KabariNews – Di tahun 1995, dengan tujuan mengambil alih kepemimpinan Fortune Magazine, yang memang pada saat itu sangat dibutuhkan perubahan susunan, editor terkemuka John Huey mengatakan kepada staffnya, “Mulai sekarang, orang-orang tidak akan diberikan penghargaan untuk jumlah kehadiran yang lengkap.”

Maksud Huey adalah bahwa penulis, wartawan,  dan editor kini akan dinilai oleh kualitas karya mereka—bukan oleh sebagaimana pagi mereka tiba di meja mereka, sebagaimana larut mereka tetap bekerja, atau bahkan apakah mereka datang sama sekali. Ia bukan berbicara tentang telecommuting, yang memang bukan sebuah hal yang terkenal saat itu. Namun bisa saja ia telah membahas itu.

“Dari tahun 2009, ketika bekerja remote masih merupakan hal yang baru, 40% dari 386.000 karyawan global IBM telah bekerja dari rumah.” — Quartz

Saya memikirkan ucapan itu setiap kali pertanyaan tentang telecommuting muncul—seperti beberapa minggu yang lalu. Itulah ketika IBM, yang telah berpuluh tahun mendorong bekerja dari rumah, memutuskan untuk memerintahkan 2.600 pekerja remote dalam departemen marketing mereka untuk “berbagi lokasi” secara fisik ke satu dari setengah lusin kantor di seluruh A.S.

Jika Anda ingin membaca satu cerita tentang pemikiran menarik yang menjadi pilihan IBM, silahkan baca tulisan Quartz ini, yang dirilis bahkan sebelum beritanya keluar. Intisarinya, menurut cerita tersebut: Jika pekerjaan Anda melibatkan pengulangan yang cepat, pengambilan keputusan berdasarkan data, dan brainstorming, tidak ada yang bisa menggantikan bekerja bersama secara langsung.

Namun, banyak riset telah menyimpulkan bahwa telecommuting bagus bagi karyawan, baik bagi perusahaan, dan sebuah hal yang menguntungkan bagi lingkungan. Menurut Catatan Kondisi Telecommuting Tenaga Kerja Karyawan 2017 terbaru:

  • 3,9 juta karyawan A.S, atau 2,9 persen dari total tenaga kerja A.S, bekerja dari rumah setidaknya setengah dari seluruh waktu mereka, sebuah kenaikan 115 persen sejak tahun 2005.
  • Telecommuter rata-rata berusia 46 tahun ke atas, memiliki setidaknya sebuah gelar sarjana, dan menghasilkan median gaji lebih tinggi dari seorang pekerja kantoran.
  • Kurang lebih populasi wanita dan pria yang melakukan telecommuting
  • Telecommuting lebih sering dilakukan oleh karyawan di atas usia 25 dan paling banyak oleh generasi Baby Boomers.
  • Dalam lebih dari setengah wilayah metro terbesar di A.S., telecommuting melampaui transportasi publik sebagai pilihan angkutan pulang-pergi kerja.

Harvard Business Review mengatakan bahwa pekerja remote cenderung lebih produktif daripada pekerja kantoran dan lebih banyak disukai. Lalu Los Angeles Times membahas sebuah kasus yang bagus bahwa telecommuting, dibanding transportasi massa, akan menjadi keuntungan besar untuk mendapat akses udara yang lebih bersih—dan tren itu hanya akan meningkat ketika pekerja informasi pindah dari kota-kota ramai yang mahal ke wilayah yang lebih jarang dijangkau.

Ah, namun tentu ada sisi lain dari masalah ini. Peter Cappelli, seorang profesor teori manajemen di Wharton, mengatakan bahwa untuk bekerja dari rumah atau tidak adalah pertanyaan rumit yang hanya dapat dijawab dalam basis kasus per kasus. Ia berkata bahwa telecommuting bermula di Silicon Valley, di mana solusi teknis digunakan untuk menanggung masalah lalu lintas yang buruk. Namun sepanjang tahun, banyak pemain terkemuka di Valley—dari Google hingga Yahoo—telah menahan itu dan membuat lingkungan kerja yang sangat menarik (makanan gourmet, memanjat dinding, klab kesehatan, pod tidur, tempat pijat) yang mendorong orang-orang untuk tidak tetap tinggal dalam ruangan mereka. Untuk telecommuting belakangan ini, Cappelli mengatakan: “Apakah sebuah hal yang baik atau buruk? Jawabannya adalah, tergantung.”

“Orang-orang lebih produktif jika mereka sendiri, namun mereka lebih kolaboratif dan inovatif ketika bersama.” — Marissa Mayer, mantan CEO, Yahoo!

Itu cocok dengan apa yang teman saya David, yang memiliki sebuah tim insinyur di perusahaan baru di Silicon Valley, sudah observasi sejak lama. Ia mengatakan banyak dari masyarakatnya maju saat bekerja dari rumah, sementara lainnya—bahkan terutama programmer yang hebat—terkadang memiliki keterampilan komunikasi yang kurang untuk mencari bantuan ketika mereka terjebak, dan dapat menjadi bingung ketika bekerja dari rumah.

Steve Jobs, yang tidak diketahui sebagai manager yang sensitif, meskipun begitu berhasil untuk menarik hal-hal hebat dari pekerja-pekerjanya. Ia percaya bahwa ide-ide terbaik datang dari kesempatan pertemuan secara langsung. Ia memastikan bahwa kamar mandi di Pixar ditempatkan semenarik mungkin untuk memaksimalkan pertemuan yang menguntungkan antara pekerja-pekerja dari departemen yang berbeda. Saya sempat mengunjungi Dreamworks, di Los Angeles, dan takjub melihat mereka memiliki feed video HD yang terus dipasang, yang menghubungkan sebuah ruang konferensi ke ruangan lain dalam kantor Redwood City di Clifornia Utara. Sementara itu bukanlah sebuah contoh telecommuting, komunikasi video tersebut sangatlah lancar, saya rasa saya sedang berasa di dalam ruangan konferensi yang sama dengan 500 orang yang bermil-mil jauhnya. Mungkin mereka memerlukan sebuah video yang terhubung ke kamar mandi.

Sebagaimana baik Slack, Zoom, dan alat telecommuting kini, sebagian besar dari kita masih mengalami hambatan yang disebabkan oleh bandwidth rendah dan teknologi murah.

Saya akan mengaku bahwa saya banyak meminta maaf karena bekerja dari rumah. Memang, Hukum Telecommuting Pertama Quittner mengatakan bahwa kepercayaan seseorang dalam keuntungan dari bekerja dari rumah sebanding dengan angka jarak seseorang bekerja dari kantor. Dalam kasus saya, itu adalah 45 mil—sebuah 90 menit perjalanan pulang-pergi yang membawa saya ke seberang Jembatan Golden Gate dan menghadapi kemacetan lalu lintas San Fransisco yang luar biasa serta pejalan kaki lamban yang membenci pengendara mobil, terus menuju Palo Alto, di mana kemacetannya lebih buruk lagi.

Namun, meski saya mengakui bahwa terkadang, cara terbaik dan tercepat untuk menghasilkan kemajuan dengan sebuah kelompok adalah dengan pergi ke kantor. Sesuatu akan terjadi ketika orang-orang berhadapan mata ke mata, bersahut-sahutan mengutarakan ide-ide mereka yang nampaknya hanya dapat terjadi dalam interaksi secara langsung. Namun saya selalu berharap bahwa teknolodi telecommuting yang lebih baik nantinya akan membetulkan itu.