Nunur tak pernah menyangka bahwa ada satu hari yang paling kelam dalam hidupnya. Hari dimana suaminya, Heri menjadi korban kerusuhan Mei 1998 dan ditemukan hanya sebentuk potongan tubuh yang gosong tanpa kepala dan kaki.

Nunur menceritakan kenangannya saat kerusuhan itu berlangsung dan kronologis kejadian. “Kalau nggak salah kejadiannya hari Rabu siang, 13 Mei 1998,” ia memulai kisah.

Suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko mebel kecil di samping Mall Jogja, di daerah Klender, pulang ke rumah mereka, di kawasan Duren Sawit, sekitar pukul 12 siang.

“Dia pulang, terus mandi. Saya lalu keluar rumah sambil nyuapin anak saya yang bungsu,” kisah Ibu dari Hendrik dan Rara.

Pada saat itu Hendrik, anaknya yang besar kelas 2 SD dan Rara, yang kecil baru berusia 2 tahun. Kebiasaan Rara waktu itu memang makan di luar rumah sambil jalan ke sana ke mari.

“Selesai nyuapin Rara, saya masuk lagi. Anak saya yang paling gede lagi nonton TV, terus saya tanya, bapak kemana?’ dia jawab ‘Nggak tahu, Ma, tadi keluar’,” kata Nunur menirukan dialognya kala itu.

Pada saat itu, pikirannya hanya berkata bahwa Heri sedang berjualan obat-obatan produk CNI, pekerjaan sambilan yang selama ini dijalaninya.

Tanpa curiga apa-apa, Nunur pun menjalani aktivitasnya kembali. Hingga ia ketiduran pukul 10 malam. “Pada saat tidur itulah saya bermimpi suami saya mendatangi saya dengan pakaian robek-robek dan ada bercak noda darah di bajunya,” kenang Nunur.

Nunur terbangun sekitar pukul 01.00 dinihari. Saat itu, ia menyadari bahwa suaminya belum kunjung pulang. Kecemasan mulai menyergap hati Nunur, karena sebelumnya belum pernah Heri pulang selarut ini. Meski demikian, Nunur tak bisa berbuat apa-apa karena saat itu dini hari yang sepi.

Barulah keesokan harinya, kecemasan Nunur semakin menjadi karena sang suami belum kunjung pulang. Akan tetapi, ia belum tahu jua soal kerusuhan yang terjadi di Mall Jogja yang telah terjadi sejak Rabu siang. “Saya gak sempat lihat televisi,” katanya. Bahkan, ia tidak tahu bahwa api masih berkobar hebat di lantai dua dan lantai tiga pusat pebelanjaan itu hingga pukul tiga dini hari.

Pukul delapan pagi, seorang tetangga melintas di depan rumah Nunur. Ia lalu menanyakan keberadaan Heri. Saat tahu bahwa Heri belum pulang dari kemarin siang, tetangga itulah yang kemudian memberi tahu Nunur bahwa bahwa di Mall Jogja telah terjadi kerusuhan hebat, “Coba liat disana Nur, ada banyak mayat, ratusan.” kata Nunur menirukan ucapan si tetangga.

Namun, Nunur tak mau mentah-mentah menelan informasi itu. Ia punya keyakinan bahwa suaminya pergi meninggalkaan rumah bukan hendak ke tempat pekerjaannya di dekat Mall Jogja melainkan jualan CNI. Lagipula dalam benak Nunur, suaminya yang mendatangi ia dengan pakaian robek dan noda darah itu adalah karena jatuh dari sepeda. “Maklum dia punya kebiasaaan pergi dengan sepeda kemana-mana,” kata Nunur.

Meski demikian, kecemasan terus menyergapnya. Pukul 10 pagi, suaminya tak kunjung tiba, Nunur mulai resah. Lalu ia mulai mencari suaminya ke beberapa rumah sakit seperti RS Pondok Kopi dan RS Persahabatan.

“Waktu itu keukeuh (berkeras hati,red) nggak mau cari ke Mall Jogja. Biarpun tetanggga-teatangga menganjurkan kesana. Saya ngga punya firasat apa-apa bakal ditinggal suami waktu itu,” kata Nunur.

Lelah mencari di RS yang tak kunjung berhasil, Nunur akhirnya menyerah. Maka ditemani kakaknya ia pun pergi ke kawasan Klender tempat suaminya bekerja di dekat Mall Jogja. Disana ia dikejutkan dengan melihat sepeda suaminya. “Saya kaget. Dan mulai ada keyakinan bahwa suami saya kesini.

Karena panik, saya ditemani kakak mendatangi orang pinter (semacam dukun, red). Orang pinter itu juga kasih petunjuk kalau suami saya memang ada di sekitar tempat kerusuhan waktu peristiwa itu terjadi, ”kata Nunur. Meski begitu, orang pinter yang didatangi Nunur masih memberi harapan. “Mudah-mudahan suami ibu pulang dengan selamat,” katanya.

Nunur pun pulang dengan membawa sebongkah harapan itu. Namun, sampai sore suami yang dinanti ternyata tak kunjung tiba. Maka pada pukul 19.00 WIB, ditemani salah seorang kerabatnya, Nunur pergi ke RS Cipto Mangunkusumo.

“Soalnya dapat info jam segitu mayat-mayat sudah pada dibawa ke Cipto,” katanya. Sepanjang jalan menuju rumah sakit Nunur melihat bayangan bentuk suaminya yang gosong. “Ada bayangan yang ngikutin, bentuknya ya nggak karuan, hancur dan gosong,” kenang Nunur pahit.

Sepanjang jalan menuju RSCM ia juga disuguhi pemandangan yang tidak mengenakan. Mobil terguling, mobil bekas dibakar, semuanya bertebaran di sepanjang jalan. “Saya bener-bener merinding. Sempat membatin juga, mengapa Tuhan ciptakan kehidupan yang seperti ini,” katanya.

Sampai di RSCM, Nunur segera memburu kamar mayat tempat para korban kerusuhan. Namun, diakuinya, ia tak sampai ‘ngobrak-ngabrik’ potongan-potongan tubuh manusia yang telah menjadi mayat itu. “Barangkali karena sepanjang jalan itu bayangan potongan tubuh suami saya ngikutin terus,” katanya.

Setelah diperlihatkan satu persatu, pada potongan tubuh hangus ke-3, Nunur yakin itulah jasad suaminya. “Waktu dia keluar rumah, dan saya lagi nyuapin anak saya yang kedua, saya ngga tahu dia pakai baju apa. Tapi begitu melihat potongan tubuh pake kaos putih dan ada logo CNI-nya saya yakin itu suami saya,” katanya.

Lagipula, bayangan potongan tubuh manusia yang membayanginya sepanjang perjalanan ke RSCM memang persis dengan potongan tubuh yang ketiga yang ia jumpai di RSCM.

“Barangkali suami saya kirim pertanda atau apa,” katanya sendu. Hal lain yang membuatnya tambah yakin adalah celana dalam yang kenakan suaminya berwarna hijau dan sangat dikenalinya. Waktu ia menemukan mayat suaminya hanya berupa potongan tubuh dari leher, kemudian sebelah lengan dan tangan yang gosong, perut paha, hingga lutut (tanpa bagian kepala dan kaki).

Perempuan berjilbab dan berkacamata ini nampak tegar saat menuturkan kenangannya kehilangan suaminya tigabelas tahun yang lalu. Namun, emosinya nampak tak tertahankan saat bercerita tentang reaksi anak tertuanya, Hendrik.

“Saat mayat almarhum dibawa, anak saya yang pertama menjerit, semuanya menangis dan anak sayalah yang paling histeris,” sampai di bagian ini air mata Nunur menitik, matanya memerah dan sembab. “Hanya anak saya, Rara biasa aja. Dia belum mengerti apa-apa,” kata Nur sendu.

Saat ini, anaknya yang tertua sudah kuliah, sedangkan anak bungsunya, kelas 3 SMP. Menurutnya, siapapun yang membuat suaminya seperti itu, dirinya tak akan mendendam. “Saya sudah memaafkan, siapapun orangnya. Namun saya tak bisa lupakan kejadian itu,” ucapnya mengakhiri pembicaraan.

Untuk share artikel ini klik www.KabariNews.com/?36742

Untuk melihat artikel Kisah lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

_____________________________________________________

Supported by :


About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


6 + sembilan =