Agung dan meriah. Dua kata itu mewakili suasana prosesi pernikahan Gusti Raden Ajeng (GRA) Nurastuti Wijareni yang bergelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR)
Bendara, putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X berlangsung selama 4
hari. Semua prosesi pernikahan adat Jawa dilaksanakan termasuk
ritual-ritual khusus yang ada di keraton. Semua proses pernikahan ini
menjadi cuplikan sejarah tradisi Keraton Yogyakarta yang hidup dan bisa
dinikmati masyarakat, sejak tanggal 16 -19 Oktober.

Pernikahan putri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara(25) dengan Kanjeng Pangeran Harya (KPH)
Yudanegara (Achmad Ubaidillah) bukan saja kegembiraan bagi keluarga
Sultan, namun bagi seluruh rakyat Yogyakarta. Bagaimana tidak.
Pernikahan itu membuat masyarakat Yogya ikut berbenah menyambutnya.
Sudut kota dibersihkan dan dihias. Bahkan, pada malam dimulainya seluruh
prosesi upacara, rakyat menggelar pesta rakyat.

Pesta itu berupa adanya pertunjukan seni dari masyarakat untuk
masyarakat Yogya. Juga 200 angkringan yang menyediakan makanan gratis di
sepanjang jalan Malioboro. Adanya angkringan itu bukan berasal dari
keraton. Masyarakat Yogyalah yang menyediakannya untuk dimakan bersama
sebagai bentuk persembahan dan kegembiraan mereka bagi pernikahan agung
itu.

Kesultanan Yogya berbenah. Upacara pernikahan yang dilakukan, adalah
upacara pernikahan adat keraton lengkap dengan beberapa tambahan upacara
yang agak berbeda dengan pernikahan anak Sultan sebelumnya.

Perbedaaan itu terletak pada dua hal. Pertama adalah upacara
Pelangkah. Upacara ini dilakukan karena calon pengantin mendahului
kakaknya, GRAj Nurabra Juwita yang belum menikah, sehingga diperlukan
upacara ini. Perbedaan kedua adalah, ketika pengantin akan menuju ke
pelaminan. Tidak dilakukan dengan berjalan kaki, namun pengantin
perempuan digendong (dipondong) oleh pengantin pria dan seorang kerabat
keraton. Hal ini dilakukan karena sang pengantin pria berasal dari adat
yang berbeda dengan sang wanita (sang pengantin pria berasal dari
Lampung). Menantu Sultan sebelumnya, seluruhnya berasal dari Jawa. Putri
sulung GKR Pembayun menikah dengan KPH Wironegoro, GKR Condrokirono menikahi KRT Suryokusumo, dan GKR Maduretno menikah dengan KRT
Purboningrat. Upacara ini bermakna, bagaimana sang pengantin pria harus
menjunjung tinggi adat pengantin wanita yang memiliki derajat tinggi.

Reni- panggilan GKR Bendara, telah menyelesaikan Bachelor of Arts di bidang hospitality di Swiss. Tahun ini juga, salah satu mantan finalis kontes Putri Indonesia ini akan menempuh pendidikan Master-nya di Inggris. Sedangkan Ubay – panggilan akrab KPH Yudanegara, adalah seorang biasa yang bekerja pada Sekretariat Wakil Presiden. Ubay lulusan Akademi Pemerintahan (APDN) dan menyelesaikan pendidikan Master di bidang ilmu pemerintahan.

Awal dari seluruh prosesi adalah upacara pelangkah (melangkahi/mendahului). Seperti diterangkan sebelumnya, GKR
Bendara (anak kelima Sultan) mendahului kakaknya, GRAj Nurabra Juwita
(anak ke empat) yang belum menikah. Tebusan pelangkahan adik kepada sang
kakak berupa uba rampe. Dalam uba rampe yang dibawa dengan menggunakan
dua nampan dan satu bokor kuningan itu, terdapat pakaian sak pengadeg
(bawahan hingga atasan), sepatu, tas, dan dompet. Selain itu, diserahkan
satu paket pisang sanggan yang terdiri atas pisang raja dua tangkeb,
suruh ayu, gambir, kembang telon, dan benang lawe.

Pada hari kedua atau tanggal 17 Oktober, kedua calon mempelai (GKR Bendara dan KPH
Yudanegara) telah menjalani prosesi siraman. Prosesi ini dilakukan di
dua tempat yang berbeda. Bangsal Kesatryan untuk pria dan di bangsal
Keputren untuk calon pengantin wanita. Air yang dipakai untuk siraman
diambil dari tujuh mata air yang ada di lingkungan keraton. Prosesi
tersebut mengandung arti, agar keharuman bunga siraman meresap ke tubuh
calon pengantin hingga menjadi harum tubuhnya. Sehingga kelak membawa
keharuman nama keluarga.

Malamnya juga dilakukan tantingan, yakni Sultan Hamengku Buwono X
bertanya kepada putrinya akan keyakinan, kemantapan dan kesiapan hati
untuk menikah. Acara tersebut disaksikan ibu pengantin putri, GKR Hemas, beserta keluarga. Hadir pula petugas KUA
Kecamatan Kraton serta para abdi dalem. Upacara ini berlangsung amat
khidmat dan haru, karena sang ayah menanyakan keyakinan putrinya untuk
menikah.

Setelah itu digelar malam midodareni yang diiringi tabuhan gamelan
Nguyu-uyu dari Bangsal Srimaganti. Midodareni berasal dari kata Widodari
atau bidadari yang memiliki makna, calon pengantin putri menunggu
datangnya bidadari turun ke bumi. Tradisi ini berasal dari legenda Jaka
Tarub dan Nawang Wulan. Dalam prosesi ini diyakini kecantikan alami dari
calon pengantin wanita akan muncul.

Dalam prosesi itu pengantin putri dibawa ke Bangsal Sekar Kedaton didampingi GKR
Pembayun dan harus terjaga hingga tengah malam. Saat akan melaksanakan
midodareni, calon penganten putri juga diberi petuah-petuah dan nasihat
serta doa-doa. Pada hari itu, di sekitar Keraton dan Bangsal Kepatihan
para abdi dalem(pegawai kraton) juga memasang tarub (semacam peneduh
yang diberi hiasan janur) untuk upacara panggih (ketemu) dan resepsi.
Mereka memasang janur kuning, pisang, tebu, padi dan uborampe yang
merupakan tradisi asli Jawa.

Akad nikah dilakukan tanggal 18 Oktober. Sultan Hamengku Buwono X sebagai ayah GKR Bendara menikahkan putrinya dengan KPH Yudanegara di Masjid Panepen, Keraton Yogyakarta dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sejumlah perhiasan.

Usai akad nikah, kedua pengantin diarak dari Keraton Yogyakarta
menuju Kepatihan menggunakan Kereta Kanjeng Kyai Jatayu. Di sinilah,
sepasang pengantin akan diperkenalkan kepada masyarakat Yogyakarta.
Kereta pengantin juga diiringi kereta-kereta lain yang membawa kerabat
serta prajurit keraton. Ada kereta keraton bernama Permili yang
mengangkut para penari yang akan tampil di hadapan tamu undangan di
Kepatihan.

Upacara terakhir adalah upacara resepsi pernikahan. Upacara ini
tampak sangat agung karena semua pihak yang terlibat, baik pengantin,
kerabat dan sebagian besar tamu mengenakan baju adat Jawa. Presiden RI,
Susilo Bambang Yudhoyono dan hampir seluruh pejabat negara juga hadir
pada upacara puncak itu. Bahkan para wartawan yang meliputpun diharuskan
memakai baju ala abdi dalem untuk menyelaraskan acara.

Pernikahan Agung Keraton Yogyakarta Hadiningrat sangat meriah.
Terlihat bahwa Raja dan seluruh anggota keluarga keraton sangat dicintai
masyarakat Yogyakarta. Pilihan GKR Bendara
menikah dengan orang di lingkungan luar keraton menunjukkan, bahwa
keraton Yogyakarta telah membuka diri pada banyak hal di luar keraton.

(Indah)

Untuk share artikel ini, Klik www.KabariNews.com/?37521

Untuk melihat artikel Khusus lainnya, Klik di sini

Mohon beri nilai dan komentar di bawah artikel ini

______________________________________________________

Supported by :



About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published.


tujuh + = 13