PT Sintanada Music Education sebagai Representative ANZCA di Indonesia terus memperluas akses pendidikan musik berstandard Internasional untuk masyarakat.
Melalui ANZCA (Australian and New Zealand Cultural Arts Limited), Sebuah Lembaga penguji musik berstandard internasional dari Australia, ANZCA menghadirkan berbagai ujian musik yang dapat diikuti oleh semua kalangan—dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Sinta W Mawardi, Direktur Sintanada Music Education, menjelaskan bahwa ANZCA merupakan lembaga penguji musik dengan standard Internasional yang berasal dari Australia.
Sementara itu, Jenny Nababan selaku Coordinator ANZCA Music memaparkan bahwa beragam alat musik dapat diuji melalui ANZCA.
“Semua alat musik mulai dari Piano, Gitar, Drum,Vocal, Saxsophone,Ukulele dll juga bisa ujian. Untuk peserta ujian pun sangat luas: anak-anak yang belajar musik, yang tidak belajar musik atau otodidak, bahkan lansia. Khususnya anak-anak berkebutuhan khusus juga bisa mengikuti ujian ANZCA,” jelasnya.
Penilaian Khusus untuk Anak Berkebutuhan Khusus
Sebagai badan penguji musik internasional, ANZCA memiliki standar penilaian yang sama untuk seluruh peserta. Namun, Sinta menekankan adanya pendekatan khusus ketika menguji peserta ABK.
“Poin-poin penilaian sebenarnya sama, hanya saja penguji ANZCA sangat berpengalaman dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Mereka lebih sabar, lebih adaptif, dan memahami tipe kebutuhan setiap anak,” katanya.
Jenny menambahkan bahwa sejak pendaftaran, informasi mengenai tipe kebutuhan khusus peserta harus disampaikan secara detail—seperti autisme atau down syndrome. Dengan demikian, penguji dapat menyesuaikan pendekatan.
“Jika dibutuhkan, penguji akan meminta guru untuk mendampingi anak saat ujian agar mereka lebih tenang dan percaya diri. Dengan begitu, mereka merasa nyaman dan semakin berminat mendalami musik,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaan ujian ANZCA, banyak pengalaman berkesan yang dirasakan oleh tim penguji maupun penyelenggara. “Banyak anak datang dalam keadaan takut atau bingung, tapi setelah kami melakukan pendekatan, mereka menganggap kami seperti keluarga,” cerita Sinta.
Salah satu hal unik yang sering terjadi adalah bagaimana anak-anak spesial yang awalnya sulit beradaptasi akhirnya merasa diterima. “Ketika mereka keluar dari ruangan, mereka happy dan bahkan rindu untuk kembali mengikuti ujian ANZCA,” tambah Jenny.
Harapan untuk Masa Depan Pendidikan Musik Inklusi
Sebagai representatif ANZCA di Indonesia, PT Sintanada memiliki visi jangka panjang untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus.
“Harapan kami adalah orang tua semakin percaya diri dan semangat melihat anak-anak mereka mampu mengikuti ujian musik bertaraf internasional,” ujar Sinta.
Jenny menutup dengan harapan bahwa semakin banyak ABK dapat memperoleh sertifikat musik internasional yang berguna untuk masa depan mereka. “Kami berharap kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus semakin luas, dan sertifikat ini bisa benar-benar menjadi bekal berarti bagi mereka,” tutupnya.
Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 220
Simak liputan Kabari dibawah ini.

