KabariNews – Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat ini menjadi tokoh yang fenomenal. Dugaan penistaan agama yang menyeretnya ke meja hijau, membuat pria asal Bangka Belitung menjadi perbincangan. Ada yang pro dan anti Ahok.

Menurut tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Taufik Damas  memilih pemimpin berbeda keyakinan sebenarnya hanya persepsi sebagian orang yang meyakini bahwa umat Islam tidak boleh memilih pemimpin dari non muslim. Namun tidak semua umat Islam berpikiran seperti itu. “Karena kalau kita berbicara landasan teologisnya pun masih menjadi perdebatan, dan kita tetap menghargai orang yang berpendapat seperti itu,” ujarnya.

Para pendiri Negara ini telah sepakat bahwa Pancasila dan UUD 1945 sudah menjadi acuan kehidupan bagi  bangsa dan Negara Indonesia. Dalam artian setiap orang menyadari bahwa siapa pun yang hidup di bumi pertiwi, meski berbeda agama, suku, berhak menjadi calon pemimpin di Indonesia, bupati, gubernur hingga Presiden.

Ada anggapan sebagian orang bahwa tidak boleh memilih pemimpin kafir. Namun argumen tersebut dinilai kontroversial. Dijelaskan Taufik, pada dasarnya arti kafir merupakan kalimat yang jika dibicarakan mengandung makna yang masih kontroversi.

“Ada sebagian orang yang mengatakan kafir itu adalah orang di luar Islam, secara otomatis itu kafir, tapi kalau kita kembali kepada Al-Quran, mengkaji kalimat kafir dengan berbagai definisinya itu tidak selamanya mengacu pada orang-orang diluar Islam, tapi lebih mengacu kepada sifat orang-orang agamanya apapun. Jadi kafir itu sifat orang yang menutupi kebaikan, menutupi kebenaran dan menyembunyikannya, kemudian dia melakukan itu demi keuntungan pribadi atau kelompok, itu adalah orang-orang yang kafir, “ jelas Taufik.

Dalam Al-Quran sendiri dinyatakan bahwa orang non muslim, seperti Kristen, atau Yahudi disebut ahlul kitab. Jika seseorang disebut kafir karena orang tersebut menentang kebenaran, makna kafir yang sebenarnya adalah orang yang menentang kebenaran.

“Jadi orang yang menentang kebenaran, menutupi kebenaran, menyembunyikan kebenaran atau memanipulasi itu sebenarnya maknanya kafir, dan ini tidak harus diartikan selalu bermakna eksatologis, itu juga sebenarnya bisa diartikan secara sosiologis bahwa orang yang kafir itu orang yang hidupnya merugikan orang lain, “ imbuhnya.

Dalam undang-undang di Negara Indonesia tidak ada aturan yang menyatakan  bahwa memilih pemimpin harus orang yang beragama Islam. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan bahwa  setiap warga Negara berhak maju menjadi  pemimpin.

Isalm pada dasarnya adalah rahmat bagi alam semesta, namun kita juga tidak memungkiri bahwa ada sebagian umat yang tidak mampu menegaskan sifat rahmat.

“Sifat rahmat itu adalah Lil ‘Alamin, Alamin itu sifatnya ekspansif, kalau dalam Bahasa Arab artinya seluruh mahluk alam, baik itu manusia, baik itu tumbuhan, baik itu hewan, kalau kita berbicara atau ke khazanah Islam, sikap yang diajarkan kepada nabi, bukan saja kepada manusia, kepada tumbuhan dan hewan, kita juga harus memiliki sikap yang menunjukkan sikap kita itu sebagai orang yang memilki kasih sayang antar sesama mahluk, “ ungkap Taufik.

NU mengajarkan bahwa hubungan antar manusia adalah hubungan persaudaraan dengan artian mengenal tiga konsep persaudaraan , yakni Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antar sesama muslim), Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan dengan non muslim), Ukhuwah Basyariyah (Persaudaran dengan orang luar negeri non muslim). Persaudaraan sesama manusia adalah harus menghargai, mencintai orang lain atas dasar ikatan sama-sama manusia. “Jadi tidak ada orang yang bisa kita musuhi, kecuali orang-orang yang zhalim, lalim, yang menghendaki ketidakbaikkan dalam hidupnya,” tutup Taufik. (Kabari1008/foto:1008)