, Deiby selalu menekankan bahwa strategi komunikasi adalah “rumus” yang bisa digunakan seumur hidup. Namun, rumus tersebut hanya akan bekerja jika fondasi utamanya kuat.
“Yang pertama pastinya kita harus punya rasa percaya diri. Kalau sudah percaya diri, percaya dirinya itu harus 100 persen,” tegasnya.

Menurut Deiby, kepercayaan diri tidak boleh naik-turun. harus stabil dan konsisten karena berkaitan langsung dengan citra diri seseorang.

Selain percaya diri, mindset positif menjadi kunci berikutnya. “Bagaimana kita mau berkomunikasi dengan orang kalau mindset kita negatif? Pikiran harus positif dulu,” katanya.

Setelah itu, barulah teknik berbicara diasah secara teknis mulai dari intonasi, artikulasi, speed power, hingga gestur. “Gestur itu penting, bagaimana cara kita menggunakan tangan dan bahasa tubuh yang baik, tidak boleh ada bahasa tubuh yang negatif,” jelasnya.

Empat Prinsip dan Tantangan

Dalam praktik seni komunikasi, Deiby merumuskan empat prinsip utama yang selalu ia tanamkan kepada peserta pelatihan.

“Yang pertama, kita harus tahu tujuan komunikasi itu apa. Kita mau apa sih berbicara dengan orang?” katanya.

Prinsip kedua adalah mengenali audiens. “Kita harus tahu siapa yang diajak bicara, siapa lawan bicara kita,” lanjutnya.

Ketiga, etika. “Berkomunikasi itu harus dengan sopan santun dan tata cara yang baik.” Dan yang keempat, empati.
“Empati itu kunci. Kita harus tahu apakah lawan bicara benar-benar mengerti apa yang kita sampaikan. Tanpa empati, komunikasi bisa jadi sia-sia,” ungkap Deiby.

Sebagai trainer, Deiby kerap menemukan satu tantangan utama dalam mengembangkan keterampilan komunikasi seseorang: yaitu yang memiliki mindset negatif.

“Kadang komunikasinya sudah bagus, tapi mindset-nya terlalu negatif, jadi tidak bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang sebenarnya mampu berkomunikasi dengan baik, namun terjebak di zona nyaman dan tidak percaya pada potensi diri sendiri.

“Tantangan terbesar dalam mengajarkan komunikasi yang baik kepada seseorang adalah mengubah mindset agar sadar bahwa dia mampu menjadi komunikator yang baik,” tegas Deiby.

Meski sulit diukur secara kuantitatif, dampak dari teknik komunikasi yang diajarkan Deiby terasa sangat nyata.

“Mereka selalu memberikan feedback luar biasa. Ada yang bilang, ‘Kak, sejak training sama DSA saya jadi berani presentasi di kantor,’ atau di kelas,” ceritanya.

Tak jarang, ia juga menerima kabar membahagiakan dari murid-muridnya.

“Anak-anak biasanya bilang, ‘Miss (panggilan murid-murid kepada Deiby), terima kasih ya, aku menang lomba.’ Itu rasanya happy banget,” ujarnya.

Momen Haru

Salah satu momen paling berkesan bagi Deiby adalah ketika ia mendampingi seorang murid dengan speech delay. “Untuk introduce diri saja susah sekali,” kenangnya.

Namun setelah latihan intensif, murid tersebut akhirnya mampu tampil dalam sebuah kompetisi besar dan berbicara di depan audiens yang banyak dengan sangat baik.

“Momen itu bukan soal bagaimana saya mengajarkan, tapi dampak perubahan dalam diri anak tersebut. Mereka sadar bahwa mereka sebenarnya bisa,” ucap Deiby.

Menurut Deiby, seni komunikasi berperan besar baik dalam kehidupan personal maupun profesional.
“Setiap hari kita berhubungan dengan orang lain. Kalau komunikasi kita tidak baik, bagaimana bisa harmonis dengan orang lain?” katanya.

Dalam dunia kerja, komunikasi yang baik menjadi pintu peningkatan karier.
“Kalau hubungan dan komunikasi kita baik dengan atasan dan tim, kinerja otomatis meningkat. Dari situ karier juga akan naik,” jelasnya.

Pesan untuk Generasi Muda

Di akhir perbincangan, Deiby menyampaikan pesan penting bagi generasi muda yang tertarik berkarier di bidang komunikasi.

“Komunikasi itu bukan ilmu yang bisa dianggap enteng. Setiap hari kita membutuhkannya untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain baik secara personal maupun profesional kerja,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar anak muda jangan menjadi komunikator yang asal bicara.

“Harus ada etika, sopan santun, dan tanggung jawab atas apa yang disampaikan,” katanya.

Lebih dari itu, Deiby berharap generasi muda mampu menjadi komunikator yang berdampak.

“Jadilah komunikator yang bisa memberikan inspirasi dan dampak positif. Komunikasi yang baik itu manfaatnya seumur hidup untuk karir dan relasi kita di masa depan,” pungkasnya.

Simak liputan Kabari dibawah ini.