KabariNews – Peneliti Human Right Watch (HRW) Andreas Harsono mengatakan situasi di Jakarta pasca vonis Ahok terkait kasus penodaan agama.

Menurutnya, suasana Jakarta saat ini  terbagi menjadi dua, para pendukung Ahok merasakan sedih, dan kecewa atas penahanan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan mereka berpencar melakukan aksi untuk memberikan dukungan terhadap Ahok.

“Ada sebagian orang yang sedih, marah, khawatir dengan ditahannya Ahok, mereka pergi ke balai kota, mereka juga pergi ke tahanan di mana Ahok berada,” ujar Andreas saat wawancara dengan Kabari.

Di Balai Kota (Balkot) misalnya, dimana tempat itu mendadak berubah susana yang mengharukan, sebelumnya diketahui bahwa balkot merupakan tempat untuk mengadu warga kepada Gubernur DKI (Ahok) dengan segala macam permasalahan yang dirasakan warga DKI, namun setelah Ahok masuk bui, balkot mendadak ramai dengan hadirnya para aksi solidaritas untuk bernyanyi sebgai bentuk dukungan terhadap Ahok. Massa yang memadati balkot pada minggu pagi tersebut membawakan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dan lagu – lagu nasional lainnya seperti Garuda Pancasila, Rayuan Pulau Kelapa, yang dipimpin oleh musisi kawakan Addie MS.

“Pada pagi pertama sesudah Ahok ditahan itu ada banyak orang datang dan menyanyi lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu Garuda Pancasila, dipimpin oleh Addie MS, “ terang Andreas

Selain di Balai Kota, para pendukung Ahok pun terbagi gelar aksi dukungan untuk Ahok di tempat penahanannya di Cipinang.

Wakil Gubernur Djarot Syaiful Hidayat pun otomatis mengambil alih tugas Ahok menjadi Plt Gubernur saat ini, Djarot merasakan kesedihan ketika orang nomor satu di Jakarta yang sangat dikaguminya harus ditahan karena kasus penodaan agama, “ Dia sempat bicara dan menangis ketika bicara soal Ahok maupun keadaan Indonesia pada umumnya, “ cerita Andreas.

Pada rabu malam para pendukung Ahok melakukan aksi menyalakan lilin menyatakan dukungannya terhadap Ahok dan keadilan di tanah air, sekitar 1000 hingga 1500 lilin dinyalakan di Tugu Proklamasi Jakarta.

Dalam aksi tersebut para pendukung Ahok meminta pencabutan pasal penodaan agama di Indonesia, menanggapi hal ini, Andreas mengatakan, “Karena ini hukum yang jelek dan banyak disalahgunakan hanya untuk kepentingan politik, mereka khawatir bila pasal ini tetap ada, yang bukan hanya akan digunakan terhadap Ahok, tapi juga orang-orang lain, termasuk mungkin Rizieq Shihab, ketum FPI, daripada saling balas membalas, lebih baik pasal itu dihentikan, “ ungkapnya.

Menurut Andreas, situasi yang terbelah dua ini tidak hanya di kota Jakarta,  namun banyak juga solidaritas Ahok menggelar aksi menyalakan lilin di berbagai daerah, misalnya di Bali dan Manado, atas situasi seperti ini, ia khawatir ini menunjukkan Indonesia yang makin terbelah.