Nn,meninggalkan masa lalunya setelah kegagalan rumahtangganya.. Ia menetap di Amerika dan menikah dengan pria sana. Namun, tinggal di kawasan terpencil, membuatnya dan anaknya kesepian amat sangat. Perkawinannya harus diselamatkan, namun kesepian tak terobati. Berikut kisah yang ia tuturkan ke Kabari.

Aku tidak pernah menyangka akan menetap di Amerika. Banyak tantangan yang aku hadapi hingga kini. Kesepian menjadi masalah utama yang aku hadapi.

Aku lahir di Salatiga 39 tahun lalu. Kerjaku dulu sebagai pramugari disebuah maskapai penerbangan. Pekerjaanku membuat aku sering melanglang dunia. Hampir tiap minggu aku mendapat tugas melayani penumpang tujuan luar negeri. Namun, itu tidak lama. Satu atau dua hari di tempat tujuan, aku kembali ke Indonesia. Nah, setelah aku menikah, mau tidak mau aku mengikuti suamiku.

Aku kenal dengan suami yang sekarang, ketika mengunjungi Universal Studio tahun 2003. Saat itu, kebetulan aku baru menyelesaikan tugas melayani penumpang tujuan California. Ketika berkenalan, kami sama-sama tengah menghadapi persoalan perkawinan yang berbuntut perceraian. Kegagalan perkawinan pertama tidak membuatku putus asa untuk kembali membangun rumah tangga.

Setelah bercerai dari suamiku 2004, aku pergi ke Amerika selama dua bulan. Pulang kembali ke Indonesia menemui anakku dari perkawinan pertama. Saat itu anakku baru berusia tiga tahun.

Di benakku masih ingin membina keluarga lagi, hanya saja tempatnya harus berbeda dan jauh. Ditempat yang jauh, aku berharap bisa memulai sesuatu yang baru. Dengan keberanian yang aku miliki, aku menerima pinangan lelaki yang kini menjadi suamiku. Kami menikah 11 Agustus 2005.

Aku sudah mempersiapkan diri menghadapi situasi terburuk. Hidup prihatin secara materi, jauh dari anak, sanak famili dan handai taulan.

Di San Fransisco aku menempati sebuah rumah yang cukup baik, lengkap dengan sebuah mobil. Persoalan justru muncul dari situasi tempat tinggalku yang terlalu sepi. Perumahan yang aku pilih relatif baru. Suasananya tenang sekali, jauh dari keramaian lalu lintas. Di belakang perumahan terhampar bukit. Kalau lagi beruntung, bisa melihat satu dua ekor sapi lewat dengan lenguhannya. Tetangga kanan kiri sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehingga dari pagi hingga kembali pagi suasana sekitar perumahan benar-benar sepi.

Beda sekali dengan perumahan di Indonesia yang ada tukang bakso lewat,  penjual sayur,  roti keliling. Pembantu rumahtangga sering terlihat “nongol-nongol” dipagar, Satpam lalu lalang, menjadikan lingkungan terasa ‘hidup’.

Sesekali aku ingat tempat kelahiranku, Salatiga, Jawa Tengah. Dikampung, kerap aku dibuat kesal setiap kali tetangga yang setel musik dangdut keras-keras. Tapi, sekarang… Kangen aku terhadap tetanggaku yang menyebalkan itu.

Bagi kebanyakan masyarakat Amerika suasana sepi seperti ini tidak masalah. Mereka justru sengaja mencari tempat sepi. Cuma aku saja yang feel stranger. Meskipun aku bukan tipe orang yang senang dengan ramai-ramai, tapi situasi ini benar-benar membuatku bosan.

Suasana sepi semakin terasa karena suami harus pergi pukul 5 pagi dan baru pulang sesudah pukul 7 malam. Setiap akhir pekan, aku harap-harap bisa berkumpul bersama suami. Ternyata ini sulit terwujud karena di akhir pekan dia bekerja dengan saudaranya sebagai realtor (jual beli rumah).

Rasa sepi itu coba aku halau dengan mencari rekan-rekan dari Indonesia.Beberapa saat, cara tersebut berhasil. Terkadang aku diundang berkunjung ke rumah mereka. Di sana tidak jarang mereka sudah menyiapkan makanan khas Indonesia, seperti gudek. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, karena mereka mengharapkan aku untuk menjadi anggota Gereja mereka. Padahal aku tidak terlalu tertarik. Selain dengan orang Indonesia, aku juga berkenalan dengan masyarakat perantauan dari negara lain seperti dari China, Kamboja, Jepang dan Afrika.

Karena anakku masih terlalu kecil, aku belum bisa meninggalkan dia untuk berkerja di luar rumah. Sesekali aku membawanya jalan-jalan naik bus atau trem keliling San Fransisco. Barulah setelah dia masuk ke pre school aku bisa ambil kelas bahasa Inggris di adult school. Kebetulan tempatnya berseberangan dengan sekolah anakku.

Kesenangan baru ini tidak berlangsung lama karena aku hamil. Seperti kehamilan pertama, aku mengalami sindrom hamil. Sewaktu kehamilan pertama, aku masih dikelilingi keluarga dan orang-orang dekat. Sedangkan sekarang, hanya Lega yang menemaniku. Aku merasa bersalah pada Lega, karena selama hamil aku nyaris selalu sakit sehingga si sulung kurang mendapat perhatian.

Puncak Kesepianku

Setelah anakku yang kedua lahir, rasa sepi terus mengcengkram. Aku juga mulai melihat puteraku kesepian juga. Sepulang sekolah hanya menonton TV, tidak ada teman sepermainan seperti masa kecilku dulu. “Mami, mami..aku bosan ! Mami aku bosan !” serunya kepadaku.

Aku seorang yang tegar, kalau boleh aku bilang. Aku tidak mau hanya berhenti pada menangis tanpa berusaha mengatasinya. Seringkali aku bertengkar dengan suami karena situasi ini. Hingga akhirnya, kami sepakat, aku mau pulang dulu ke tanah air bersama anak-anak. Seandainya dalam tiga bulan liburan summer aku merasa baik-baik saja, aku akan kembali lagi ke Amerika. Tapi, jika aku masih sulit mengatasi kesepian ini, suami memperbolehkan aku tinggal di Indonesia lebih lama lagi, sekitar tiga atau empat tahun. Keputusan ini mengundang protes beberapa kenalan kami dengan berbagai alasan. Tapi mereka tidak merasakan apa yang kami alami tiap hari. I am going insane rasanya… dan aku tidak mau itu terjadi !

Suamiku bisa memahami dan mau berkorban “pisahan” sebentar. Dia juga sebenarnya khawatir jika hal ini terus dipendam situasinya akan semakin buruk.Toh, setiap tahunnya aku harus pulang untuk memperbarui green card.

Pertimbangan kami, di Indonesia si bungsu bisa dirawat dengan lebih baik hingga sedikit besar. Selain itu kakaknya akan sekolah di Indonesia dan akan memiliki teman yang banyak. Aku hanya ingin anak-anakku punya masa kecil yang indah. Aku berharap keputusan ini bisa membuat situasi kami menjadi lebih baik dalam menjalani  bahtera rumahtangga…

Untuk Share Artikel ini, Silahkan Klik www.KabariNews.com/?2626

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


dua × = 18