Perhelatan Asia Fashion (Indonesia) Show yang berlangsung di JIExpo, Kemayoran, menjadi ajang bagi para desainer lokal untuk memperkenalkan karya mereka.

Salah satunya adalah Leny Rafael, fashion designer yang menghadirkan brand Wou Batik by Leny Rafael dalam acara tersebut.

Kehadiran Wou Batik di Asia Fashion (Indonesia) show sekaligus memperkenalkan keindahan kain wastra Indonesia, khususnya batik, dengan sentuhan desain yang modern dan bisa dikenakan oleh berbagai kalangan. 

Leny Rafael mengungkapkan berdirinya Wou Batik berawal dari pertemuannya dengan Anton dalam sebuah forum bisnis. 

Dari obrolan ringan, keduanya menemukan keselarasan visi di bidang fashion hingga akhirnya memutuskan membangun usaha bersama.

“Filosofi utama Wou Batik adalah mengangkat wastra Indonesia, khususnya batik, agar bisa dipakai semua kalangan, baik remaja maupun dewasa, dan bisa dipadupadankan untuk berbagai acara,” ujar Leny Rafael. 

Ia menambahkan inspirasi desain banyak ia peroleh dari pengalaman sehari-hari, perjalanan, hingga interaksi dengan teman dan sahabat yang kemudian dituangkan dalam koleksi busana.

Leny juga menjelaskan ke depan Wou Batik akan menghadirkan koleksi dengan motif batik khas yang menjadi signature tersendiri. 

Untuk pemasaran, Wou Batik menyasar segmen anak muda, pekerja kantoran, hingga ibu muda, dengan harga yang terjangkau sehingga bisa diakses lebih luas.

Tahun ini menjadi kali pertama Wou Batik ikut serta dalam Asia Fashion(Indonesia)  Show 2025.

Leny bergabung melalui undangan Funky Kebaya Community (FKC) untuk mengisi opening ceremony bersama berbagai brand lokal.

“Menurut saya, acara ini sangat luar biasa karena biasanya exhibition lebih sering dilakukan di luar negeri. Kali ini, brand-brand dari Asia, termasuk China, datang ke Indonesia untuk berkolaborasi dan membuka peluang kerja sama dengan desainer lokal,” tuturnya.

Melalui ajang ini, Leny berharap Wou Batik semakin dikenal di Asia, bahkan dunia internasional. Ia ingin brand ini dapat menjadi salah satu kebanggaan Indonesia yang bisa dijadikan buah tangan atau simbol identitas budaya. 

“Harapan saya, Wou Batik bisa semakin berkembang, menjangkau pasar global, dan membuka kolaborasi yang lebih luas lagi di masa depan,” pungkasnya.

Simak wawancara Kabari bersama Leny Rafael dibawah ini

Artikel ini juga dapat dibaca di Majalah Digital Kabari Edisi 217