Impian untuk memiliki rumah menjadi perkara yang tidak sederhana. Peningkatan tajam harga properti setiap tahunnya berdampak signifikan pada keterjangkauan masyarakat terhadap properti, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah. Tidak hanya itu, segmen generasi Millenial dan Z dengan pengalaman kerja dan rata-rata tingkat pendapatan yang relatif kecil harus berpikir berulang kali agar bisa memiliki rumah di usia muda.

UniTrend sebagai platform data di Institute For Policy Development (PolDev) UGM telah melakukan survei nasional untuk menelisik lebih lanjut terkait fenomena ini. Survei dilakukan secara Nasional dengan responden sejumlah 1.192 orang yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

“Kita generasi muda harus bekerja lebih keras, karena rata-rata pertumbuhan tingkat pendapatan yang tidak tumbuh secepat laju harga properti,” tutur Ignatius Ardhana Reswara, Project Manager Unitrend by Poldev. Menurutnya, mereka harus memutar otak untuk dapat membeli rumah bahkan harus mengurungkan niatnya karena harga yang terlampau tinggi. Ibarat peribahasa, “bagai pungguk merindukan bulan”

UniTrend menemukan bahwa 5 dari 10 responden sudah memiliki rumah pribadi. Sedangkan 3 dari 10 responden masih tinggal bersama orangtua atau keluarga, dan 2 dari 10 orang responden memilih untuk mengontrak atau menyewa, atau tinggal di kost atau rumah dinas.

Hampir seluruh responden (96,13%) sepakat bahwa harga rumah pasti akan meningkat dalam lima tahun kedepan. Saat ini pilihan untuk membeli rumah secara tunai (38,31%) ataupun membangun rumah sendiri secara bertahap (35,55%) masih menjadi primadona. Temuan data dari Unitrend menunjukkan 72,5% masyarakat yang siap membeli rumah tidak mendapatkan dukungan finansial dari orang tua. Menariknya, generasi younger millennials lebih banyak mendapatkan bantuan finansial dari orang tua dibandingkan dengan Generasi X, Older Millennials, dan Gen Z. 

Stabilitas finansial menjadi alasan utama membeli/tidak membeli rumah. Sebagian besar masyarakat memiliki kecenderungan untuk menunggu tabungan cukup dulu untuk membeli rumah.

Sebanyak 8 dari 10 orang responden memilih untuk tinggal di perkotaan atau di pinggiran kota dan mayoritas menginginkan membeli rumah secara tunai atau membangun rumah sendiri secara bertahap. Memiliki hunian di perkotaan masih menjadi pilihan utama bagi sebagian orang, hal ini berkaitan dengan kemudahan akses, fasilitas, hingga kepentingan pekerjaan. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan kebijakan industri properti di kawasan perkotaan yang lebih inklusif.

Survei UniTrend  juga menunjukkan adanya kecenderungan masyarakat untuk menghindari sistem kredit dalam membeli rumah. Sebanyak 52,9% masyarakat memiliki preferensi membeli rumah secara tunai, diikuti dengan 22,5% masyarakat yang memiliki preferensi membangun rumah secara bertahap sesuai kondisi finansial mereka. Dengan kata lain, sistem kredit belum menjadi salah satu pilihan terbaik di mata masyarakat.

Bahkan banyak masyarakat yang masih awam dengan sistem kredit rumah yang disediakan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, pebisnis hingga pemerintah perlu meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait berbagai alternatif pembiayaan dalam pembelian rumah.

Menurut Erda Rindrasih, Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, ketidakmampuan generasi milenial merupakan salah satu gejala dari urban sprawl. “Urban sprawl merupakan sesuatu yang excessive; besar, massif, luas. Kalau yang disebut sprawl itu biasanya pertumbuhannya terlalu cepat sehingga menimbulkan masalah”

Salah satu faktor penyebabnya adalah harga commuting, masuk keluar kota dalam satu hari, yang murah. Infrastruktur canggih seperti KRL dan murahnya BBM menjadi pendorong besar harga commuting yang murah. Erda melanjutkan terdapat dampak lain dari urban sprawl seperti turunnya kualitas lingkungan, air tanah, hingga terdampaknya kesehatan mental penduduk.

Harga rumah yang meningkat signifikan diantaranya dipengaruhi oleh ketersediaan tanah yang tidak pernah bertambah di tengah pertambahan penduduk, kenaikan harga bahan bangunan, dan inflasi. Untuk mendapatkan rumah idaman, banyak orang harus menghadapi trilemma: mendapatkan rumah murah dengan lokasi yang tidak sesuai atau sebaliknya, mendapatkan rumah murah namun kualitas yang tidak baik atau sebaliknya, dan ketika mendapatkan rumah dengan kualitas yang baik dan lokasi yang sesuai namun calon pembeli dihadapkan pada harga yang mahal atau uang muka yang besar.

Sumber foto: lamudi.com

Baca Juga: