Kadang ungkapan ‘pemanasan global’ adalah slogan besar tanpa makna. Kalaupun peringatan hari Bumi sering tegas menyatakan selamatkan Bumi kita, sering hanya ungkapan semu yang kegiatannya singkat saja. Kaum pemodal membangun industri tanpa sungguh-sungguh memperhatikan lingkungannya. Kalaupun mereka memiliki program CSR (Corporate Social Responsibility) kadang hanya dilihat sebagai bentuk kedermawanan semata. Bukan sebagai sesuatu yang memang diperlukan oleh lingkungan dan masyarakat sekelilingnya.

Bukan itu yang disikapi oleh Banjarsari. Sebuah kampung kecil di Cilandak Barat Jakarta Selatan. Terletak di ujung jalan Fatmawati. Jalanannya tak lebar. Cukup satu mobil. Kampung dan jalanan yang sama–sama padat dengan kendaraan dan berbagai kegiatannya. Kampung ini menyikapi pemanasan global tidak sebatas slogan, tapi dengan langkah nyata.

Sampai sekarang, masih banyak warga Jakarta yang belum tahu adanya kampung ramah lingkungan di Banjarsari. Padahal kampung hijau ini sudah mendunia. Kampung ini adalah kampung percontohan dan pengelolaan lingkungan melalui partisipasi warga setempat atas bantuan badan dunia , UNESCO.

Jika kita masuk ke perkampungan di sekitar Jalan Banjarsari XI, RT 008 / RW 008, Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, rasanya tidak seperti di Jakarta. Perkampungan yang dihuni oleh sekitar seribu warga itu jauh dari kesan kumuh. Tidak ada parit menganga yang menebarkan bau busuk. Di kampung itu juga tidak kelihatan sampah yang bertebaran. Semua parit sudah ditutup dengan beton.

Di atas parit-parit yang tertutup itu, ribuan tanaman pot ditata sehingga membentuk rerimbunan tanaman. Di kampung itu, di depan pagar setiap rumah, pasti ada tanaman. Meskipun cuma sekadar tanaman lidah buaya atau tanaman lain di sebuah pot kecil. “Kami tidak pernah mewajibkan warga menanam tanaman di depan rumah masing-masing. Itu kesadaran sendiri,” kata Agustin Riyanto, salah warga yang menjadi penggiat “kampung hijau” di wilayah itu. Meskipun tidak ada lahan untuk menanam tumbuhan, warga Kampung Banjarsari memang tidak kehilangan akal. Mereka menggunakan media pot untuk menanam tanaman. Pot-pot yang digunakan bervariasi, mulai dari pot sungguhan, pot yang terbuat dari bekas drum, sampai pot yang terbuat dari bekas air mineral kemasan gelas.

Untuk membuat kesan rimbun, pot-pot itu kemudian dikumpulkan menjadi satu. Diatur sedemikian rupa. Tanaman yang kecil ada di depan, sedangkan tanaman besar di belakang. Atas bimbingan Dinas Pertanian warga mulai memanfaatkan bibit tanaman sumbangan dari dinas pertanian. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT), mereka menanam dan memelihara sejumlah tanaman sayur, buah mangga, belimbing dsb. “Kami diberi penyuluhan mengenai cara memupuk dan menanam tanaman sayuran oleh Dinas Pertanian. Sejak itu, kami memulai untuk terus menjaga kelestarian lingkungan dengan beberapa tanaman hijau,” ujar Agustin.

Kampung yang memiliki lingkungan asri dan bersih ini sangat kontras dibanding kampung lainnya di Jakarta yang umumnya panas, kotor, serta tercemar udara akibat asap kendaraan. Boleh dibilang, Kampung Banjarsari seolah-olah menjadi oase di tengah hutan beton Jakarta.

*Awalnya, bukan sesuatu yang mudah*

Berawal dari tahun 1992. Harini Bambang Wahonolah yang mempeloporinya. Dia juga warga Banjarsari. Harini terdorong menghijaukan lingkungan tempat tinggalnya di Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Usaha yang dilakukannya memang kecil, tapi mampu menarik para tetangganya.

Tak semudah kata, pada awalnya. Kelompok ini mengalami kesulitan dalam menjelaskan niat karena beberapa warga yang buta huruf. Beberapa orang lainnya bahkan tidak tahu arti penghijauan dan tidak mempunyai pengetahuan dasar mengenai kesehatan. Akhirnya Harini memutuskan untuk melakukan pendekatan pribadi secara berhati-hati agar kegiatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan perorangan. Rutinnya pertemuan yang dilakukan membangkitkan kepercayaan tetangganya, yang mendasari langkah selanjutnya dalam kegiatan lingkungan.

Mereka mengikuti jejaknya, dengan membentuk suatu kelompok yang dikenal dengan nama Banjarsari dan terus berkembang tanpa nama resmi. Sekarang kelompok ini bisa memperkerjakan beberapa orang, dengan ketuanya, Harini Bambang. Terdapat beberapa orang kader, yang melakukan peningkatan kesadaran lingkungan di tingkat masyarakat serta relawan. Kegiatan kelompok ini bersifat sederhana dan bertujuan agar lingkungan tempat tinggalnya bebas dari sampah dan penuh tanaman. Mereka mendaur-ulang sampah, pengomposan sampah organik, serta menanam pohon.

Tak salah jika tahun 1996 UNESCO memilih Banjarsari sebagai lokasi proyek percontohan pengelolaan limbah rumah-tangga, dengan penekanan pada konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Dalam kenyataanya mereka juga melakukan 4R (Replanting / penghijauan). Kurangnya dana menghambat kelancaran kegiatan. Anggaran tahunan kegiatan mereka tidak lebih besar dari Rp. 50 juta, meskipun mendapat dukungan dari UNESCO. Namun, pengumpulan dana melalui penjualan produk daur-ulang dan kompos, iuran anggota dan iuran pelatihan telah menjadi sumber pendapatan tetap. Inilah yang membuat kelompok masyarakat ini mampu menopang dirinya sendiri.

Untuk melakukan pengembangan kegiatan pengelolaan sampah, sejak 2001, UNESCO dan Kampung Banjarsari meminta bantuan Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (P3TL-BPPT). Mereka melakukan pembinaan yang berkelanjutan dari aspek teknologi dan manajemen persampahan. Kegiatan utama pengelolaan sampah dimulai dengan pengomposan dan penanaman tanaman obat dan penghijauan lingkungan. Produk kompos dijadikan pupuk tanaman di kebun tanaman obat, pot, dan taman warga. “Dampaknya sangat positif, Kampung Banjarsari kini berubah menjadi kampung ramah lingkungan. Sepanjang kampung itu terlihat hijau dan sejuk oleh tanaman yang tumbuh subur di dalam pot grabah, wadah plastik bekas, drum, dan kaleng bekas,” kata Sri Bebassari, peneliti senior masalah sampah BPPT. Kampung Banjarsari tetap melakukan penghijauan dan pengelolaan sampah meski saat ini sudah dilepas oleh UNESCO.

Kegiatan pengomposan dan daur ulang sampah anorganik yang dilakukan mampu menurunkan volume sampah yang dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hingga 50%. Kegiatan tersebut juga akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan menjual kompos, produk daur ulang. Produk daur ulang yang mereka jual adalah taplak meja dari sedotan, bunga plastik, bingkai foto.

Selain mengolah sampah, mereka juga menanam tanaman obat untuk penghijauan lingkungan. Awalnya tanaman obat yang ditanam berjumlah 20 jenis dan kini mencapai hingga 150 jenis. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan telah berhasil melahirkan kader-kader lingkungan baru sebanyak 55 orang (25 wanita dan 30 remaja). Pola hidup masyarakat kini berubah, dimana 60% warga Banjarsari telah mengikuti pola hidup yang sehat dan ramah lingkungan.

Usaha dan aktivitas yang dilakukan warga Banjarsari telah membawa wilayah Banjarsari sebagai sekolah dan laboratorium pengelolan sampah terpadu bagi pelajar, tokoh masyarakat, anggota DPR/DPRD, bahkan tamu mancanegara. Pada tahun 2000, Dinas Pariwisata menetapkan Banjarsari sebagai daerah tujuan wisata.

Atas kerja keras yang dilakukan, Harini Bambang dinobatkan sebagai penyelamat lingkungan. Kampung Banjarsari sendiri telah menerima banyak penghargaan, diantaranya Kalpataru (2001), Juara II piala Adipura (2007), dan taman gantung di salah satu rumah memenangkan Juara I lomba penghijauan lingkungan permukiman. (_Indah_)

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?36575

Untuk melihat artikel Utama lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_______________________________________________________________

Supported by :


About The Author

2 Responses

  1. ekomono

    saya mengalami masalah pembuangan sampah rumah tangga, dmn dapat belajar bikin kompos ya….. kalo ada yg berkenan sms saya di. 02170307299, tks

    Balas

Leave a Reply

Your email address will not be published.


1 × sembilan =